Banjarmasin – Dua mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) berhasil menorehkan prestasi membanggakan di ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an Mahasiswa Nasional (MTQMN) XVIII Tahun 2025, yang diselenggarakan di Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Kalimantan Selatan. Mereka adalah Savvana Hilya Ramadhani, mahasiswa Pendidikan Matematika Fakultas MIPA, dan Keysha Wahyu Kinanthi, mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab Fakultas Sastra.
Keduanya berhasil meraih Juara Harapan III dalam cabang Musabaqah Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an (MKTIQ) melalui karya bertajuk “DIRECT (Disconnect to Reconnect)”, sebuah inovasi berbasis aksi nyata yang berupaya menjawab problem psikologis dan sosial yang dihadapi generasi muda di era digital.

Savvana (kiri) dan Keysha (kanan) memegang trophy juara cabang MKTIQ dengan mengibarkan bendera Universitas Negeri Malang.
Mengangkat Kegelisahan Generasi Digital
Fenomena kelelahan digital (digital fatigue) dan kebosanan eksistensial kini menjadi gejala umum di kalangan mahasiswa dan remaja. Di tengah banjir informasi dan konektivitas tanpa batas, banyak individu justru merasa kehilangan arah, makna, bahkan keintiman sosial. Savvana dan Keysha menyoroti realitas ini melalui perspektif Al-Qur’an, berusaha menemukan keseimbangan antara kemajuan teknologi dan kebutuhan spiritual manusia.
“DIRECT adalah ajakan untuk disconnect sesaat dengan dunia digital, agar kita bisa reconnect secara batiniah dengan diri, dengan orang lain, dan dengan Allah Ta’ala”, jelas Savvana saat ditemui seusai acara penyerahan penghargaan.
Konsep ini bukan sekadar anjuran menjauh dari gawai, tetapi pendekatan multidimensional yang memadukan nilai-nilai Al-Qur’an, prinsip psikologi positif, dan strategi rekoneksi sosial. Dalam naskah ilmiahnya, mereka menekankan bahwa ayat-ayat Al-Qur’an mengandung pedoman bagi manusia untuk menjaga keseimbangan antara dunia material dan spiritual.

Savvana menunjukkan platform DIRECT sebagai produk literasi dalam mengatasi kebosanan eksistensial.
Melalui pendekatan interdisipliner, Savvana dan Keysha menelusuri ayat-ayat yang berbicara tentang ketenangan jiwa (sakinah), refleksi diri (muhasabah), dan keseimbangan hidup. Mereka kemudian mengonversi nilai-nilai tersebut ke dalam strategi praktis berupa detoks digital terarah berbasis kesadaran spiritual.
Karya DIRECT juga menampilkan hasil survei sederhana terhadap mahasiswa di tingkat global yang menunjukkan bahwa lebih dari 70 persen responden mengalami gejala stres atau kejenuhan akibat paparan digital berlebihan. “Temuan ini menjadi titik awal kami untuk menawarkan solusi berbasis nilai Qur’ani, bukan sekadar nasihat moral, tetapi pendekatan ilmiah yang relevan,” tambah Keysha.
Dalam kompetisi MKTIQ, karya mereka menonjol karena keberanian menggabungkan isu kontemporer dengan nilai-nilai Islam secara kontekstual. Dewan juri memuji keduanya karena berhasil memformulasikan gagasan kritis dan berdampak.
“Isu yang diangkat oleh tim DIRECT sangat aktual dan dekat dengan kehidupan mahasiswa. Pendekatan kealqur’anan cukup matang dan disajikan dengan perspektif ilmiah yang kuat,” komentar salah satu juri MKTIQ dalam sesi tanya jawab.
Ajang Bergengsi dan Persaingan Ketat
MTQ Mahasiswa Nasional XVIII merupakan ajang dua tahunan yang mempertemukan ribuan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Kompetisi ini tidak hanya berfokus pada tilawah dan hafalan Al-Qur’an, tetapi juga mencakup cabang-cabang pengembangan seperti debat, penulisan karya ilmiah, desain teknologi islami, syarhil, dan kaligrafi.
Tahun ini, Universitas Lambung Mangkurat bertindak sebagai tuan rumah, dengan tema. Persaingan di cabang MKTIQ tergolong ketat, dengan mempertemukan puluhan tim dari universitas-universitas terbaik di Indonesia, salah satunya adalah Universitas Negeri Malang.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan UM, dalam pernyataannya, menyampaikan apresiasi tinggi terhadap pencapaian tersebut. “Prestasi ini menunjukkan bahwa mahasiswa UM tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu berinovasi dengan menjunjung nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan,” ujarnya.
Prestasi ini juga menjadi simbol keberanian mahasiswa untuk menggabungkan riset akademik dengan nilai-nilai Al-Qur’an secara relevan dan progresif. Keduanya berharap agar karya DIRECT tidak berhenti sebagai naskah lomba, tetapi dapat dikembangkan menjadi program edukatif yang mendorong keseimbangan digital di kalangan mahasiswa.
“Kami ingin DIRECT menjadi gerakan sosial kecil di kampus, agar kita semua bisa lebih sadar terhadap dampak digitalisasi pada kesehatan mental,” tutur Savvana.
Prestasi Savvana dan Keysha menjadi bukti bahwa semangat ilmiah dan nilai-nilai Qur’ani dapat berjalan seiring, melahirkan inovasi yang bukan hanya berorientasi pada kemajuan, tetapi juga pada kemanusiaan.