Oleh: Hasminar Rachman Fidiastuti
Mahasiswa S3 Pendidikan Biologi, Universitas Negeri Malang
Peserta Program Joint Supervision
“Kolaborasi internasional bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan fondasi utama bagi perguruan tinggi yang ingin melompat ke tingkat reputasi global.”
Di tengah percepatan agenda globalisasi pendidikan tinggi, Universitas Negeri Malang (UM) terus menunjukkan komitmennya untuk tidak sekadar mengikuti arus, tetapi menjadi penggerak utama transformasi akademik. Salah satu wujud nyata dari komitmen tersebut adalah pelaksanaan Program Joint Supervision yang didanai penuh oleh skema strategis Join Supervision – LPDP, di bawah koordinasi Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat UM.
Program ini dirancang untuk menjawab lima tujuan strategis sekaligus, yaitu: (1) meningkatkan kolaborasi riset internasional mahasiswa pascasarjana dengan peneliti asing bereputasi; (2) menghadirkan staf asing untuk join supervision, riset bersama, dan publikasi bersama; (3) mengintegrasikan nilai-nilai global Sustainable Development Goals (SDGs) dalam riset dan pendidikan tinggi; (4) memperkuat kapasitas institusi serta melahirkan lulusan pascasarjana unggul dan kompetitif; dan (5) mendorong peningkatan peringkat UM di The Impact Rankings dan QS WUR.

Sumber: Dokumentasi Pribadi (2026)
Kolaborasi Strategis bersama Pakar Internasional dari UKM
Puncak dari rangkaian program ini adalah kunjungan akademik Profesor Madya Ts. Dr. Mohd. Effendi @ Ewan Mohd Matore, seorang peneliti senior dari Fakulti Pendidikan, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Beliau dikenal luas memiliki kepakaran dalam bidang pengembangan instrumen, analisis psikometrik dan evaluasi untuk konteks pendidikan abad 21. Kehadiran Prof. Effendi tidak hanya bersifat seremonial, tetapi secara substantif terintegrasi dalam tiga aktivitas utama:
- Guest Lecture: *Situational Judgment Test (SJT) 2026 – ERA Global Giants Shifting to Scenario-Based Hiring*
Pada Selasa, 5 Mei 2026, bertempat di Aula FMIPA UM, Profesor Madya Ts. Dr. Mohd. Effendi @ Ewan Mohd Matore menyampaikan kuliah tamu yang dihadiri mahasiswa S2 dan S3 dari Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Dengan judul materi yang sangat kontekstual—*”Pengembangan Instrumen dalam Pendidikan: Situational Judgment Test (SJT) 2026 ERA Global Giants Shifting to Scenario-Based Hiring“*—beliau menjelaskan bagaimana raksasa industri global saat ini beralih dari tes berbasis pengetahuan faktual menuju skenario berbasis solusi. SJT, menurut beliau, memungkinkan penilaian terhadap kompetensi adaptif, etika profesional, dan kemampuan pengambilan keputusan dalam situasi kompleks—sesuatu yang sangat relevan untuk lulusan pendidikan biologi yang akan bekerja di laboratorium riset, lembaga konservasi, maupun industri bioteknologi.

Sumber: Dokumentasi Pribadi (2026)
Keberhasilan seseorang di dunia kerja tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik atau teknis, tetapi juga oleh kemampuan non-kognitif seperti etika, komunikasi, empati, pengambilan keputusan, dan adaptasi. SJT dapat mengukur kemampuan-kemampuan tersebut melalui simulasi situasi nyata di tempat kerja. SJT banyak digunakan pada seleksi mahasiswa kedokteran, tenaga kesehatan, guru, manajer, pegawai perusahaan, pelayanan publik, dan profesi profesional lainnya.

Sumber: Dokumentasi Pribadi (2026)
- Forum Group Discussion (FGD) : Rasch Analysis for Advanced Instrument Validation
Guest Lecture dilanjutkan dengan sesi yang lebih intensif dan teknis: Forum Group Discussion bertema Rasch Analysis. FGD ini diikuti oleh mahasiswa pascasarjana yang sedang menyelesaikan disertasi berbasis pengembangan instrumen. Dalam sesi yang berlangsung selama 3 jam, Prof. Effendi membimbing peserta secara langsung menggunakan perangkat lunak Winsteps untuk memvalidasi butir soal, menganalisis person-item map, mendeteksi differential item functioning (DIF), serta menafsirkan logit value dalam kerangka objective measurement. FGD ini dirancang untuk membekali peserta dengan keterampilan praktis yang langka ditemukan di kelas reguler.
- Diskusi Supervisor Khusus: Pendampingan Disertasi Mahasiswa
Pada hari kedua, Rabu, 6 Mei 2026, suasana berubah menjadi lebih personal dan mendalam. Profesor Madya Ts. Dr. Mohd. Effendi @ Ewan Mohd Matore meluangkan waktu khusus untuk berdiskusi dengan mahasiswa yaitu Hasminar Rachman Fidiastuti, sebagai mahasiswa S3 Pendidikan Biologi yang berpartisipasi penuh dalam program joint supervision.
Diskusi berfokus pada:
- Analisis Rasch dalam rangka strategi validasi instrumen, serta
- Strategi publikasi internasional bereputasi Q1/Q2 dengan menyasar jurnal dengan scope yang sesuai.
Beliau memberikan apresiasi terhadap orisinalitas topik riset yang dikembangkan bersama Prof. Dr. Sri Rahayu Lestari, M. Si dan Dr. Sitoresmi Prabaningtyas, S.Si., M.Si, sekaligus memberikan koreksi kritis terhadap teknik penskalaan rating scale yang sebelumnya masih menggunakan pendekatan klasik.

Sumber: Dokumentasi Pribadi (2026)
Integrasi SDGs: Dari Dokumen Menuju Aksi Lapangan
Salah satu kekhasan program joint supervision ini adalah kewajiban mengintegrasikan nilai-nilai SDGs secara eksplisit dalam setiap luaran riset. Tidak sekadar menjadi kalimat di bab pendahuluan, tetapi hadir dalam:
- Desain metodologi yang inklusif dan berkeadilan.
- Indikator capaian yang terukur terhadap target global (misal: 4.7 tentang pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan).
- Rencana diseminasi yang melibatkan komunitas guru biologi di daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal).
Pendampingan ini membuka wawasan bahwa riset seorang mahasiswa S3 tidak boleh berhenti sebagai dokumen akademik. Riset dapat menjadi titik awal perubahan nyata—baik dalam kebijakan kampus, praktik pembelajaran, maupun kesadaran publik.
Memperkuat Kapasitas Institusi dan Reputasi Global UM
Direktur Pascasarjana UM dalam sambutan penutupan kegiatan menyatakan bahwa program joint supervision ini merupakan salah satu pilar peta jalan internasionalisasi UM menuju 2030. Dengan hadirnya pakar seperti Profesor Madya Ts. Dr. Mohd. Effendi @ Ewan Mohd Matore, UM secara sistematis membangun:
- Ekosistem kolaboratif antara promotor lokal (Prof. Dr. Sri Rahayu Lestari, M.Si. dan tim) dan supervisor asing.
- Ruang publikasi bersama, di mana target akhir program ini adalah minimal satu artikel terindeks Scopus Q1 dengan afiliasi bersama UM-UKM.
- Kapasitas analisis lanjutan bagi dosen muda, melalui transfer pengetahuan Rasch Modeling dan SJT.

Sumber: Dokumentasi Pribadi (2026)
Keberhasilan program ini berkontribusi langsung terhadap peningkatan dua indikator utama peringkat global:
- The Impact Rankings (penilaian berbasis kontribusi terhadap SDGs), yaitu riset tentang literasi mikrobiologi dan instrumen kompetensi keberlanjutan secara langsung menyasar SDG 3 (Good Health and Well-Being), SDG 4 (Quality Education), SDG 5 (Gender Equality), SDG 12 (Responsible Consumption and Production), and SDG 13 (Climate Action)
- QS WUR (terutama pada indikator Academic Reputation dan Faculty Student Ratio with International Faculty): kehadiran profesor asing dalam kegiatan pengajaran dan pendampingan riset menjadi bukti nyata internasionalisasi kampus.
Penutup: Bukan Sekadar Gelar, Tapi Jejak Kolaborasi
Program Joint Supervision bukanlah program biasa. Program ini dapat menjadi laboratorium kepemimpinan akademik bagi mahasiswa pascasarjana. Peneliti kelas dunia bukan berarti bekerja sendirian di menara gading, tetapi justru mampu menjembatani berbagai dunia—antara teori dan praktik, antara lokal dan global, antara kebijakan dan realitas lapangan.
Terima kasih kepada:
- LPDP dan Kemendiktisaintek atas kepercayaan dan pendanaan.
- Universitas Negeri Malang, khususnya FMIPA dan Direktorat Riset, yang memfasilitasi pertemuan ilmiah ini.
- Prof. Madya Ts. Dr. Mohd. Effendi @Ewan Mohd Matore atas dedikasi, bimbingan, dan inspirasi yang tak ternilai.
- Promotor (Prof. Dr. Sri Rahayu Lestari dan Dr. Sitoresmi Prabaningtyas, M.Si yang terus mendorong saya untuk tidak pernah puas dengan hasil biasa.
Semoga artikel ini menjadi inspirasi bagi lebih banyak mahasiswa S2/S3 di Indonesia untuk berani mengambil peran dalam kolaborasi riset global. Karena masa depan pendidikan tinggi adalah masa depan yang terhubung, bukan terisolasi.