0341-552180 [email protected]

Malang – Di tengah arus globalisasi yang begitu cepat, upaya melestarikan nilai-nilai lokal dalam dunia pendidikan menjadi semakin penting. Hal inilah yang mendorong Dr. Rikardus Herak, S.Pd., M.Pd., dosen Universitas Katolik Widya Mandira, untuk mengembangkan model pembelajaran biologi yang berakar pada budaya lokal dalam studi doktoralnya di Universitas Negeri Malang.

Setelah menyelesaikan pendidikan doktoralnya di Program Studi Pendidikan Biologi, Dr. Rikardus menyampaikan bahwa motivasi utamanya adalah keinginan untuk memberikan kontribusi lebih luas dalam pengembangan pendidikan sains di Indonesia, terutama dalam menghadirkan pendekatan pembelajaran yang kontekstual dan bermakna.

“Saya ingin menjadi akademisi yang bukan hanya mengajar, tetapi juga berkontribusi melalui riset dan inovasi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran biologi,” ujarnya saat diwawancarai.

Perjalanan Akademik Penuh Tantangan

Menempuh pendidikan doktoral bukanlah hal yang mudah. Dr. Rikardus menuturkan bahwa proses tersebut penuh dengan tantangan, terutama dalam merancang penelitian yang aplikatif, mengelola waktu secara efektif, hingga menuntaskan berbagai tugas akademik yang menuntut kedalaman berpikir dan ketelitian tinggi.

Namun, lingkungan akademik yang suportif serta bimbingan dari para dosen membuatnya mampu menghadapi masa-masa sulit selama studi. Diskusi dengan sesama mahasiswa dan kerja kolaboratif juga menjadi kekuatan yang memperkaya perjalanan akademiknya.

“Tantangan yang saya hadapi justru menjadi pendorong untuk terus belajar, tumbuh, dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat untuk pendidikan di Indonesia,” tambahnya.

Disertasi Berbasis Kearifan Lokal PENTI

Salah satu kontribusi terpenting dari studi doktoral Dr. Rikardus adalah disertasinya yang berjudul “Pengembangan Model Pembelajaran Berbasis Kearifan Lokal PENTI untuk Meningkatkan Hasil Belajar Kognitif, Mengatasi Miskonsepsi, dan Memberdayakan Keterampilan Berpikir Kreatif Siswa SMA.”

Model pembelajaran ini mengintegrasikan nilai-nilai budaya Manggarai, Flores, khususnya melalui tradisi lokal Penti yang mengajarkan kerja sama, tanggung jawab, dan kebijaksanaan. PENTI—sebagai upacara adat syukuran atas hasil panen dan harapan masa depan—menjadi metafora pendidikan yang tidak hanya menekankan pencapaian kognitif, tetapi juga penguatan nilai dan karakter.

Dr. Rikardus menjelaskan bahwa pendekatan ini dapat meningkatkan relevansi pembelajaran bagi siswa, mengatasi miskonsepsi ilmiah yang sering muncul, serta mengasah kemampuan berpikir kreatif—sebuah keterampilan penting di abad ke-21.

“Melalui integrasi kearifan lokal, siswa belajar tidak hanya dari buku, tetapi juga dari akar budaya mereka sendiri. Ini menciptakan pembelajaran yang lebih hidup dan bermakna,” tuturnya.

Pengalaman Tak Terlupakan: Uji Model di Lapangan

Salah satu momen paling membekas bagi Dr. Rikardus adalah saat melakukan uji coba model pembelajaran PENTI di beberapa SMA. Ia menyaksikan secara langsung bagaimana pendekatan tersebut berhasil meningkatkan keterlibatan siswa dan memberikan dampak signifikan terhadap pemahaman konsep biologi.

“Melihat siswa menjadi lebih aktif, kreatif, dan mampu memahami materi dengan lebih baik adalah pencapaian yang luar biasa. Saya merasa penelitian ini benar-benar menyentuh kebutuhan mereka,” katanya penuh haru.

Kiat untuk Generasi Akademisi Muda

Kepada mahasiswa biologi di berbagai jenjang—baik S1, S2, maupun S3—Dr. Rikardus membagikan sejumlah kiat penting: kuasai dasar ilmu biologi secara menyeluruh, kembangkan kemampuan riset sejak dini, dan latih keterampilan berpikir kritis serta menulis ilmiah.

Ia juga menekankan pentingnya manajemen waktu yang efektif serta kerja sama dengan pembimbing dan rekan sejawat sebagai bagian dari proses akademik yang sehat dan produktif.

Bagi yang bercita-cita menempuh jenjang doktoral, ia berpesan agar mereka menyiapkan mental dan semangat yang kuat.

“Pilihlah topik yang sesuai dengan minat dan passion Anda. Tantangan di jenjang doktoral sangat besar, tetapi jika kita mengerjakan sesuatu yang kita cintai, maka semua rintangan bisa diatasi dengan lebih mudah,” jelasnya.

Pendidikan yang Berakar dan Berkembang

Apa yang dilakukan Dr. Rikardus Herak bukan hanya bentuk keberhasilan akademik semata, tetapi juga refleksi dari upaya membangun jembatan antara ilmu pengetahuan modern dan nilai-nilai budaya lokal. Karyanya menjadi bukti bahwa pendidikan yang baik adalah pendidikan yang tidak melupakan akar, tetapi justru menumbuhkannya untuk menjangkau masa depan yang lebih cerah.

Dengan semangat yang tak padam, ia terus mendorong lahirnya pendekatan-pendekatan pembelajaran yang lebih inklusif, relevan, dan bermakna bagi generasi penerus bangsa.

Chat