Survei Biofisik dan Identifikasi Sumber Benih Awali Riset Inovatif Jaring Berbenih di Ruas Tol Mojokerto-Jombang
Mojokerto, 23 Mei 2025 — Tim peneliti dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang (FMIPA UM) bersama Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi (PREE) BRIN melaksanakan survei awal biofisik, sumber benih, dan bahan baku dalam rangka pelaksanaan kegiatan penelitian bertajuk “Inovasi dan Aplikasi Jaring Berbenih (Seed Net) untuk Mencegah Erosi dan Meningkatkan Keberhasilan Revegetasi Tebing Terjal Akibat Pembukaan Jalan.”
Kegiatan yang berlangsung pada 20–22 Mei 2025 ini dilaksanakan di lokasi ruas jalan tol Mojokerto–Jombang, Jawa Timur, tepatnya pada area overpass milik PT Marga Harjasa Infrastructure (MHI) yang memiliki kemiringan lereng mencapai 60–70%. Penelitian ini merupakan hasil kolaborasi antara FMIPA UM yang melibatkan Prof. Dr. Fatchur Rohman, M.Si. dari Departemen Pendidikan Biologi dan Indra Fardhani, S.Pd., M.Sc., M.I.L., Ph.D dari Departemen Pendidikan IPA dengan peneliti dari Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi (PREE BRIN) yaitu Dr. Enny Widyati, Sugeng Budiharta, Ph.D., Sri Een Hartatik, Ph.D., Dr. Titut Yulistyarini, dan Dr. Helbert. Penelitian ini memperoleh dukungan pendanaan dari program Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM).
Survei ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi biofisik lereng serta sumber benih dan bahan baku lokal yang akan digunakan dalam pembuatan jaring berbenih (seed net). Jaring ini dirancang sebagai inovasi untuk menahan erosi tanah dan mendorong keberhasilan revegetasi alami pada lereng-lereng curam yang rentan longsor akibat pembangunan infrastruktur jalan.
Kegiatan ini mendapatkan dukungan penuh dari direksi dan manajemen PT MHI, yang menyambut baik riset kolaboratif ini sebagai langkah strategis dalam mendukung pembangunan berkelanjutan dan ramah lingkungan di sektor infrastruktur.
Riset ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDG’s), khususnya tujuan SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) dan SDG 15 (Menjaga Ekosistem Darat). Inovasi ini diharapkan dapat menjadi model implementasi teknologi ekologis dalam pembangunan infrastruktur yang adaptif terhadap perubahan iklim serta berdampak positif bagi konservasi lingkungan.
Langkah selanjutnya dari penelitian ini adalah perancangan dan pemasangan jaring berbenih yang dijadwalkan akan dilakukan pada akhir tahun 2025, dengan harapan hasilnya dapat direplikasi pada lokasi-lokasi serupa di proyek infrastruktur lainnya di Indonesia di masa yang akan datang.