Kunjungan Kerjasama  Tim Peneliti Thermoelektrik BRIN ke FMIPA UM

Kunjungan Kerjasama Tim Peneliti Thermoelektrik BRIN ke FMIPA UM

FMIPA UM – Pada tanggal 3 Oktober 2024, Kunjungan Kerjasama BRIN dan FMIPA UM dilaksanakan sebagai tindak lanjut dari Perjanjian Kerjasama (PKS) terkait Divais Termoelektrik Generator untuk Konversi Energi Baru Terbarukan. Tim Periset dari Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) melakukan kunjungan tersebut di FMIPA UM.

Bertempat di Ruang Sidang Dekanat FMIPA UM, Dr. Eng. Budi Prawara, Kepala Organisasi Elektronika dan Informatika (OREI) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) beserta tim periset dari Kelompok Riset Termoelektrik dan Superkapasitor Pusat Riset Elektronika diterima langsung oleh Dekan FMIPA UM.

Dekan FMIPA memberikan apresiasi kepada Tim Periset. Ia menghargai kesediaan mereka untuk hadir di FMIPA UM. Selain memperkenalkan para Peneliti FMIPA, Prof. Dr. Hadi Suwono, M.Si juga memperkenalkan para Adjunct Professor FMIPA.

Beliau menekankan bahwa riset merupakan bagian penting dari bisnis utama di FMIPA UM. Harapannya, dengan kedatangan Tim BRIN khususnya tim periset dari Kelompok Riset Termoelektrik dan Superkapasitor Pusat Riset Elektronika, dapat ikut mengembangkan kerjasama riset  dan meningkatkan kuantitas dan kualitas penelitian di FMIPA UM.

Dr. Eng. Budi Prawara, selaku Kepala OREI BRIN, setelah memperkenalkan anggota Tim Periset menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan Kunjungan Kerjasama balasan dan tindak lanjut setelah penandatanganan PKS antara BRIN dengan FMIPA UM.

Beliau menawarkan program matching fund bersama dengan FMIPA UM, khususnya seputar sensor berbasis kapasitor. Hal ini didasarkan sebagai Upaya untuk mendukung kebijakan Pemerintah yang sedang mengembangkan ekosistem semikonduktor khususnya untuk pengembangan sensor yang kompetitif, misalnya sensor untuk deteksi demam berdarah dll.
Di samping itu, Dr. Budi Prawara juga ada menyampaikan adanya potensi pengembangan Kerjasama yang lain yang melibatkan program lain di luar fisika.

Kunjungan UM dan UTM ke Konservasi Mangrove Pulau Kukup

Kunjungan UM dan UTM ke Konservasi Mangrove Pulau Kukup

Departemen Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang (UM) melakukan kunjungan ke Pulau Kukup, Johor Bahru, Malaysia pada 7 September. Kegiatan ini diikuti oleh 2 dosen dan 13 mahasiswa dari UM, serta 2 dosen dan 8 mahasiswa dari Universiti Teknologi Malaysia (UTM). Tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya pelestarian lingkungan, terutama ekosistem bakau, yang merupakan salah satu penyangga utama ekosistem pesisir.

Pulau Kukup adalah salah satu konservasi mangrove terbesar di dunia yang tidak berpenghuni. Pulau ini memiliki ekosistem unik yang sangat penting bagi kelestarian lingkungan global. Selama kunjungan, para peserta diajak untuk melihat secara langsung bagaimana ekosistem mangrove berfungsi sebagai habitat bagi berbagai spesies hewan laut dan burung migran. Selain itu, mereka juga diberikan penjelasan mendalam tentang peran penting mangrove dalam mengurangi dampak perubahan iklim melalui penyerapan karbon dioksida (CO2).

Untuk menuju ke Pulau Kukup, para peserta menaiki perahu dari pelabuhan terdekat. Setibanya di pulau, mereka mengikuti tur yang dipandu oleh pemandu lokal yang memiliki keahlian dalam ekosistem mangrove dan budaya setempat. Pemandu tersebut menjelaskan keanekaragaman hayati di pulau dan tantangan yang dihadapi dalam upaya pelestarian mangrove.

Konservasi mangrove di Pulau Kukup berkontribusi terhadap beberapa tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), terutama SDG 13 tentang tindakan terhadap perubahan iklim dan SDG 14 mengenai kehidupan di bawah air. Mangrove tidak hanya berperan penting dalam mitigasi perubahan iklim dengan menyerap karbon, tetapi juga menjadi habitat bagi berbagai spesies laut yang krusial untuk menjaga keseimbangan ekosistem pesisir.

Dengan adanya kunjungan ini, diharapkan para peserta dapat memahami lebih dalam tentang pentingnya pelestarian mangrove dan menerapkan pengetahuan ini di lingkungan masing-masing. Kegiatan semacam ini juga diharapkan dapat membangun kolaborasi antara institusi pendidikan dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang isu lingkungan yang mendesak.

Dosen FMIPA UM Melaksanakan Penelitian Tentang Ekologi Tumbuhan Pala Jawa dengan Dana Hibah Internasional Keidanren dari Jepang

Dosen FMIPA UM Melaksanakan Penelitian Tentang Ekologi Tumbuhan Pala Jawa dengan Dana Hibah Internasional Keidanren dari Jepang

Dosen FMIPA UM melaksanakan penelitian ekologi Pala Jawa di Pulau Sempu pada tanggal 27-29 Agustus 2024. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki faktor-faktor ekologi yang memengaruhi kehidupan dan pertumbuhan tumbuhan Pala Jawa, yang kini berstatus terancam punah.

Selanjutnya, tiga orang dosen FMIPA UM terlibat dalam kegiatan ini. Mereka adalah Prof. Dr. Fatchur Rohman, M.Si dan Mardiana Lelitawati, S.Si., M.Si. dari Departemen Biologi, serta Indra Fardhani, S.Pd. M.Sc. M.I.L., Ph.D. dari Departemen Pendidikan IPA. Mereka melaksanakan pengambilan data di Pulau Sempu, Jawa Timur.

Selain itu, penelitian ini juga melibatkan tiga peneliti dari Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi – BRIN. Mereka adalah Sri Een Hartatik, M.I.L., M.Sc., Ph.D. selaku ketua tim, Dr. Enny Widyati, dan Sugeng Budiharta, Ph.D. Kerja sama ini bertujuan untuk menyelidiki ekologi tumbuhan Pala Jawa (Myristica teysmannii Miq.), yang kini berstatus terancam punah.

Di sisi lain, Pala Jawa adalah salah satu spesies tumbuhan langka yang hanya ditemukan di beberapa wilayah Indonesia. Oleh karena itu, kondisi alam Pulau Sempu menjadi habitat penting bagi kelangsungan hidup spesies ini. Dalam penelitian ini, tim peneliti fokus pada faktor-faktor yang memengaruhi pertumbuhan dan reproduksi Pala Jawa. Ini mencakup iklim, kondisi tanah, serta interaksi dengan flora dan fauna setempat. Dengan demikian, data yang dikumpulkan diharapkan dapat menghasilkan strategi konservasi yang efektif, baik secara in situ (di habitat asli) maupun ex situ (di luar habitat asli).

Lebih lanjut, penelitian ini didanai sepenuhnya oleh Keidanren Nature Conservation Council (KNCC) dengan hibah sebesar 980.000 yen atau sekitar Rp 100 juta. Di samping itu, dukungan penuh juga datang dari BBKSDA Jawa Timur. Mereka memberikan izin dan menyediakan berbagai fasilitas untuk memperlancar kegiatan di lapangan.

Melalui penelitian ini, FMIPA UM berkontribusi nyata dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs). Fokusnya adalah tujuan ke-15 yaitu “life on land,” yang berkaitan dengan konservasi dan keberlanjutan ekosistem daratan. Diharapkan bahwa hasil penelitian ini juga akan membuka peluang untuk penelitian lanjutan. Ini akan mencakup potensi tumbuhan Pala Jawa dalam bidang farmasi, pangan, dan lainnya.

Kuliah Umum Biokonservasi Tumbuhan Langka Pulau Jawa

Kuliah Umum Biokonservasi Tumbuhan Langka Pulau Jawa

Kuliah Umum Biokonservasi Tumbuhan Langka Pulau Jawa: Langkah Penting Pelestarian Keanekaragaman Hayati Indonesia

                   Narasumber dan seluruh peserta kuliah umum berpose bersama

Malang, 13 September 2024 – Departemen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Malang (UM) sukses menyelenggarakan kuliah umum bertema “Biokonservasi Tumbuhan Langka Pulau Jawa” pada Jumat (13/9). Acara ini menghadirkan dua narasumber utama, yaitu Mokhamad Nur Zaman, S.Si., M.Ling., Koordinator Program Forum Pohon Langka Indonesia (FPLI), dan Dr. Iyan Robiansyah, peneliti BRIN sekaligus anggota FPLI. Kuliah umum ini diadakan di Gedung Kuliah Bersama (GKB) F-MIPA UM dan dimoderatori oleh Maisuna Kundariati, M.Pd., mahasiswa S3 Pendidikan Biologi UM.

Tujuan utama kuliah umum ini adalah untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya melestarikan tumbuhan langka dan endemik di Pulau Jawa. Acara ini diikuti oleh mahasiswa UM yang menempuh mata kuliah Biokonservasi, Ekologi dan Manajemen Lingkungan, serta Pengelolaan Sumber Daya Alam dari jenjang S1 hingga S3. Tidak hanya terbatas pada mahasiswa UM, acara ini juga terbuka untuk umum, sehingga turut dihadiri peserta dari kampus lain.

Dalam sambutannya, Prof. Dr. Fatchur Rohman, M.Si., selaku dosen yang mengampu mata kuliah tersebut, menegaskan akan pentingnya konservasi sumber daya alam sebagai bentuk pelestarian kekayaan alam yang dimiliki Indonesia. Menurutnya, konservasi ini merupakan salah satu manifestasi pencapaian tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), di mana aksi konservasi melalui program yang dinisiasi oleh FPLI turut memainkan peran penting.

          Sesi sambutan oleh Dosen mata kuliah Biokonservasi, Prof. Dr. Fatchur Rohman, M.Si.

Mokhamad Nur Zaman memulai sesi presentasi dengan mengenalkan sejarah berdirinya FPLI pada tahun 2016 di LIPI Cibinong, serta memaparkan berbagai program yang telah atau akan dilakukan untuk melestarikan tumbuhan langka di berbagai daerah. Ia juga menjelaskan bahwa FPLI turut menjalin kerja sama pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat dengan sejumlah universitas, seperti Universitas Sebelas Maret, Universitas Sumatera Utara, UIN SAIZU Purwokerto, Universitas Tanjungpura, Universitas Kuningan, Universitas Brawijaya, dan disusul dengan Universitas Negeri Malang. Nur Zaman berharap para pemuda, khususnya mahasiswa, dapat mengenali tumbuhan lokal di daerah mereka dan berperan aktif dalam pelestariannya.

Penyerahan sertifikat dari FPLI, yang diwakili oleh Mokhamad Nur Zaman, S.Si., M.Ling. kepada Departemen Biologi FMIPA UM, yang diwakili oleh Prof. Dr. Fatchur Rohman, M.Si. sebagai apresiasi atas penyelenggaraan kuliah umum biokonservasi tumbuhan langka Pulau Jawa

Dr. Iyan Robiansyah, dalam materinya yang berjudul “Konservasi Tumbuhan Terancam Kepunahan di Indonesia: Malang, Jawa Timur”, menjelaskan tentang definisi konservasi, status tumbuhan terancam punah, serta ancaman dan keanekaragaman tumbuhan di Indonesia. Ia juga menyoroti pentingnya menjaga tumbuhan endemik dan langka di Pulau Jawa, terutama di wilayah Malang. Menurut Dr. Iyan, degradasi lingkungan dan alih fungsi lahan adalah ancaman terbesar bagi keanekaragaman hayati. Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa kerja sama berbagai pihak, baik pemerintah, akademisi, maupun masyarakat, sangat dibutuhkan dalam upaya konservasi.

Acara ini berlangsung sangat interaktif dengan antusiasme tinggi dari para peserta. Banyak pertanyaan kritis yang diajukan kepada narasumber, menunjukkan ketertarikan dan kesadaran yang semakin meningkat di kalangan mahasiswa mengenai isu pelestarian biodiversitas. Dengan terselenggaranya kuliah umum ini, diharapkan para peserta dapat lebih memahami urgensi pelestarian tumbuhan langka, sekaligus tergerak untuk berperan aktif dalam menjaga keanekaragaman hayati, baik di Pulau Jawa maupun di wilayah lainnya.

Penulis: Moh. Usamah, S.Pd., Mahasiswa S2 Pendidikan Biologi UM

Program Studi Magister Matematika UM terakreditasi Unggul

Program Studi Magister Matematika UM terakreditasi Unggul

Dalam rangka meningkatkan lingkungan perguruan tinggi berkelanjutan dan mewujudkan ketahanan pangan di area kampus, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Malang melakukan panen ubi jalar pada 5 Juli 2024.
Kegiatan ini dilaksanakan langsung oleh Dekan FMIPA, Prof. Dr. Hadi Suwono, M.Si bersama dengan jajaran tim Green Campus FMIPA UM. Diharapkan kegiatan ini dapat mendukung capaian tujuan SDGs 2 (No Hungry) dan 15 (Life on Land) serta berdampak kepada ekosistem lingkungan.

Bagasse Abundance Processed into Mushroom Medium

Bagasse Abundance Processed into Mushroom Medium

COMMUNITY SERVICE: Biotechnology FMIPA UM consist of lecturers and students train empowerment and fFamily welfare women to make mushroom medium from bagasse.

The community service team from Universitas Negeri Malang (UM) has long been dedicated to empowering rural communities through innovative and sustainable practices. The training session in Kebonduren Village, which focused on creating mushroom medium from bagasse, is a prime example of this commitment. Bagasse, a byproduct of sugarcane processing, has been largely overlooked despite its potential. By teaching local women how to repurpose it into a valuable resource, the team not only addressed a waste management issue but also provided the community with a new source of income.

During the training, the participants learned about the nutritional benefits of mushrooms and the economic advantages of cultivating them. Mushrooms are rich in protein, fiber, and essential nutrients, making them a healthy addition to the local diet. The women were shown step-by-step how to prepare the bagasse as a growing medium, inoculate it with mushroom spores, and maintain the ideal conditions for growth. The hands-on approach ensured that each participant could confidently replicate the process at home.

In addition to the practical training, the session included discussions on the broader implications of their work. The team emphasized how this initiative aligns with global efforts to achieve Sustainable Development Goals (SDGs). By reducing waste, promoting sustainable agriculture, and fostering economic growth, the project supports the community in multiple ways. The women expressed their excitement about the potential to turn this new skill into a small business, which could significantly impact their families’ livelihoods.

Looking ahead, Ratna Juwita Ph.D and her team plan to continue supporting the women of Kebonduren Village. They aim to provide further guidance on business development, marketing, and scaling up production. The ultimate goal is to create a sustainable and profitable enterprise that can serve as a model for other rural communities. With the skills and knowledge gained from the training, the women of Kebonduren Village are now better equipped to contribute to their local economy while also promoting environmental sustainability. The positive survey feedback has encouraged the team to expand similar training sessions to other villages in the region, ensuring that more communities can benefit from these innovative approaches.

Encouraging Kebonduren Residents To Engage In Entrepreneurship: Turning Pineapple Peels Into Tepache Drinks To Support SDGS 3, 7, 8, And 15

Encouraging Kebonduren Residents To Engage In Entrepreneurship: Turning Pineapple Peels Into Tepache Drinks To Support SDGS 3, 7, 8, And 15

A team of lecturers and students from the Biotechnology Study Program, Faculty of Mathematics and Science Universitas Negeri Malang (UM) conducted a training session on making tepache drinks from pineapple peels in Kebonduren Village, Ponggok District, Blitar Regency. The event, held on Saturday (13/7) at the Kebonduren Village Office, was attended by empowerment and family welfare. This activity supports SDGs 3, 7, 8, and 15.

Mrs. Sukarman, the head of empowerment and family welfare, expressed that this training was highly anticipated as it provided new ideas to the empowerment and family welfare women for innovating with the abundant and easily accessible pineapples in Kebonduren Village. Up until now, pineapples in Kebonduren Village have only been consumed as fresh fruit, with the unsold ones used as livestock feed, thus ensuring sustainable land ecosystem utilization, maintaining a clean environment, and being affordable (supporting SDGs 7 and 15). Therefore, the community service team, led by Ratna Juwita, Ph.D., innovated by turning pineapple peels into tepache drinks, which are popular among all age groups and can be enjoyed at any time. “This tepache drink can maintain digestive health, making it good for daily consumption, supporting SDG 3,” she said.

The tepache drink-making training from pineapple peels also provided new entrepreneurial ideas, opening up job opportunities and boosting economic growth, especially in Kebonduren Village (supporting SDG 8). The empowerment and family welfare women of Kebonduren Village, were very enthusiastic about the training and guidance, as evidenced by the many questions posed by the training participants. Each participant received a brief tutorial on how to make tepache drinks from pineapple peels. Ratna hopes that after the training, the empowerment and fFamily welfare women can practice it at home and that it can eventually become a small business product of Kebonduren Village. “We also provided samples of our self-produced tepache on a small scale to all training participants,” she added. Ratna also hopes that this training activity can enhance the skills of empowerment and family welfare women in Kebonduren Village. “From the survey results filled out by the participants, it shows positive feedback, as they feel they have gained additional skills with new knowledge they had never known before,” she concluded.

Chat