0341-552180 [email protected]
Pelatihan dan Sertifikasi BNSP Tingkatkan Kompetensi Dosen dan Mahasiswa Departemen Kimia UM

Pelatihan dan Sertifikasi BNSP Tingkatkan Kompetensi Dosen dan Mahasiswa Departemen Kimia UM

Malang, 29 Oktober 2025 – Departemen Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang (UM) sukses menyelenggarakan Pelatihan dan Sertifikasi Kompetensi BNSP pada 27–29 Oktober 2025 di lingkungan FMIPA UM. Kegiatan ini terbagi menjadi dua bidang, yaitu Training & Sertifikasi Gas Chromatography untuk dosen dan Training & Sertifikasi Human Capital Development (HCD) untuk mahasiswa.

Pelatihan diikuti oleh empat dosen — Prof. Dr. Sumari, M.Si; Prof. Dr. Muntholib, M.Si; Dr. Rini Retnosari, Ph.D; dan apt. Intan Kusuma Dewi, M.Farm.Klin — yang mendalami pengoperasian spektrofotometer UV-Vis dan Gas Chromatography (GC) sesuai standar laboratorium profesional.

Sementara itu, pelatihan HCD diikuti oleh 14 mahasiswa dari program studi S1 Kimia dan S1 Pendidikan Kimia, yang dibekali kompetensi praktis pengelolaan dan pengembangan sumber daya manusia serta berkesempatan memperoleh sertifikasi nasional dari BNSP.

Kegiatan berlangsung selama tiga hari, terdiri dari dua hari pelatihan dan satu hari uji kompetensi. Melalui program ini, Departemen Kimia UM berkomitmen untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, baik dosen maupun mahasiswa, guna memperkuat daya saing akademik dan profesional di dunia kerja.

Dengan terlaksananya kegiatan ini, Departemen Kimia UM terus menunjukkan langkah nyata dalam mewujudkan lulusan dan tenaga pendidik yang kompeten, unggul, dan siap bersaing di tingkat nasional maupun global.

Dari Halaman Jadi Penghasilan: Kelompok PKK Dusun Watutumpeng Bangkitkan Ekonomi Kreatif Lewat Ubi Ungu

Dari Halaman Jadi Penghasilan: Kelompok PKK Dusun Watutumpeng Bangkitkan Ekonomi Kreatif Lewat Ubi Ungu

Tim PKM-PM SRIWAT dan Kelompok PKK Dusun Watutumpeng Melakukan Penanaman Ubi Ungu menggunakan Sandbag

Watutumpeng, Babadan, Ngajum, Malang, Jawa Timur — Tim PKM-PM SRIWAT dari FMIPA Universitas Negeri Malang (UM) bersama kelompok PKK Dusun Watutumpeng, dengan bimbingan Bapak Agung Witjoro, S.Pd., M.Kes., berhasil mengubah halaman rumah warga menjadi lahan produktif yang berdaya ekonomi melalui konsep pertanian kecil berkelanjutan (small-scale sustainable agriculture).

Melalui kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat, program ini tidak hanya berfokus pada budidaya ubi ungu, tetapi juga pada pengolahan hasil panen menjadi berbagai produk olahan bernilai jual tinggi seperti dimsum dan cireng ubi ungu. Inisiatif ini menjadi wujud nyata pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal yang mendukung penguatan ekonomi kreatif di wilayah pedesaan.

Program tim PKM-PM SRIWAT dirancang bersama mitra dengan pendekatan Asset-Based Community Development + Evaluation (ABCD+E), yaitu memaksimalkan aset yang sudah dimiliki masyarakat, seperti keterampilan individu dan potensi alam setempat. Program ini terdiri atas empat kegiatan utama: DISAWAT (Diskusi SRIWAT), PANDU (Pelatihan Penanaman Terpadu), SINOM (Sosialisasi Identitas Niaga dan Optimasi Marketing), dan PAWON UNGU (Pengolahan Ubi Ungu).

Mahasiswa berperan langsung dalam pendampingan pelatihan, mulai dari pembentukan kembali struktur pokja berbasis minat dan keahlian, penanaman ubi ungu di lahan sempit dengan media sandbag, pelatihan branding dan pemasaran, hingga pengolahan ubi ungu untuk menambah variasi produk. Dari proses ini, lahirlah brand lokal “Yubifood” yang kini menjadi identitas baru produk unggulan Dusun Watutumpeng.

“Program ini bukan hanya mengajarkan keterampilan baru, tapi juga menumbuhkan kembali semangat berwirausaha di kalangan ibu rumah tangga” ungkap Alha, Ketua Tim PKM-PM UM. “Kami ingin perempuan desa memiliki peran aktif dalam pembangunan ekonomi lokal” lanjutnya.

Tim PKM-PM bersama PKK Dusun Watutumpeng Membuat Olahan Ubi Ungu

Hasil Olahan Dimsum dan Cireng (frozen food) berbahan Ubi Ungu

 

 

 

 

 

 

 

 

Ketua pokja PKK Dusun Watutumpeng, Ibu Warsini, mengaku bangga atas kemajuan kelompoknya. “Kami dulu hanya menjalankan kegiatan keagamaan rutin, sekarang bisa menghasilkan produk sendiri dan menjualnya untuk sumber penghasilan tambahan,” ujarnya.

Program ini juga memperkenalkan konsep Purple Loop, yakni ekosistem ekonomi hijau berbasis ubi ungu yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Keberlanjutan program disusun dengan konsep Quadruple Helix yang melibatkan peran akademisi, pemerintah, industri, dan masyarakat untuk memperkuat pemasaran produk serta membuka peluang kerja baru di desa.

Mahasiswa UM Torehkan Prestasi di Ajang Karya Tulis Ilmiah Alqur’an, MTQ Mahasiswa Nasional XVIII, Lewat Inovasi “DIRECT”

Mahasiswa UM Torehkan Prestasi di Ajang Karya Tulis Ilmiah Alqur’an, MTQ Mahasiswa Nasional XVIII, Lewat Inovasi “DIRECT”

Banjarmasin – Dua mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) berhasil menorehkan prestasi membanggakan di ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an Mahasiswa Nasional (MTQMN) XVIII Tahun 2025, yang diselenggarakan di Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Kalimantan Selatan. Mereka adalah Savvana Hilya Ramadhani, mahasiswa Pendidikan Matematika Fakultas MIPA, dan Keysha Wahyu Kinanthi, mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab Fakultas Sastra.

Keduanya berhasil meraih Juara Harapan III dalam cabang Musabaqah Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an (MKTIQ) melalui karya bertajuk “DIRECT (Disconnect to Reconnect)”, sebuah inovasi berbasis aksi nyata yang berupaya menjawab problem psikologis dan sosial yang dihadapi generasi muda di era digital.

Savvana (kiri) dan Keysha (kanan) memegang trophy juara cabang MKTIQ dengan mengibarkan bendera Universitas Negeri Malang.

Mengangkat Kegelisahan Generasi Digital

Fenomena kelelahan digital (digital fatigue) dan kebosanan eksistensial kini menjadi gejala umum di kalangan mahasiswa dan remaja. Di tengah banjir informasi dan konektivitas tanpa batas, banyak individu justru merasa kehilangan arah, makna, bahkan keintiman sosial. Savvana dan Keysha menyoroti realitas ini melalui perspektif Al-Qur’an, berusaha menemukan keseimbangan antara kemajuan teknologi dan kebutuhan spiritual manusia.

“DIRECT adalah ajakan untuk disconnect sesaat dengan dunia digital, agar kita bisa reconnect secara batiniah dengan diri, dengan orang lain, dan dengan Allah Ta’ala”, jelas Savvana saat ditemui seusai acara penyerahan penghargaan.

Konsep ini bukan sekadar anjuran menjauh dari gawai, tetapi pendekatan multidimensional yang memadukan nilai-nilai Al-Qur’an, prinsip psikologi positif, dan strategi rekoneksi sosial. Dalam naskah ilmiahnya, mereka menekankan bahwa ayat-ayat Al-Qur’an mengandung pedoman bagi manusia untuk menjaga keseimbangan antara dunia material dan spiritual.

Savvana menunjukkan platform DIRECT sebagai produk literasi dalam mengatasi kebosanan eksistensial.

Melalui pendekatan interdisipliner, Savvana dan Keysha menelusuri ayat-ayat yang berbicara tentang ketenangan jiwa (sakinah), refleksi diri (muhasabah), dan keseimbangan hidup. Mereka kemudian mengonversi nilai-nilai tersebut ke dalam strategi praktis berupa detoks digital terarah berbasis kesadaran spiritual.

Karya DIRECT juga menampilkan hasil survei sederhana terhadap mahasiswa di tingkat global yang menunjukkan bahwa lebih dari 70 persen responden mengalami gejala stres atau kejenuhan akibat paparan digital berlebihan. “Temuan ini menjadi titik awal kami untuk menawarkan solusi berbasis nilai Qur’ani, bukan sekadar nasihat moral, tetapi pendekatan ilmiah yang relevan,” tambah Keysha.

Dalam kompetisi MKTIQ, karya mereka menonjol karena keberanian menggabungkan isu kontemporer dengan nilai-nilai Islam secara kontekstual. Dewan juri memuji keduanya karena berhasil memformulasikan gagasan kritis dan berdampak.

“Isu yang diangkat oleh tim DIRECT sangat aktual dan dekat dengan kehidupan mahasiswa. Pendekatan kealqur’anan cukup matang dan disajikan dengan perspektif ilmiah yang kuat,” komentar salah satu juri MKTIQ dalam sesi tanya jawab.

Ajang Bergengsi dan Persaingan Ketat

MTQ Mahasiswa Nasional XVIII merupakan ajang dua tahunan yang mempertemukan ribuan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Kompetisi ini tidak hanya berfokus pada tilawah dan hafalan Al-Qur’an, tetapi juga mencakup cabang-cabang pengembangan seperti debat, penulisan karya ilmiah, desain teknologi islami, syarhil, dan kaligrafi.

Tahun ini, Universitas Lambung Mangkurat bertindak sebagai tuan rumah, dengan tema. Persaingan di cabang MKTIQ tergolong ketat, dengan mempertemukan puluhan tim dari universitas-universitas terbaik di Indonesia, salah satunya adalah Universitas Negeri Malang.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan UM, dalam pernyataannya, menyampaikan apresiasi tinggi terhadap pencapaian tersebut. “Prestasi ini menunjukkan bahwa mahasiswa UM tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu berinovasi dengan menjunjung nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan,” ujarnya.

Prestasi ini juga menjadi simbol keberanian mahasiswa untuk menggabungkan riset akademik dengan nilai-nilai Al-Qur’an secara relevan dan progresif. Keduanya berharap agar karya DIRECT tidak berhenti sebagai naskah lomba, tetapi dapat dikembangkan menjadi program edukatif yang mendorong keseimbangan digital di kalangan mahasiswa.

“Kami ingin DIRECT menjadi gerakan sosial kecil di kampus, agar kita semua bisa lebih sadar terhadap dampak digitalisasi pada kesehatan mental,” tutur Savvana.

Prestasi Savvana dan Keysha menjadi bukti bahwa semangat ilmiah dan nilai-nilai Qur’ani dapat berjalan seiring, melahirkan inovasi yang bukan hanya berorientasi pada kemajuan, tetapi juga pada kemanusiaan.

Pelepasan Wisudawan S1 FMIPA UM 2025: Ijazah Tiket Masuk, Soft Skill Kendaraan Sukses

Pelepasan Wisudawan S1 FMIPA UM 2025: Ijazah Tiket Masuk, Soft Skill Kendaraan Sukses

Malang – Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Malang (UM) sukses menggelar acara Pelepasan dan Penguatan Soft Skill Wisudawan S1 FMIPA UM pada Selasa, 2 September 2025, di Aula FMIPA UM. Kegiatan ini menjadi bekal komprehensif bagi 300 calon wisudawan/wisudawati sebelum mereka memasuki dunia profesional dan masyarakat luas.

Acara dibuka dengan sambutan hangat dari Wakil Dekan I FMIPA UM, Prof. Dr. Sri Rahayu Lestari, M.Si. Beliau menyampaikan apresiasi atas keberhasilan mahasiswa yang telah menempuh pendidikan di FMIPA UM.
Selanjutnya, Ketua Ikatan Alumni FMIPA UM, Prof. Dr. Muntholib, S.Pd., M.Si, menyampaikan rasa bangga (mongkog) atas prestasi para lulusan. Beliau membawakan tiga pesan utama, salah satunya menekankan bahwa gelar sarjana bukan jaminan pekerjaan, tetapi jaminan kemampuan berpikir, belajar, dan berinovasi.

Prof. Muntholib mengingatkan bahwa almamater adalah rumah intelektual yang membekali lulusan dengan iman, ilmu, keterampilan, dan sikap. Beliau berpesan agar alumni menjaga nama baik almamater dengan akhlak mulia, integritas, prestasi, kontribusi nyata di masyarakat, dan rendah hati. Prof. Muntholib juga mendorong alumni untuk menciptakan pekerjaan sendiri, seperti membangun startup atau berinovasi di bidang teknologi, mencontoh pengalaman para dosen yang juga memiliki usaha.

“Bila dalam perjalanan hidup di dunia nyata Saudara kehilangan tongkat atau tidak sadar tongkatnya tertukar, Saudara masih bisa berinteraksi dengan Ikatan Alumni FMIPA UM,” pesannya, menegaskan bahwa IKA menjadi saluran interaksi pasca-kampus.

Penguatan Soft Skill: Strategi Menghadapi Fase Transisi

Sesi inti pembekalan disampaikan oleh Dr. Hetti Rahmawati, S.Psi, M.Si, dari Pusat Bimbingan Konseling, Karier, dan Kewirausahaan (PBK3) UM, dengan materi “Membangun Kesiapan dan Produktivitas Paska Wisuda”. Dr. Hetti menekankan fakta kunci bahwa IPK penting, tetapi soft skills lebih menentukan keberhasilan jangka panjang.

Beliau menguraikan employability skills berdasarkan tiga jalur utama karier:

  1. Kesiapan Kerja: Membutuhkan komunikasi efektif (menyampaikan ide ilmiah ke bahasa praktis), kolaborasi, problem solving & critical thinking, dan adaptability.
  2. Kesiapan Wirausaha: Memerlukan entrepreneurial mindset (berani ambil risiko), networking, dan manajemen waktu.
  3. Kesiapan Studi Lanjut: Menuntut research skills, resilience, dan lifelong learning.

Dr. Hetti mendorong wisudawan untuk menyusun Personal Development Plan (PDP) dan membangun Career Identity sebagai kompas hidup karier. Lulusan diajak untuk memanfaatkan Prinsip 70-20-10 untuk kesiapan: 70% dari pengalaman nyata, 20% dari mentoring dan networking, dan 10% dari pembelajaran formal.

Chat