ABUNDANT COW’S MILK, TURN IT INTO KEFIR DRINK TO SUPPORT SDGs 3, 7, 8, and 15

ABUNDANT COW’S MILK, TURN IT INTO KEFIR DRINK TO SUPPORT SDGs 3, 7, 8, and 15

COMMUNITY SERVICE: A team of lecturers and students from Biotechnology Study Program, FMIPA UM trains Family Welfare Empowerment women in Samar Village, how to make kefir drinks. Still from this edition, the Community Service Team of Universitas Negeri Malang, consisting of lecturers and students from the Biotechnology Study Program, Faculty of Mathematics and Sciences, held training in Samar Village, more precisely processing milk into kefir drinks. This activity took place at the Samar Village office, Monday (10/6) and was attended by Samar Village Family Welfare Empowerment women. This activity supports SDGs 3, 7, 8, and 15.
Mrs. Rubik, as the head of the Samar Village Family Welfare Empowerment, said that in this village it is very easy to find pure cow’s milk. Many women here work as milkers. Until now, cow’s milk in Samar Village is only sold in the form of fresh milk, there has never been any processing related to cow’s milk. Meanwhile, cow dung is used for biogas. The use of fresh milk and cow dung continues to be sustainable, so that the land ecosystem remains sustainable, the environment becomes clean and affordable (supports SDGs no. 7 and 15). Therefore, the Community Service Team led by Ratna Juwita Ph.D innovated by making milk into a kefir drink that is liked by all groups and can be enjoyed at any time. This innovation was carried out because Samar Village is the village with the largest milk producer in Tulungagung Regency. The nutritional content in milk such as fat, protein, carbohydrates, calcium and vitamin A is very good for health. “This kefir drink can maintain a healthy digestive system, so it is good for consumption every day, supporting SDGs no. 3”, she said.
This training activity on making kefir drinks provides new ideas for entrepreneurship, so that it can open a job opportunity and increase economic growth, especially in Samar Village (supporting SDGs no. 8). The Family Welfare Empowerment women of Samar Village, Tulungagung Regency were very enthusiastic about participating in the training and mentoring activities as seen from the various questions asked by the training participants. Each participant who attended was given a short tutorial on how to make kefir drinks, and participant representatives received a set of tools for making kefir drinks. Ratna hopes that after this training ends, Family Welfare Empowerment women can practice it themselves at home and hope that one day they can become a product of the Micro Small and Medium Enterprises in Samar Village. “We also provide our products which we have produced ourselves on a small scale to all training participants,” she said. Ratna also hopes that this training activity can improve the skills of Family Welfare Empowerment women in Samar Village. “From the results of the survey that was completed by the participants, the results showed a desire to make kefir products,” she concluded.

 

Starfruit Yoghurt Training: Transforming Star Fruit into Delicious Yoghurt for New Entrepreneurs

Starfruit Yoghurt Training: Transforming Star Fruit into Delicious Yoghurt for New Entrepreneurs

Starfruit Yoghurt Training : A team of lecturers and students from Biotechnology Study Program, FMIPA UM trains Family Welfare Empowerment women in Dadaplangu Village, how to make starfruit yoghurt.

The Community Service Team of Universitas Negeri Malang (UM), consisting of lecturers and students from the Biotechnology Study Program, Faculty of Mathematics and Sciences, held training on making yoghurt drinks from star fruit in Dadaplangu Village, Ponggok District, Blitar Regency. This activity was carried out directly at the Dadaplangu Village Office, Monday (3/6) and was attended by Family Welfare Empowerment women from Dadaplangu Village. This activity supports SDGs 3, 7, 8, and 15.

Mrs. Rokimun as the head of Family Welfare Empowerment’s Dadaplangu Village said that this training was eagerly awaited because it gave Family Welfare Empowerment women ideas for making innovative drinks from star fruit which is very abundant and easy to find in Dadaplangu Village. Until now, star fruit in Dadaplangu Village is only consumed in the form of fresh fruit, while those that are not sold or are attacked by pests are used for animal feed so that the use of terrestrial ecosystems remains sustainable, the environment remains clean and affordable (supports SDGs no. 7 and 15).

Therefore, the Community Service Team led by Ratna Juwita Ph.D innovated by making star fruit into a yoghurt drink that is liked by all groups and can be enjoyed at any time. This innovation was carried out because star fruit contains a lot of vitamin C, apart from that it also contains vitamins A, B9 (folic acid), B3 (niacin), iron, magnesium, manganese, potassium and β-carotene which are really needed by the body. “This yoghurt drink can maintain a healthy digestive system, so it is good for consumption every day, supporting SDGs no. 3”, she said.

Starfruit Yoghurt Training

supporting SDGs

This training activity on making yoghurt drinks from star fruit extract also provides new ideas for entrepreneurship, so that it can open a job opportunity and increase economic growth, especially in Dadaplangu Village (supporting SDGs no. 8). The Family Welfare Empowerment women of Dadaplangu Village, Ponggok District, Blitar Regency were very enthusiastic about participating in the training and mentoring activities as seen from the various questions asked by the training participants. Each participant who attended was given a short tutorial on how to make yoghurt drinks from star fruit.

Ratna hopes that after this training ends, Family Welfare Empowerment women can practice it themselves at home and hope that one day they can become a product of Micro Small and Medium Enterprises in Dadaplangu Village. “We also provide our products which we have produced ourselves on a small scale to all training participants,” she said. Ratna also hopes that this training activity can improve the skills of Family Welfare Empowerment women in Dadaplangu Village. “From the results of the survey that was completed by the participants, the results showed good, because they felt they had gained additional skills with new knowledge that they had never known before,” she concluded.

Panen Ubi Jalar di FMIPA UM

Panen Ubi Jalar di FMIPA UM

Dalam rangka meningkatkan lingkungan perguruan tinggi berkelanjutan dan mewujudkan ketahanan pangan di area kampus

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Malang (UM) melaksanakan kegiatan panen ubi jalar di FMIPA UM pada tanggal 5 Juli 2024.

Acara ini dihadiri dan dipimpin langsung oleh Dekan FMIPA, Prof. Dr. Hadi Suwono, M.Si, bersama dengan jajaran tim Green Campus FMIPA UM. Kegiatan ini merupakan salah satu langkah konkret untuk mendukung pencapaian tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 2 (No Hunger) dan nomor 15 (Life on Land), serta memberikan dampak positif terhadap ekosistem lingkungan sekitar.

Selain Dekan FMIPA dan tim Green Campus, kegiatan ini juga melibatkan berbagai elemen di dalam kampus, termasuk mahasiswa, dosen, dan staf non-akademik. Para peserta tidak hanya turut serta dalam proses panen, tetapi juga diberikan kesempatan untuk belajar mengenai teknik budidaya ubi jalar yang berkelanjutan. Dalam kesempatan ini, Prof. Dr. Hadi Suwono menyampaikan pentingnya kontribusi semua pihak dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan mendukung ketahanan pangan. Menurutnya, kegiatan semacam ini tidak hanya meningkatkan kualitas lingkungan kampus, tetapi juga memberikan edukasi praktis kepada mahasiswa tentang pentingnya praktik pertanian berkelanjutan.

Selain panen ubi jalar, FMIPA UM juga merencanakan berbagai program pertanian perkotaan lainnya yang melibatkan partisipasi aktif dari mahasiswa dan staf akademik. Program-program ini dirancang tidak hanya untuk meningkatkan ketahanan pangan di lingkungan kampus, tetapi juga untuk mengedukasi komunitas kampus tentang pentingnya pelestarian lingkungan melalui praktik-praktik pertanian yang ramah lingkungan. Salah satu program yang sedang dikembangkan adalah penanaman sayuran organik di area kampus, yang diharapkan dapat menjadi sumber pangan sehat bagi seluruh warga kampus.

Inisiatif ini juga sejalan dengan visi dan misi Universitas Negeri Malang untuk menjadi institusi pendidikan yang peduli terhadap lingkungan dan berkomitmen pada keberlanjutan. Dengan adanya program Green Campus, universitas berharap dapat menjadi teladan bagi institusi pendidikan lainnya dalam upaya menjaga keseimbangan ekosistem dan mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan. Kegiatan-kegiatan ini menunjukkan komitmen universitas dalam menciptakan lingkungan belajar yang hijau, sehat, dan berkelanjutan.

Untuk memastikan keberlanjutan program ini, FMIPA UM berencana untuk mengadakan kegiatan serupa secara berkala dan melibatkan lebih banyak partisipasi dari seluruh elemen kampus. Selain itu, universitas juga akan bekerja sama dengan berbagai pihak eksternal, termasuk pemerintah daerah, komunitas lokal, dan lembaga swadaya masyarakat, untuk mendukung dan memperluas program pertanian berkelanjutan ini. Harapannya, kegiatan-kegiatan ini dapat memberikan kontribusi nyata dalam mencapai tujuan SDGs dan menciptakan lingkungan yang lebih baik bagi generasi mendatang.

Secara keseluruhan, panen ubi jalar di FMIPA UM pada 5 Juli 2024 bukan hanya sekedar kegiatan seremonial, tetapi merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk mewujudkan ketahanan pangan dan lingkungan yang lebih baik di area kampus. Melalui kolaborasi dan komitmen yang kuat, Universitas Negeri Malang berupaya untuk terus berinovasi dan menjadi pionir dalam gerakan kampus berkelanjutan di Indonesia.

 

Akreditasi Unggul Program Studi Magister Biologi

Akreditasi Unggul Program Studi Magister Biologi

Program Studi Magister Biologi (PSMB) UM didirikan pada tahun 2016 dengan tujuan mengembangkan kajian bahan alam yang berpotensi dalam kesehatan, lingkungan, pangan, dan energi melalui pendekatan nanoteknologi serta konservasinya. Selain itu, PSMB UM menawarkan tiga bidang peminatan, yaitu fisiologi dan perkembangan hewan, fisiologi dan perkembangan tumbuhan, serta biodiversitas dan konservasi.

Kurikulum PSMB UM dirancang sedemikian rupa untuk mengembangkan kompetensi individu dan kelompok dalam merespons perkembangan sains dan teknologi. Dengan demikian, lulusan PSMB UM diharapkan mampu mengembangkan penelitian, pendidikan, dan kewirausahaan, khususnya dengan fokus pada biologi tropis dan kearifan lokal, serta menghasilkan karya inovatif bertaraf nasional dan internasional sesuai dengan keahliannya.

PSMB UM memperoleh akreditasi pertama pada tahun 2019 dengan peringkat B. Sejak saat itu, dengan dukungan tata pamong, tata kelola, dan kerjasama yang solid, serta sumber daya manusia, keuangan, sarana, dan prasarana yang memadai, PSMB terus meningkatkan kualitasnya. Kemudian, pada 24 dan 25 Juni 2024, PSMB UM menjalani Asesmen Lapangan (AL) oleh Lembaga Akreditasi Mandiri Sains Alam dan Ilmu Formal (LAMSAMA), dengan penilaian mencakup sembilan kriteria utama. Hasil dari penilaian ini menjadi dasar evaluasi untuk perbaikan dan peningkatan kualitas program secara berkelanjutan.

Melalui kerja keras dan kolaborasi PSMB UM dengan Fakultas dan Universitas selama lima tahun ini, program ini berhasil memperoleh akreditasi Unggul pada tahun 2024. Dengan peringkat unggul ini, PSMB UM membuka peluang untuk mendapatkan lebih banyak mahasiswa melalui beasiswa nasional seperti LPDP. Selain itu, PSMB UM juga berencana membuka program fast track dan jalur riset dalam waktu dekat. Dengan demikian, melalui akreditasi Unggul dan program-program baru ini, PSMB UM diharapkan terus meningkatkan kualitasnya dalam mendukung kemajuan Indonesia, sejalan dengan visi menjadi rujukan di Asia Tenggara pada tahun 2030.

(Editor : HF)

 

FMIPA UM Menjajaki Kerjasama dengan SEAQIS untuk Meningkatkan Kompetensi Guru IPA

FMIPA UM Menjajaki Kerjasama dengan SEAQIS untuk Meningkatkan Kompetensi Guru IPA

Malang, 1 Juli 2024 – Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Malang (UM) hari ini mengadakan pertemuan penting dengan Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Centre for Quality Improvement of Teachers and Education Personnel in Science (SEAQIS). Pertemuan ini bertujuan untuk menjajaki peluang kerjasama dalam rangka meningkatkan kompetensi guru pengampu pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).
Hadir dalam pertemuan tersebut Wakil Dekan 3 FMIPA, Prof. Dr. Sentot Kusairi, M.Si., serta pakar FMIPA UM dalam bidang lesson study, Prof. Dr. Ibrohim, M.Si. Sementara itu, SEAQIS diwakili oleh Dr. Indrawati, Agus Nugraha, S.E dan Reza. Pertemuan ini membahas berbagai peluang kerjasama yang dapat dilakukan untuk mendukung peningkatan kualitas pembelajaran IPA.
Salah satu fokus utama dalam kerjasama ini adalah pengembangan Lesson Study Community untuk meningkatkan kualitas pembelajaran IPA. Lesson Study Community diharapkan dapat menjadi wadah bagi guru-guru untuk berbagi praktik terbaik dan melakukan refleksi bersama guna memperbaiki proses pembelajaran di kelas.
Selain itu, kerjasama ini juga akan mencakup pengembangan indikator kompetensi guru IPA, yang bertujuan untuk menyusun standar kompetensi yang dapat digunakan sebagai acuan dalam mengukur dan meningkatkan kemampuan guru dalam mengajar IPA. Di samping itu, program Sekolah Berketahanan Iklim juga menjadi salah satu topik yang dibahas. Program ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan pemahaman siswa tentang isu-isu perubahan iklim serta cara-cara untuk menghadapi dan beradaptasi dengan perubahan tersebut.
Berbagai kajian riset juga direncanakan sebagai bagian dari kerjasama ini. Kajian riset tersebut akan difokuskan pada inovasi pembelajaran IPA, efektivitas lesson study, serta implementasi dan dampak dari program-program yang dikembangkan.
Kerjasama antara FMIPA UM dan SEAQIS ini akan dimulai dengan penyusunan perjanjian kerjasama yang rinci dan implementasi program-program yang telah disepakati. Kedua belah pihak berharap kerjasama ini dapat memberikan kontribusi signifikan dalam meningkatkan kualitas pendidikan IPA di Indonesia dan kawasan Asia  Tenggara secara keseluruhan.
“Kami sangat antusias dengan peluang kerjasama ini. Kerjasama juga selaras dengan keberadaan FMIPA UM sebagai penyelenggara PPG Guru IPA. Dengan kolaborasi ini, kami yakin dapat meningkatkan kompetensi guru IPA di Indonesia serta menciptakan lingkungan belajar yang lebih baik bagi siswa,” ujar Prof. Dr. Sentot Kusairi, M.Si.
Dr. Indrawati dari SEAQIS juga menyampaikan optimismenya, “Kerjasama dengan FMIPA UM merupakan langkah strategis untuk memperkuat jaringan dan meningkatkan kualitas pendidikan IPA. Kami berharap program-program yang dikembangkan dapat memberikan dampak positif bagi guru dan siswa.”
Dengan dimulainya kerjasama ini, diharapkan tercipta sinergi yang kuat antara FMIPA UM dan SEAQIS dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan IPA, yang pada akhirnya akan memberikan kontribusi besar bagi pembangunan pendidikan IPA di Indonesia dan juga Asia Tenggara.

Chat