Welcome to Fakultas MIPA UM -

SEMINAR NASIONAL LESSON STUDY 2 No comments yet

ABSTRAK

PROGRAM PENGEMBANGAN LESSON STUDY

DI KABUPATEN PASURUAN DAN PENGARUHNYA

TERHADAP PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN

Drs. H. Iswahyudi, M.Pd

Kepala Bidang Sekolah Lanjutan

Dinas Pendidikan Kabupaten Pasuruan Propinsi Jawa Timur

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan sektor yang sangat penting untuk memajukan suatu daerah. Guru adalah salah satu ujung tombak dalam memajukan pendidikan. Pemberdayaan profesi guru diselenggarakan melalui pengembangan diri yang dilakukan secara demokratis, berkeadilan, tidak diskriminatif, dan berkelanjutan dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, kemajuan bangsa, dan kode etik profesi.

Menurut UU RI No. 14/2005 pasal 7 Profesi guru dan profesi dosen merupakan bidang pekerjaan khusus yang dilaksanakan berdasarkan prinsip sebagai berikut:

memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme;

memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia;

memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas;

memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas;

memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan;

memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja;

memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat;

memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas keprofesionalan; dan

memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru.

Mulai bergulirnya UU No. 22 tahun 1999 yang disempurnakan dengan UU no.32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah atau Otonomi Daerah, Kabupaten Pasuruan melaksanakan kewenangan di bidang Pendidikan yang diwujudkan dalam bentuk RENSTRA / Rencana Strategis Dinas Pendidikan Tahun 2003 sampai 2008 dan Tahun 2009 sampai 2013 yang memiliki VISI yaitu “ Melalui Pendidikan Kita wujudkan Peserta Didik yang Berakhlak Mulia, Cerdas, Kreatif, Mandiri, Sehat, dan Berdaya Saing “.

Sasaran prioritas adalah: a) perluasan dan pemerataan kesempatan pendidikan, b) peningkatan mutu, relevansi dan daya saing pendidikan, dan c) tata kelola, akuntabilitas dan pencitraan publik. Disamping itu Pemerintah Kabupaten Pasuruan di bidang pendidikan juga berpedoman pada grand policy tahun 2004 sampai 2013 dan Perda Pendidikan nomor 17 tahun 2006.

Untuk mewujudkan program tersebut Dinas Pendidikan telah menjalin kerjasama dengan berbagai lembaga Nasional maupun Internasional. Diantaranya, Sampoerna Foundation, Sampoerna Tbk., DBE (Pemerintah Amerika Serikat), JICA (Japan International Cooperation Agency) dari Pemerintah Jepang yang mempunyai komitmen untuk meningkatkan kualitas di segala bidang salah satunya bidang pendidikan di negara-negara berkembang

Salah satu Program JICA yang diluncurkan adalah Strengthening In-Service Teacher Training of Mathematics and Science Education at Junior Secondary Level (SISTTEMS) pada beberapa propinsi dan kabupaten di Indonesia (termasuk Kabupaten Pasuruan) pada Tahun 2006 sd 2008 dan diteruskan dengan Program PELITA (Peningkatan Kualitas Tenaga Pendidikan SMP/MTs) pada tahun 2008 sd 2010. Program tersebut dijalankan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Pasuruan bekerja sama dengan JICA, PMPTK dan Universitas Negeri Malang dengan sasaran Sekolah Menengah Pertama dan Madrasah Tsanawiyah, baik negeri maupun swasta.

SAMPOERNA Foundation bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Pasuruan menerapkan pola peningkatan kualitas tenaga pendidik (Guru) melalui Kegiatan Lesson Study dengan sasaran SMA dan Madrasah Aliyah baik negeri maupun swasta. SAMPOERNA Foundation bekerja sama dengan Universitas Negeri Malang (UM) sebagai tenaga pendamping dalam pelaksanaanya.

DBE 1, 2, dan 3 juga merupakan bentuk kerja sama Dinas Pendidikan Kabupaten Pasuruan dengan Pemerintah Amerika Serikat untuk meningkatkan kualitas guru, manajemen dan life skill di tingkat SD, SMP dan MTs

Terpilihnya Kabupaten Pasuruan sebagai Daerah Piloting Lesson Study melalui tahapan seleksi yang cukup ketat. Berdasarkan hasil seleksi tersebut ditetapkan tiga kabupaten pada tiga Propinsi di Jawa, yaitu: (1) Kabupaten Pasuruan Propinsi Jawa Timur, (2) Kabupaten Sumedang Propinsi Jawa Barat dan (3) Kabupaten Bantul Propinsi Jawa Tengah. Selanjutnya diadakan Memory of Understanding (MOU) antara JICA, PMPTK, Pemerintah Kabupaten Pasuruan dan Universitas Negeri Malang pada tanggal 24 April 2006.

PELAKSANAAN LESSON STUDY DI KABUPATEN PASURUAN

Kondisi Pendidikan sebelum Status Piloting Lesson Study

Berdasarkan pengalaman dan pengamatan Dinas Pendidikan Kabupaten Pasuruan kondisi pendidikan sebelum status Piloting Lesson Study dapat digambarkan sebagai berikut.

a. Guru

Ø Kompetensi profesional kurang ( metode, media, penilaian, pengelolaan kelas)

Ø Ketidaksiapan guru jika ada supervise baik dari Kepala Sekolah dan Pengawas

Ø Cenderung tertutup terhadap teman sejawat

Ø Suka mengkritik teman sejawat

Ø Sedikit sekali membicarakan permasalahan belajar siswa

Ø Hanya memperhatikan siswa yang pandai, sedangkan kelompok menengah ke bawah sering terabaikan

Ø Kurangnya perhatian terhadap siswa yang nakal

Ø Kurang dalam inovasi pembelajaran

Ø Kemampuan kepenulisan ilmiah sangat rendah

Ø Kurang mengenal karakter belajar siswa

b. Siswa

Ø Aktifitas belajar rendah (bertanya, menjawab, presentasi, kerja kelompok)

Ø Kurang konsentrasi dalam belajar

Ø Takut jika mengemukakan pendapat

Ø Kurang percaya diri

Ø Tidak biasa dengan perbedaan pendapat

Ø Kurang kreatif

c. Kepala Sekolah

Ø Kesulitan dalam menerapkan supervisi pada guru

Ø Kesulitan dalam mengenal karakter dan kemampuan tenaga pengajar

Ø Komunikasi secara personal dengan guru belum maksimal

Ø Jarang terjadi diskusi dengan guru berkaitan dengan proses pembelajaran

Ø Belum pernah memberi motivasi guru dengan membuka kelas

Ø Tidak mengenal karakter siswa saat belajar

d. Pengawas

Ø Pengawasan hanya terbatas pada guru dan perangkatnya, belum menyentuh siswa pada saat belajar

Ø Tidak berdiskusi bersama dengan guru dan kepala sekolah tentang bagaimana siswa belajar

Ø Kunjungan ke sekolah hanya berdasarkan pada jadwal resmi yang frekuensinya sangat minim

Persiapan Program Lesson Study

Persiapan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pasuruan dalam merealisasikan penerapan Lesson Study dilakukan dalam beberapa tahap:

e. Pembagian Wilayah menjadi Home Base

Wilayah Kabupaten Pasuruan yang sangat luas dan jumlah sekolah sasaran yang cukup besar yaitu 107 SMP Negeri dan swasta serta 16 MTs Negeri Swasta harus dibagi menjadi 8 Home Base di 2 wilayah (Timur dan Barat):

Wilayah Timur

Wilayah Barat

Home Base

Anggota

Home Base

Anggota

1. Tutur

Pengawas:

Drs.H.M Toyib,MM

1. Kec. Tutur

2. Kec. Purwodadi

5. Purwosari

Pengawas:

Drs. I Made Ginada

1. Kec. Purwosari

2. Kec. Sukorejo

2. Kejayan

Pengawas:

Drs.H.Ali Fathurrozi

1. Kec. Kejayan

2. Kec. Kraton

3. Kec. Pohjentrek

4. Kec. Wonorejo

6. Pandaan

Pengawas:

H. Anwar, S.Pd

1. Kec. Pandaan

2. Kec. Prigen

3. Gondang Wetan

Pengawas:

Drs. Prasetyo Koesmo

1. Kec. Gon Wetan

2. Kec. Tosari

3. Kec. Puspo

4. Kec. Pasrepan

5. Kec. Winongan

7. Beji

Pengawas:

H. Arief Susilotomo, S.Pd

1. Kec. Beji

2. Kec. Gempol

4. Nguling

Pengawas:

Drs. Subali

1. Kec. Nguling

2. Kec. Grati

3. Kec. Lekok

4. Kec. Lumbang

5. Kec. Rejoso

8. Bangil

Pengawas:

Dr. Sunaryo

1. Kec. Bangil

2. Kec. Rembang

Dengan adanya pembagian wilayah menjadi 8 Home Base, maka beberapa hambatan dapat diatasi, diantaranya:

1. Jarak antar sekolah dengan tempat pertemuan relatif lebih dekat

2. Jumlah guru sasaran meningkat

3. Pengelolaan lebih mudah

4. Memberi peluang bagi sekolah untuk lebih berperan aktif

f. Perekrutan Fasilitator

Setiap Home Base memiliki 4 Fasilitator ( 2 Fasilitator Matematika, 1 Fasilitator IPA-Fisika, dan 1 Fasilitator IPA Biologi). Proses perekrutan fasilitator melalui beberapa tahap yaitu:

1. Sekolah mengusulkan beberapa guru yang memiliki kompetensi di bidangnya melalui pengawas sekolah lanjutan.

2. Calon fasilitator melengkapi berkas administrasi.

3. Dilakukan tes tulis dan wawancara.

4. Ditetapkan 32 fasilitator ( 16 Fasilitator Matematika, 8 Fasilitator IPA-Biologi, dan 8 Fasilitator IPA-Fisika) yang siap menyukseskan program Lesson Study di Kabupaten Pasuruan.

5. Pada Proyek PELITA dilakukan rekruitmen fasilitator II sebanyak 32 Fasilitator . Fasilitator I dan II bersama-sama mengelola pelaksanaan Lesson Study di tingkat Home Base.

g. Pelatihan Fasilitator

Fasilitator I yang telah terpilih telah menjalankan pelatihan Fisilitator selama 9 kali guna meningkatkan kompetensi­nya.Sedangkan Fasilitator II baru dilatih sebanyak 2 kali. Dalam pelatihan tersebut sasaran utamanya adalah melatih ketajaman­nya dalam pengamatan pembelajaran di dalam kelas. Untuk itu, dalam setiap pelatihan fasilitator selalu diadakan open lesson (seorang guru model melakukan pembelajaran di kelas dan guru yang lain bertindak sebagai pengamat) untuk mata pelajaran Matematika dan IPA. Pada waktu tertentu open lesson juga dilakukan untuk pelajaran non-MIPA Sekolah Piloting Lesson Study dan LSBS Mandiri.

Sampai dengan bulan Desember 2008 telah dilakukan 9 kali pelatihan Fasilitator I, sebagai berikut:

No

Waktu

Tempat

Pelatihan I

18 – 19 September 2006

Hotel Tretes View Prigen

Pelatihan II

11 – 12 Desember 2006

Dinas P & K Kab. Pasuruan

Pelatihan III

1 – 2 Maret 2007

SMPN 1 Pandaan

Pelatihan IV

28 – 29 Mei 2007

UDIKLAT PLN Pandaan

Pelatihan V

4 – 5 September 2007

Hotel Tretes View Prigen

Pelatihan VI

5 – 6 Nopember 2007

SMK N Grati

Pelatihan VII

3 – 4 Maret 2008

Hotel Inna Tretes Prigen

Pelatihan VIII

26 – 28 Mei 2008

Hotel Inna Tretes Prigen

Pelatihan IX

25 – 26 Agustus 2008

Hotel Inna Tretes Prigen

Pada saat proyek PELITA bergulir dilaksanakan pula program pelatihan Fasilitator II. Sampai bulan September 2009 sudah dilaksanakan pelatihan sebanyak 2 kali, sebagai berikut :

No

Waktu

Tempat

Pelatihan I

05 – 06 Mei 2009

Hotel Tretes View Prigen

Pelatihan II

08 – 09 Juni 2009

SMP Negeri 2 Beji

h. Pelatihan Menejemen untuk Kepala Sekolah

Peran Kepala sekolah dalam menyukseskan Lesson Study sangatlah penting. Dukungan Kepala Sekolah dalam kegiatan Lesson Study diwujudkan dalam memberikan fasilitas bagi guru-guru di sekolahnya yang akan mengikuti kegiatan di Home Basenya masing-masing. Untuk memperkuat dukungan Kepala Sekolah tersebut, maka dilakukan Pelatihan Manajemen untuk Kepala Kekolah. Dalam pelatihan tersebut sasaran utamanya adalah membicarakan masalah peran kepala sekolah dalam memberikan dukungannya terhadap pelaksanaan Lesson Study di wilayah dan lembaganya masing-masing.

Narasumber dalam pelatihan ini adalah dosen dari FMIPA dan tenaga ahli JICA. Salah satu tenaga ahli JICA adalah seorang mantan kepala sekolah SMP yang telah sukses melaksanakan studi pembelajaran di sekolahnya yakni Mr. Masaaki SATO. Dengan pelatihan ini diharapkan para kepala sekolah dapat memahami dan juga terampil melaksanakan studi pembelajaran, sehingga dapat memberikan dukungan yang memadai bagi para guru di sekolahnya untuk aktif dalam kegiatan studi pembelajaran.

Pelatihan Manajemen Kepala Sekolah sudah dilaksanakan sebanyak 5 kali.

No

Waktu

Tempat

Hasil

Pelatihan I

20 September 2006

UDIKLAT PLN Pandaan

Menambah kuota dari seluruh guru MIPA kelas 7 menjadi seluruh guru MIPA kelas 7 dan 8

Pelatihan II

28 Pebruari 2007

SMPN 1 Pandaan

Kesepakatan tertulis para Kepala Sekolah dalam mendukung kegiatan Lesson Study di Home Basenya masing-masing

Pelatihan III

03 September 2007

SMK N Grati

a. Memotivasi sekolah lain untuk melakukan LSBS mandiri

b. Mengingatkan lagi peranan Kepala Sekolah untuk memperkuat kegiatan MGMP Wilayah

Pelatihan IV

Pebruari 2008

SMP N 2 Bangil

Dan

SMPN Lekok

Memeperkuat pengetahuan Kepala Sekolah terhadap lesson study dengan mengadakan open class di MGMP Home Base

Pelatihan V

01 September 2008

dan

03 September 2008

SMP N 1 Beji untuk wilayah barat dan SMPN 2 Grati untuk wilayah timur

Memperkuat dukungan kepala sekolah terhadap Lesson Study, dengan membuka kelas salah satu KS jadi guru model dan KS lainnya jadi observer

i. Perekrutan Calon Sekolah Piloting Lesson Study Berbasis Sekolah (LSBS) dan LSBS Mandiri

Perekrutan diawali dengan pengusulan nominasi sekolah oleh masing-masing Home Base. Setiap Home Base diberi jatah untuk mengusulkan satu sekolah calon sekolah piloting. Panitia seleksi terdiri dari unsur Pengawas SL, Dosen UM, dan JICA. Proses seleksi dilakukan dengan jalan:

a. Pengisian angket oleh pihak sekolah

b. Wawancara pihak panitia dengan Kepala Sekolah yang bersangkutan.

Berdasarkan angket dan wawancara dengan beberapa juri yang terdiri dari Expert JICA, PMPTK dan Dinas P dan K Kabupaten Pasuruan ditetapkan 2 sekolah piloting:

1. SMPN 1 Prigen untuk wilayah barat, dan

2. SMPN 2 Grati untuk wilayah timur.

Selain LSBS piloting diatas, dengan berjalannya waktu banyak sekolah lain yang mengadakan Lesson Study Berbasis Sekolah (LSBS) secara mandiri. Untuk memperluas pelaksanaan Lesson Study di tingkat sekolah maka sejak semester genap tahun pelajaran 2008-2009 Dinas Pendidikan Kabupaten Pasuruan mewajibkan sekolah yang berstatus SSN untuk menyelenggarakan Lesson Study Berbasis Sekolah (LSBS) secara mandiri. Sampai saat ini sudah tercatat ada 21 sekolah yang mengadakan LSBS mandiri.

j. Pengiriman Peserta Counterpart Training ke Jepang

Program Lesson Study di Kabupaten Pasuruan diperkuat oleh pihak JICA dengan program pengiriman counterpart training ke Jepang untuk memperdalam ilmu tentang Lesson Study dan melihat secara langsung kegiatan Lesson Study di negara Jepang. Sampai dengan bulan Oktober 2008, direncanakan ada 3 kali pengiriman counterpart training yang terdiri atas guru, Kepala Sekolah, dan pihak Dinas.

· Pengiriman Counterpart Training I pada tanggal 28 Oktober sd 11 Nopember 2006 dengan peserta:

a. Try Setyo Astutik, S.Pd ( Kepala Sekolah 1 Prigen)

b. Muchammad Muchlis, S.Pd (guru IPA-Fisika SMPN 2 Grati)

· Pengiriman Counterpart Training II pada tanggal 7 sd 22 Juli 2007 dengan peserta:

a. Drs. H. Iswahyudi, M.Pd. ( Kasubdin SL )

b. H. Johno Effendie, S.Pd. M.Si ( Kepala SMPN 1 Tutur )

c. Drs. H. M. Firdaus Efendi ( Guru Matematika SMPN 2 Bangil)

· Pengiriman Counterpart Training III pada tanggal 28 Juni sd 12 Juli 2008 dengan peserta:

a. Drs. Ibnu Wahyudi. ( Kasi Kurikulum )

b. Dra. Tanti Rahayu, M.Pd ( Kepala SMPN 1 Kejayan )

c. Saeran, S.Pd ( Guru Biologi SMPN 1 Purwosari)

Dengan adanya pengiriman Counterpart Training ini tentunya dapat memberikan dukungan yang cukup berarti bagi pelaksanaan program Lesson Study di Kabupaten Pasuruan baik dari guru maupun kepala Sekolah. Guru peserta counterpart selalu membagi pengalaman pada setiap pelatihan fasilitator dan forum guru lainnya. Kepala Sekolah membagi pengalamannya pada Pelatihan Menejemen Kepala Sekolah , Forum FKKS, dan Forum Kepala Sekolah lainnya. Pihak Dinas membagi pengalamannya kepada pihak Bupati, wakil Bupati, DPRD, Dewan Pendidikan, dan tokoh-tokoh peduli pendidikan untuk meyakinkan akan pentingnya program Lesson Study. Dengan adanya program ini, tentunya Lesson Study di Kabupaten Pasuruan semakin berkembang.

PELAKSANAAN LESSON STUDY

a. Pelaksanaan di MGMP Wilayah

Pelaksanaan Lesson Study di MGMP Wilayah telah dimulai pada bulan September 2006. Setiap hari Kamis untuk Pelajaran Matematika dan Sabtu untuk Pelajaran IPA diadakan kegiatan plan, do, dan see secara bergantian. Setiap pertemuan selalu dipandu oleh 2 orang fasilitator dan 2 Dosen UM. Pada saat-saat tertentu juga dikunjungi oleh pihak expert dari JICA.

Dalam perjalanannya Lesson Study dilaksanakan di SMP kabupaten Pasuruan dilakukan melalui berbagai tahap (Mr Toyomane menyebut dengan istilah KELAS)

TAHAP I

A. Plan (membuat RPP)

Seluruh anggota bersama-sama membuat RPP dan LKS selanjutnya menentukan guru model

B. Do (melaksanakan Open Lesson)

Guru model melaksanakan pembelajaran berpegang teguh pada RPP

C. Observasi (mengamati Open Lesson)

Observer dikelompokkan dan mengamati satu kelompok tertentu

D. Refleksi (memberi komentar)

Komentar dilakukan oleh perwakilan kelompok. Komentar negatif pada guru model dihindari .

TAHAP II

A. Plan (membuat RPP)

Guru model ditunjuk dahulu, dia membuat draft RPP dan LKS, kemudian didiskusikan dalam MGMP

B. Do (melaksanakan Open Lesson)

Guru model melaksanakan pembelajaran dan dapat mengembangkan RPP sesuai situasi dan kondisi kelas

C. Observasi (mengamati Open Lesson)

Observer tidak berkelompok mengamati kelas secara keseluruhan

D. Refleksi (memberi komentar)

Semua observer memiliki kesempatan berkomentar. Komentar negatif sesuai fakta diperbolehkan dengan disertai analisa penyebab dan cara mengatasinya

TAHAP III

A. Plan (membuat RPP)

Guru model ditunjuk dahulu, dia membuat RPP, LKS sendiri dengan meminta pendapat rekan guru di sekolah/MGMP

B. Do (melaksanakan Open Lesson)

Guru model melaksanakan pembelajaran dan dapat mengadaptasikan RPP sesuai situasi dan kondisi kelas

C. Observasi (mengamati Open Lesson)

Observer tidak berkelompok dan boleh mengamati kelas secara keseluruhan

D. Refleksi (memberi komentar)

Semua observer memiliki kesempatan berkomentar.

Komentar negatif sesuai fakta diperbolehkan dengan disertai analisa penyebab dan cara mengatasinya

Perbandingan Masing-masing tahapan

1. Do

Kegiatan Guru

Tahap I : Guru model melaksanakan pembelajaran berpegang teguh pada RPP

Tahap II : Guru model melaksanakan pembelajaran dan dapat mengembangkan RPP sesuai situasi dan kondisi kelas

Tahap III : Guru model melaksanakan pembelajaran dan dapat mengadaptasikan RPP sesuai situasi dan kondisi kelas Observasi

Kegiatan observer

Tahap I : Observer dikelompokkan dan mengamati satu kelompok tertentu

Tahap II : Observer tidak berkelompok mengamati kelas secara keseluruhan

Tahap III : Observer tidak berkelompok mengamati kelas secara keseluruhan

2. Refleksi

Tahap I : Komentar dilakukan oleh perwakilan kelompok. Komentar negatif pada guru model dihindari

Tahap II : Semua observer memiliki kesempatan berkomentar. Komentar negatif sesuai fakta diperbolehkan dengan disertai analisa penyebab dan cara mengatasinya

Tahap III : Semua observer memiliki kesempatan berkomentar. Komentar negatif sesuai fakta diperbolehkan dengan disertai analisa penyebab dan cara mengatasinya. Diskusi tentang pengembangan dan pendalaman materi

Pada tahap PELITA saat ini refleksi diarahkan untuk memperbaiki RPP, LKS dan pembelajaran. Pada kegiatan do selanjutnya dengan guru yang sama dilakukan lagi RPP yang telah diperbaiki bersama di kelas yang berbeda. Diharapkan dengan langkah tersebut efektifitas pembelajar meningkat.

Perkembangan jumlah peserta (guru) pada setiap Home Base senantiasa mengalami peningkatan secara signifikan, yang terlihat pada grafik sebagai berikut:

Homebase / Wilayah

? Sekolah

Matematika

Sains-Fisika

Sains-Biologi

? Guru

? Guru

? Guru

Tutur

16

15

9

12

Kejayan

15

21

20

19

Gondangwetan

17

20

17

16

Nguling

17

26

17

21

Purwosari

12

13

12

18

Bangil

19

17

19

22

Beji

19

22

18

13

Pandaan

23

23

18

17

Jumlah

138

157

130

138

Jumlah Keseluruhan

425

Memperhatikan grafik perkembangan jumlah peserta tersebut dapat dikemukakan antara lain:

Pada Lesson Study pola MGMP Matematika di Kabupeten Pasuruan terjadi peningkatan secara signifikan pada semua Home Base, dengan rata-rata peningkatan sebesar 25% di Home Base Tutur, 25% di Home Base Kejayan, 23% di Home Base Gondangwetan, 32% di Home Base Nguling, 41% di Home Base Purwosari, 20% di Home Base Pandaan, 28% di Home Base Beji dan 20% di Home Base Bangil.

Proses peningkatan jumlah peserta ini menunjukkan rasa keingintahuan akan Lesson Study pada guru di wilayah kabupaten Pasuruan untuk terlibat secara lebih aktif dalam proses Plan-Do-See. Keterlibatan secara maksimal ketiga proses dalam LS tersebut telah diimbangi dengan model-model baru dalam pembinaan profesionalisme guru dengan melibatkan semua pihak yang terkait. Kepala Sekolah, Pengawas dan jajaran Dinas Pendidikan di Kabupaten Pasuruan secara rutin dan berkesinambungan mengadakan Monitoring dan Evaluasi terhadap pelaksanaan LS di masing-masing wilayahnya.

Semangat untuk mengikuti kegiatan Lesson Study terlihat dari kehadiran peserta yang penuh antusias dan merasa sangat senang untuk memberikan masukan saran dan kritik terhadap guru model maupun komentar guru lain pada sesi refleksi.

Beberapa pertanyaan yang diberikan pada Instrumen Monitoring dan Evaluasi Pelaksanaan Lesson Study pola MGMP di Kabupaten Pasuruan” terhadap siswa, guru dan kepala sekolah antara lain tentang: (1) kegiatan MGMP, (2) perubahan dan dukungan organisasi, (3) penggunaan pengetahuan dan keterampilan baru, dan (4) hasil belajar mendapatkan tanggapan yang baik.

Peningkatan pada jumlah pertemuan sangat signifikan. Sampai dengan bulan September 2009 ini di seluruh wilayah Kabupaten Pasuruan telah dilakukan setidaknya 8 Home Base x 45 kali kegiatan = 360 kali kegiatan. Kegiatan semacam ini tentunya tidak akan didapatkan dalam pelatihan guru selama ini di Indonesia. Dari kegiatan open lesson tersebut ternyata terdapat perkembangan yang cukup baik, di antaranya:

a. kemampuan mengamati setiap guru peserta MGMP naik dari level I yang hanya bisa mengamati kelompok tertentu saja menjadi level II yaitu dapat mengamati juga kelompok lainnya,

b. kemampuan merefleksi guru yang awalnya hanya mengungkapkan fakta, naik menjadi mengungkapkan opini mereka tentang mengapa fakta tersebut terjadi pada siswa yang diamati, dan

c. teknik refleksi yang awalnya hanya berurutan dari satu observer ke observer lain, menjadi model lempar bola yang lebih mengasyikkan.

Keterlibatan dosen pendamping dalam pelaksanaan Lesson Study pola MGMP dengan pola rotasi antar dosen pendamping memberikan angin segar terhadap peserta dengan memberikan wacana keilmuan dan keilmiahan yang makin beragam.

b. Pelaksanaan di Sekolah Piloting (LSBS)

1. Kondisi Awal Sebelum Menjadi Sekolah Piloting

· Hanya sebagian kecil guru yang berdikusi tentang pembelajaran dan bagaimana siswa belajar

· Banyak yang ingin mengetahui Lesson Study

2. Pengelompokan Guru Mata pelajaran Serumpun

Dalam pelaksanaan Lesson Study, para guru dikelompokkan menjadi 5 gugus mata pelajaran. Pengelompokan dilakukan untuk menambah jumlah guru yang berkolaborasi dan didasarkan pada mata pelajaran serumpun, yaitu:

i. kelompok mata pelajaran Pendidikan Agama dan PKn,

ii. kelompok mata pelajaran IPS

iii. kelompok mata pelajaran Bahasa

iv. kelompok mata pelajaran MIPA

v. kelompok mata pelajaran Kertakes, Penjaskes, Pendidikan Seni dan muatan lokal.

Pengelompokan ini diharapkan dapat mempermudah koordinasi saat melakukan tahapan dalam Lesson Study. Koordinator tiap gugus dipilih dari guru MIPA yang sudah memiliki pengalaman melaksanakan Lesson Study di MGMP SISTTEMS JICA. Tugas utama koordinator adalah mendampingi dan memberikan penjelasan guru segugus dalam melaksanakan tahapan Lesson Study.

3. Workshop Lesson Study LSBS

Workshop diadakan pada awal Tahun pelajaran 2007/2008.

1. Tanggal 9, 11 dan 25 Juli 2007 di SMPN 1 Prigen.

Materi : Pengenalan Lesson Study, Pengelolaan LSBS dan Open Class

Nara Sumber : Eisuke Saito ( JICA )

Drs. Ridwan Joharmawan, MSi (Dosen UM)

Drs. H. Ustadi (Fasilitator Fisika)

Peserta : Seluruh dewan guru SMPN 1 Prigen

2. Tanggal 26 Juli 2007 di SMPN 2 Grati.

Materi : Pengenalan Lesson Study, LSBS, dan LKS

Nara Sumber : Dr. Istamar Syamsuri ( Dosen UM )

Eisuke Saito ( JICA )

Peserta : 1. Seluruh dewan guru SMPN 2 Grati

2. Dewan guru anggota MGMP Bahasa Daerah

4. Menyusun rencana pembelajaran (Plan)

Kegiatan menyusun rencana pelajaran (plan) dilakukan secara mandiri oleh masing-masing gugus di luar jadwal yang telah ditentukan. Kegiatan ini bisa dilakukan pada saat jam kosong di antara anggota guru yang segugus. Diskusi antar anggota gugus bisa dirancang sendiri baik waktu, tempat, maupun tema yang akan diajarkan. Pihak sekolah hanya menyediakan peralatan yang dibutuhkan dan jasa pengetikan RPP dan LKS yang dihasilkan.

5. Membuka kelas (Do)

Kegiatan membuka kelas Lesson Study dilakukan setiap hari Jum’at. Mulai semester 1 Tahun Pelajaran 2007/2008 khusus hari Jum’at kelas 7 dan kelas 8 dikosongkan jam pelajarannya. Acara mereka diarahkan pada kegiatan pembiasaan seperti bersih-bersih, kegiatan keagamaan, ekstra kurikuler, dan kelas yang menjadi target

akan melaksanakan Lesson Study. Sedangkan siswa kelas 3, tetap melaksanakan pelajaran seperti biasa. Kelas Lesson Study dimulai jam pertama (07.00 wib), yang diikuti dengan kegiatan refleksi hingga selesai.

6. Kondisi Saat Ini ( Setelah 10 kali open lesson)

· Kerja sama antar guru sudah mulai nampak

· Banyak kelas yang ingin dijadikan obyek open kelas

· Masing-masing guru sudah merasa tidak sendiri lagi

· Tampak kondisi saling belajar dan saling menghargai antar guru

c. Desiminasi Lesson Study

1. Desiminasi internal di Kabupaten Pasuruan

Semangat dan rasa ingin tahu tentang Lesson Study merambah kepada para guru selain mata pelajaran Matematika dan IPA. Rasa ingin tahu tersebut kemudian ditangkap oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pasuruan dengan menyelenggarakan Workshop Lesson Study untuk 15 mata pelajaran SMP, SMA dan SMK Negeri dan Swasta. Masing-masing pelajaran diikuti oleh 50 guru SMP, SMA dan SMK sehingga total guru yang mengikuti kegiatan tersebut sebanyak 750 guru. Kegiatan Workshop Lesson Study dibuka oleh Bupati Pasuruan pada tanggal 26 Maret 2007 yang dihadiri oleh perwakilan Dirjen PMPTK Jakarta dan ditutup oleh Wakil Bupati Pasuruan pada tanggal 7 April 2007. Setelah kegiatan ini seluruh kegiatan MGMP di Kabupaten Pasuruan dilaksanakan dengan menggunakan pola kegiatan Lesson Study.

Desiminasi Lesson Study juga dilakukan kepada para guru dan kepala sekolah SD/MI dengan cara meraka diundang pada kegiatan Plan-Do-See di Home Base. Rasa senang karena dapat mengambil manfaat langsung dari kegiatan ini membuat mereka ingin selalu diberi kesempatan untuk turut menjadi peserta atau pengamat. Mencoba untuk melaksanakan di kegiatan Kelompok Kerja Guru (KKG) di Gugus Sekolah (Guslah) juga mereka lakukan setelah mengetahui manfaat Lesson Study. Jadi tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa demam Lesson Study telah mewabah para guru di Kabupaten Pasuruan.

2. Desiminasi eksternal Kabupaten Pasuruan

Suatu langkah yang baik dan membawa beribu kebaikan dan manfaat amatlah kikir jika tidak mau menularkan langkah tersebut kepada tetangga. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pasuruan mengundang Kabupaten dan Kota terdekat untuk mengetahui Lesson Study, manfaat dan cara pengelolaannya. Kegiatan forum desiminasi ini dengan mengundang guru inti, kepala sekolah dan pejabat dinas Pendidikan dan Kebudayaan :

1. Kota Pasuruan 3. Kabupaten Lumajang

2. Kabupaten Malang 4. Kota Probolingga

Forum desiminasi telah dilaksanakan tiga kali. Pada kegiatan forum desiminasi kesatu dan kedua mereka diberikan materi: apa dan bagaimana Lesson Study, manfaat, pengelolaan dan tentunya juga kendala yang dihadapi. Pada kegiatan ketiga mereka diberi kesempatan untuk menjadi observer pada Open Class pelajaran Matematika di SMP Negeri 1 Purwosari Kabupaten Pasuruan dan dilanjutkan dengan diskusi refleksi .

Kegiatan desiminasi ke luar kabupaten Pasuruan ini membawa hasil dengan dibuktikan mereka (Kota Pasuruan dan Kota Probolinggo) mulai mengumpulkan para guru untuk diberi sosialisasi tentang Lesson Study, melaksanakan tahap Plan-Do-See. Di kota Pasuruan diselenggarakan di SMP Negeri 8 Pasuruan dan di Kota Probolinggo dilaksanakan di SMP Negeri 4 Probolinggo.

3. Dampak Program Lesson Study

Program Lesson Study di Kabupaten pasuruan telah berjalan selama 3 tahun lebih. Selama menjalankan program tersebut telah dilaksanakan lebih dari 475 kali Open Class yang disertai dengan diskusi refleksi. Pada setiap diskusi refleksi para pelaku kegiatan Lesson Study banyak mendapatkan masukan terutama tentang kondisi belajar siswa dan masalah pembelajaran lainnya. Tentunya kegiatan ini berdampak yang cukup signifikan bagi mutu pendidikan di Kabupaten Pasuruan. Beberapa dampak yang dirasakan selama Program Lesson Study anatara lain adalah sebagai berikut.

a. Bagi Guru

Ø Lebih terbuka,

Dengan adanya kegiatan Lesson Study guru lebih mudah menerima saran dari teman sejawat terutama saat diskusi refleksi. Perbedaan pendapat juga sering muncul tetapi dalam forum ini guru belajar menghargai pendapat teman sejawat walaupun berbeda.

Ø Mampu berinovasi dan kreatif (metode, media, pengelolaan kelas, penilaian).

Dengan adanya Open Class, maka guru yang terlibat akan melihat secara langsung model-model pembelajaran secara langsung yang disertai diskusi refleksi akan semakin memantapkan model tersebut. Suasana saling belajarpun tampak pada sesi diskusi refleksi. Kegiatan Open Class yang disertai dengan diskusi refleksi tentunya akan terimbas di dalam kelas nyata.

Ø Kemampuan menyusun RPP dan LKS meningkat

Sebelum adanya program Lesson Study, guru-guru biasanya belajar tentang RPP dan LKS hanya di forum MGMP. Melalui kegiatan Lesson Study didiskusikan bersama bentuk dan efektifitas RPP dan LKS yang telah dibuat oleh guru. Wawasan guru tentang RPP dan LKSpun akan tumbuh sesuai dengan kondisi sekolah dan siswa yang ada di sekolah yang bersangkutan. Bahkan beberapa RPP yang telah dihasilkan diadaptasi modelnya oleh daerah lain.

Ø Open Kelas menjadi hal biasa

Pada awal program Lesson Study, kegiatan Open Class merupakan kegiatan yang menakutkan, terutama bagi guru model. Sekarang guru-guru sudah merasakan manfaat dari kegiatan tersebut, mereka sudah tidak merasa terbebani dengan kegiatan serupa. Kehadiran pengawas ke dalam kelas merekapun menjadi hal yang biasa.

Ø Kemampuan mengamati siswa meningkat

Kegiatan observasi yang dilanjutkan dengan diskusi refleksi sudah menjadi hal yang biasa bagi guru. Kegiatan ini membawa dampak peningkatan guru dalam melihat kondisi belajar siswa baik secara kelas maupun secara individu. Kesadaran menerima kondisi siswa yang beragam kemampuannya pun meningkat. Kemampuan ini akan terasa jika mereka kembali ke kelas mereka. Guru akan lebih arif dalam mengambil tindakan jika ada masalah pembelajaran baik secara individu maupun secara kelas.

Ø Kompetensi terhadap materi meningkat

Kegiatan Lesson Study sangat kondusif untuk membahas tentang materi yang telah dibawakan oleh guru, dan respon siswa terhadap materi tersebut. Dengan adanya diskusi refleksi maka sharing kemampuanpun akan terjadi diantara guru yang melakukan diskusi refleksi, terutama yang berbasis MGMP.

Ø Kemampuan menulis hasil observasi dan refleksi meningkat

Kemampuan guru dalam kepenulisan meningkat. Kenyataan ini dapat dilihat dengan banyaknya guru guru di kabupaten yang tampil dalam forum kepenulisan ilmiah dan seminar-seminar baik tingkat regional maupun nasional. Kebiasaan guru dalam mengobservasi dan refleksi ternyata berdampak yang cukup baik bagi perkembangan kepenulisan.

Ø Kemampuan mengemukakan pendapat meningkat

Beberapa guru yang dulunya tidak terbiasa bahkan tidak siap jika berbicara di depan forum, dengan adanya kebiasaan diskusi refleksi ternyata menjadikan mereka terbiasa dalam mengemukakan pendapatnya. Bahkan beberapa guru di Kabupaten Pasuruan bias memeberikan testimony didepan guru-guru maupun pengawas tingkat propinsi.

Ø Santun dalam menkritisi teman sejawat

Hal yang menarik dalam Lesson Study adalah mempererat hubungan antar guru. Hal tersebut diawali dengan adanya kesantunan dalam diskusi refleksi. Saling menghargai pendapat antar guru merupakan kesepakatan informal yang dijunjung setiap sesi diskusi refleksi. Pembeicaraan guru tentang cara belajar siswa merupakan menu yang di bahas setiap diskusi, hal ini ternyata bisa mengalihkan pembicaraan yang tidak terarah di lingkungan dewan guru.

a. Siswa

Ø Kemampuan (diskusi, bertanya, menjawab) meningkat

Dinamika kelas sebelum program Lesson Study sangatlah stagnan. Alur komunikasi lebih banyak dari guru ke siswa. Pembelajaran lebih banyak didominasi oleh guru. Setelah dilakukan program Lesson Study, terjadi perubahan dinamika kelas. Alur informasi terjadi multi arah, dari guru ke siswa, dari siswa ke guru, dan dari siswa ke siswa. Dominasi guru sudah banyak berkurang. Siswa lebih banyak mengeksplore gagasan dalam ruang diskusi yang berhasil diciptakan oleh guru. Banyak muncul tutor sebaya dalam kelas mereka, dan mereka merasa senang dengan pembelajaran yang disajikan oleh guru.

Ø Kreatifitas tumbuh

Munculnya tutor sebaya dan ruang diskusi yang terbuka lebar membuat kreatifitas siswa ikut meningkat. Kenyataan ini dapat diamati dari berbagai Open Class yang semakin lama semakin menarik untuk disimak. Guru juga semakin kreatif dalam menyajikan pembelajaran. Pada dasarnya Lesson Study memberikan kontribusi positif bagi pertumbuhan kreatifitas baik murid, guru, maupun kepala sekolah.

Ø Ketrampilan berdiskusi meningkat, terbiasa dengan perbedaan pendapat dan presentasi

Karena siswa sudah terbiasa dengan diskusi dan presentasi kreatif, maka ketrampilan berdiskusipun semakin meningkat. Dalam beberapa Open Class tampak bahwa mereka semakin dewasa dalam berdiskusi. Mereka sudah biasa dengan perbedaan pendapat dan saling menghargai dalam perbedaan tersebut. Perubahan perilaku siswa tersebut merupakan dampak dari program Lesson Study.

b. Bagi Kepala Sekolah

Ø Terbantu dalam supervisi kelas

Sebelum program Lesson Study, guru merasa kurang siap jika ada supervise kelas oleh kepala sekolah. Hal ini membuat kepala sekolah agak ragu atau sungkan jika masuk ke dalam kelas untuk mengamati pembelajaran. Kini, para guru sudah terbiasa dengan membuka kelas. Mereka sudah merasa terbiasa jika kepala sekolah masuk ke dalam kelasnya. Hal ini membuat kepala sekolah tidak ragu lagi untuk masuk ke dalam kelas untuk mengamati pembelajaran.

Ø Lebih mengenal karakter dan kompetensi professional guru

Saat membuka kelas, kepala sekolah akan mengamati pembelajaran mulai dari awal sampai dengan akhir dan dilanjutkan dengan diskusi refleksi. Hal ini dapat mebuat kepala sekolah lebih dekat dan lebih dalam melihat kreatifitas, ketekunan, usaha-usaha keras seorang guru dalam menjalankan tugasnya. Bahkan kepala sekolah dapat menyimak bagaimana guru mempersiapkan pembelajarannya. Kenyataan ini berdampak kepala sekolah lebih menghargai guru dalam menjalankan tugasnya.

Ø Lebih dekat dengan guru

Saat diskusi refleksi akan terjadi pembicaraan anatar guru dan antara guru dan kepala sekolah. Saat itu focus utama pembicaraan adalah siswa dengan segala aktifitasnya yang jauh dari gunjingan atau sejenisnya. Dalam forum tersebut tentunya etika saling memuji dan mendukung antar anggota diskusi dijunjung tinggi. Kebiasaan refleksi tersebut akan berdampak kedekatan antar guru dan antara guru dan kepala sekolah semakin baik.

Ø Meningkatkan kemampuan menejerial guru

Dengan seringnya diadakan diskusi refleksi tentunya sering adanya forum yang membicarakan tentang pembelajaran di dalam kelas. Hal ini memudahkan kepala sekolah dalam mengatur guru yang berkaitan dengan pembelajaran. Beberapa usulan atau himbauan bahkan sering lahir dari guru sendiri, kepala sekolah tidak langsung mengatur guru harus begini atau begitu. Tetapi guru sendiri yang mengatur dirinya sendiri.

Ø Memberi contoh langsung dengan membuka kelas

Beberapa kepala kepala sekolah telah membuka kelas ( jadi guru model ) dalam kegiatan Lesson Study. Hal ini bertujuan untuk memberikan motivasi bagi guru lainnya. Ternyata cara demikian cukup efektif bagi perkembangan Lesson Study di Kabupaten Pasuruan. Bahkan Kepala Bidang SL, pernah mengintruksikan untuk pelatihan Kepala Sekolah yang berkaitan dengan Lesson Study jika ada membuka kelas maka sebagai guru modelnya adalah Kepala Sekolah.

Ø Komunikasi dengan bawahan tentang proses pembelajaran meningkat

Jarang sekali ada diskusi antara guru dan kepala sekolah tentang pembelajaran yang langsung terakses ke kelas secara langsung. Biasanya arah pembicaraan hanya secara umum atau beberapa siswa saja yang terkena kasus. Bahkan efektifitas pengajaran gurupun jarang dibicarakan dan diberi pujian. Dengan adanya kegiatan Lesson Study, semua hal tersebut dapat dihadirkan antar guru maupun antara guru dan kepala sekolah.

Ø Membantu mengambil kebijakan sekolah yang diperlukan dari tindak lanjut diskusi refleksi

Dalam forum diskusi refleksi, terutama bagi sekolah yang menerapkan LSBS sering melahirkan rekomendasi dikeluarkannya kebijakan kepala sekolah sesuai dengan kebutuhan sekolah. Misalnya, ketika membuka kelas yang membahas tentang atlas, tampak dalam kegiatan Lesson Study (baik Open Class maupun diskusi refleksi) bahwa syarat-sayarat atlas yang dimiliki oleh sekolah tersebut kerang memenuhi standar kelayakan suatu atlas. Maka saat itu kepala sekolah merekomendasikan syarat pengadaan buku sekolah bagi perpustakaan. Kejadian serupa seringkali terjadi terutama yang berhubungan dengan pelayanan siswa didik.

Ø Diskusi dengan guru terkait dengan proses pembelajaran

Pada kegiatan diskusi refleksi akan dibahas tentang aktifitas belajar siswa dan usaha-usaha guru. Tentunya hal ini akan berdampak langsung terhadap pembelajaran di kela-kelas nyata. Hal semacam ini hanya ada di kegiatan Lesson Study.

Ø Lebih mengenal siswa

Dengan seringnya kepala sekolah mengikuti kegiatan Lesson Study, maka sering pula dia mengamati bagaimana siswa belajar. Hal ini akan berdampak kepala sekolah akan lebih mengenal karakter siswa. Berbagai macam cara belajar siswa yang unik sering disoroti dalam kegiatan diskusi refleksi. Kegiatan semacam ini akan membuat guru dan kepala sekolah lebih bijak dalam menangani masalah siswa.

c. Bagi Pengawas Sekolah

Ø Peningkatan kompetensi observasi guru dan siswa

Sebelum program Lesson Study, pengawas sekolah jika datang ke satuan pendidikan selalu yang disupervisi adalah guru dengan segala macam administrasi pembelajarannya. Saat ini pengawas sering ikut melihat aktifitas belajar siswa dan mendiskusikannya bersama-sama dengan dewan guru dan kepala sekolah dalam forum diskusi refleksi.

Ø Keterlibatan pengawas terhadap MGMP Home Base Tinggi

Sebelumnya keterlibatan pengawas dalam kegiatan MGMP hanya pada pembukaan atau penutupan MGMP saja. Kini mereka terlibat aktif dalam kegiatan harian MGMP yang berhubungan dengan Lesson Study. Hal ini berdampak kedekatan guru dengan pengawas semakin baik pula.

Ø Pengawasan tidak terfokus pada guru dan perangkatnya saja, tetapi juga pada aktifitas belajar siswa.

Ketika supervisi kelas saat kunjungan sekolah, pengawas juga mengamati bagaimana siswa belajar. Hal ini sebagai dampak kebiasaannya dalam mengikuti Lesson Study. Bahkan setelah pengawasannyapun sering pengawas berdiskusi dengan guru yang telah diawasinya.

PENUTUP

1. Kesimpulan

Lesson Study yang telah dilaksanakan di Kabupaten Pasuruan membawa banyak manfaat, diantaranya dalam

a. peningkatan profesionalisme guru, kepala sekolah, dan pengawas.

b. Peningkatan aktifitas dan kreatifitas siswa dalam Proses belajar Mengajar.

c. Terbentuk Masyarakat belajar (Learning Community) di sekolah.

2. Kendala

a. Pada beberapa sekolah, adanya jadwal kegiatan lain yang bersamaan dengan jadwal kegiatan Lesson Study. Kendala ini terasa lebih besar saat bulan-bulan mendekati ujian akhir untuk kelas 3 (kelas 9).

b. Jarak antara sekolah peserta Lesson Study dengan tempat dilaksanakannya kegiatan masih cukup jauh (pada 2 Home Base; Gondangwetan dan Tutur). Hal ini berakibat pelaksanaan kegiatan tidak dapat tepat waktu.

c. Masih ada guru yang mempunyai sikap tidak mau bekerja secara kolaboratif (bekerja bersama-sama) untuk merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran bersama.

3. Saran

Bagi guru dan jajaran pendidikan lain, di depan mata terdapat mutiara. Mutiara itu adalah siswa. Mari kita gali potensinya, kita kembangkan kemampuannya untuk menjadi anak Indonesia yang mampu menuju negara dan bangsa yang adil, makmur dan sejahtera. Lesson Study adalah alat untuk mengambil dan mengolah mutiara itu. Lesson Study tidak akan terasa manfaatnya kalau hanya dilaksanakan satu atau dua kali saja. Manfaat itu akan diperoleh jika terus-menerus dilakukan. Rencanakan pembelajaran (Plan), laksanakan pembelajaran (Do) dan kemudian diskusikan untuk meraih refleksi dari pembelajaran tersebut (See).

GLOSARIUM

Japan International Cooperation Agency (JICA)

Lembaga Bantuan Jepang untuk negara lain pada berbagai bidang antara lain bidang pendidikan.

Strengthening In-Service Teacher Training of Mathematics and Science Education at Junior Secondary Level (SISTTEMS)

Pelatihan penguatan kemampuan guru Matematika dan Sains Sekolah Menengah Pertama.

Lesson Study Model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar

Open Class Seorang guru model melakukan pembelajaran di kelas dan guru yang lain bertindak sebagai pengamat untuk melihat efektivitas model pembelajaran yang telah dirancang.

Plan Tahap perencanaan, yang bertujuan untuk merancang pembelajaran yang dapat membelajarkan siswa dan berpusat pada siswa

Do Tahap pelaksanaan pembelajaran, untuk menerapkan rancangan pembelajaran yang telah dirumuskan bersama dalam perencanaan.

See Tahap refleksi, diskusi antara guru dan pengamat yang dipandu oleh salah seorang yang disepakati utnuk membahas pembelajaran yang telah dilakukan.

DAFTAR PUSTAKA

—————–, Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Beserta Penjelasannya), Bandung; Citra Umbara, 2003

—————–, Undang-Undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tantang Guru dan Dosen,—-

Depdiknas.. Ketentuan Umum Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. 2003a

Hendayana, Sumar dkk (2006), Lesson Study, Suatu Strategi Untuk Meningkatkan Keprofesionalan Pendidik, Bandung: UPI Press.

Ibrahim, Muslimin, dkk.. Pembelajaran Kooperatf. Surabaya: University Press. 2000

Lie, Anita. Cooperatif Learning. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Widiasarana Indinesia. 2004.

Mukhtar, dan Yamin, Martinis. Metode Pembelajaran yang berhasil. Jakarta: CV Sasama Mitra Suksesa. 2003.

Mulyasa, E. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: Penerbit PT Remaja Rosdakarya. 2003.

Sonhadji, Ahmad dkk, Grand Policy Bidang Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pasuruan Tahun 2004-20013. Pemerintah Kabupaten Pasuruan, 2004

PENGEMBANGAN RUBRIK AKTIVITAS BELAJAR SISWA

SEBAGAI ASSESMEN KINERJA DALAM

PEMBELAJARAN SAINS DI SMA

Afni Susanti

Dr. Hj. Sri Endah Indriwati, M.Pd

Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang

ABSTRAK

Penilaian terhadap berbagai kemampuan yang dapat digolongkan pada kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik dapat dilakukan dengan bermacam-macam teknik asesmen. Untuk menilai aktivitas belajar siswa diperlukan suatu asesmen autentik di luar asesmen ”paper and pencil test” yaitu asesmen kinerja. Dalam menerapkan asesmen kinerja diperlukan rubrik sebagai pendamping asesmen kinerja. Rubrik asesmen kinerja tersebut dapat dibuat dalam bentuk lembar observasi aktivitas belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan Pola PBMP (Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan) dalam metode TSTS (Two Stay Two Stray) untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa. Dalam penelitian ini digunakan rubrik aktivitas belajar siswa sebagai asesmen kinerja untuk menilai aspek aktivitas belajar yang muncul selama proses pembelajaran berlangsung. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) yang dilaksanakan dalam 2 siklus tindakan. Subjek penelitian yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini yaitu siswa kelas X-2 semester genap tahun ajaran 2008-2009 SMA Negeri 3 Malang yang berjumlah 32 siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan Pola PBMP (Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan) dalam Metode TSTS (Two Stay Two Stray) dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa dari siklus I ke siklus II baik ditinjau dari peningkatan setiap kelompok maupun secara klasikal.

Kata kunci: rubrik aktivitas belajar, assesmen kinerja

REFLEKSI – PELAJARAN BERHARGA DARI

PENGALAMAN PELAKSANAAN LESSON STUDY

DI MGMP BIOLOGI SMA KOTA PASURUAN

Drs. Agung Arditigo

SMAN 2 Kota Pasuruan

ABSTRAK

Inti dari Lesson study adalah open lesson ( buka kelas). Dalam open lesson ada salah satu kegiatan yang sangat penting yaitu observasi dan diskusi refleksi. Ada 4 pedoman observasi dalam open lesson, yakni: 1) Apakah siswa belajar dan bagaimana prosesnya? 2)Adakah siswa yang tidak belajar dan mengapa dia tidak belajar? dan 3) Bagaimana upaya guru mengatasi siswa yang tidak belajar? Pengalaman berharga apa yang dapat dipetik dari observasi tersebut? Mengapa observasi ini penting? Karena ketajaman observer dalam observasi sangat menentukan kualitas diskusi saat refleksi. Kedalaman observer dalam mendiskusikan hasil observasi saat refleksi inilah yang akan menjadi pelajaran berharga bagi semua guru yang terlibat dalam open lesson dalam upaya meningkatkan profesionalitasnya sebagai tenaga pendidik, khususnya saat melaksanakan pembelajaran di kelasnya.

Makalah ini akan memaparkan pengalaman berharga yang dapat dipetik dari pelaksanaan kegiatan lesson study di MGMP Biologi SMA wilayah Kota Pasuruan. Data dan informasi tentang pengalaman berharga ini diperoleh melalui catatan atau notulen diskusi refleksi pada setiap pelaksanaan lesson study di MGMP Biologi selama tahun pertama implementasi Program Pengembangan Profesionalitas Pendidik dan Tenaga Kependidikan kerjasama dengan SFTI (Sampoerna Foundation Teacher Institute).

Dari kegiatan lesson study di MGMP Biologi dapat dikemukakan beberapa pengalaman dan pemahaman antara lain sebagai berikut. Keberhasilan lesson study bukan hanya terletak pada baik tidaknya pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru model (karena tidak ada proses pembelajaran yang sempurna) tetapi justru pada pelajaran berharga yang didapatkan dari open lesson dengan observasinya dan bagaimana tindak lanjutnya. Pelajaran berharga apa yang kita dapatkan dari refleksi? Refleksi memberikan kita pelajaran bagaimana menemukan teknik-teknik yang pas dalam mengajar, sehingga pembelajaran berikutnya menjadi lebih baik.

Dalam pembelajaran yang baik guru harus menghormati hak belajar setiap siswa, sehingga dalam pembelajaran setiap siswa harus dapat belajar sesuai dengan kemampuannya. Target belajar setiap siswa adalah siswa dapat berpikir. Oleh karena itu guru harus mengkondisikan setiap siswa untuk berpikir. Bagaimana caranya agar siswa mau berpikir? Agar siswa mau berpikir maka ciptakan kesulitan, karena kesulitan akan membuat siswa tidak hanya berpikir tetapi juga muncul kreativitas dari siswa serta interaksi dengan siswa yang lain. Akhirnya dari refleksi open lesson ini kita bisa belajar dari orang lain untuk perbaikan pembelajaran masing-masing guru,

Kata kunci: refleksi, pengalaman berharga lesson study

PELAKSANAAN LESSON STUDY DIMATA GURU MIPA

SMPN/S DAN MTsN/S PESERTA MGMP MIPA

BERBASIS LESSON STUDY DI HOME BASE BANGIL KABUPATEN PASURUAN

Agus Daheri

Darsono Sigit

Guru MIPA; home base Bangil; Kabupaten Pasuruan

Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang

ABSTRAK

Di Indonesia khususnya Kabupaten Pasuruan Propinsi Jawa Timur Lesson Study (LS) diperkenalkan oleh para expert JICA dalam rangkaian kegiatan follo-up program IMSTEP pada tahun 2004. dengan mitra: Dinas P dan K Kab. Pasuruan Jl. Wahidin Sudirohusodo 59A Pasuruan Telp. 0343-432194. LS dilaksanakan sejak tahun 2006, kepada para guru MIPA dan Matematika di 127 SMPN/S dan MTsN/S. Para guru bernaung di bawah MGMP, terbagi ke dalam 8 wilayah. LS di Pasuruan menggunakan daur studi pembelajaran terorientasi pada praktek. Kegiatannya terdiri atas: 1). Perencanaan (Plan), meliputi penggalian akademis; perencanaan pembelajaran; persiapan alat-alat. 2). Pelaksanaan (Do) meliputi: pelaksanaan pembelajaran; pengamatan oleh teman sejawat. 3). Melihat (See) meliputi Refleksi dengan rekan dan komentar dan diskusi. Berkenaan telah berlangsungnya LS di Kabupaten Pasuran pada tahun 2006, 2007, 2008 dan 2009 maka guru dari SMP Negeri 2 Rembang yang sekaligus peserta sejak tahun 2006 berkeinginan melakukan penelitian untuk mengetahuhi sejauh mana LS memberi kontribusi peningkatan kompetensi guru MIPA SMPN/S dan MTsN/S sebagai peserta LS pada home base Bangil Pasuruan. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengetahui apakah kegiatan LS di home base Bangil Kabupaten Pasuruan dapat meningkatkan kemampuan guru MIPA dalam hal penguasaan materi bahan ajar, pembuatan perangkat pembelajaran, yaitu RPP dan LKPD dan penyelengaraan proses belajar mengajar, 2) Mengetahui apakah kegiatan LS di home base Bangil Kabupaten Pasuruan dapat meningkatkan kemampuan guru MIPA dalam hal mengamati peserta didik apakah dapat belajar dengan baik selama proses PBM berlangsung, 3) Mengetahui apakah kegiatan LS di home base Bangil Kabupaten Pasuruan dapat meningkatkan kemampuan guru MIPA menemukan permasalahan dalam proses PBM dan melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September hingga Oktober 2009 pada wilayah pelaksanaan Lesson Study di home base Bangil Kabupaten Pasuruan. Subjek penelitian adalah guru MIPA SMPN/S dan MTsN/S peserta LS sebanyak 50 responden. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan isian angket dan dilanjutkan wawancara mendalam dengan pedoman wawancara. Analisis data dilakukan statistik prosentase dengan tingkat kesalahan 0,01.

Hasil penelitian menjelaskan bahwa : 1). Responden (guru) sebesar 86 % merasakan peningkatan kemampuan dalam hal penguasaan materi bahan ajar, 73% responden mengalami peningkatan dalam menyusun perangkat pembelajaran dan 76% mengalami peningkatan dalam hal penyelenggaraan pembelajaran, 2) Kemampuan guru mengamati apakah peserta didik dapat belajar dengan baik selama PBM berlangsung, 78% responden merasa mengalami peningkatan, 3) Kemampuan guru menemukan permasalahan dalam proses PBM dan melakukan PTK hanya 34% responden merasakan mengalami peningkatan. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan LS dapat meningkatkan kemampuan guru MIPA di home base Bangil dalam hal penguasaan materi bahan ajar, pembuatan perangkat pembelajaran, dan penyelenggaraan proses pembelajaran. Disamping itu keikutsertaan dalam LS juga dirasakan manfaatnya oleh guru dalam peningkatan kemampuan dalam mengamati peserta didik dalam proses PBM. Sedangkan dalam peningkatan kemampuan menemukan permasalahan dalam PBM dan melanjutkan dalam bentuk kegiatan PTK sebagian besar besar guru merasa perlu dalam peningkatan dan pendalaman tentang PTK.

Kata kunci: lesson study

KONTRIBUSI GLOBAL LEARNING DAN MIND MAPPING

DALAM PEMBELAJARAN ARITMATIKA SOSIAL

SEBAGAI JARINGAN KONSEP

Agustin Debora MS

Dra. Santi Irawati, M.Si, Ph.D

Drs. Mustangin, M.Pd

SMP Negeri 1 Pajarakan Kab Probolinggo; debora_bless@yahoo.co.id

FMIPA Universitas Negeri Malang; santira99@yahoo.com

Universitas Islam Malang; must_tangin9@yahoo.co.id

ABSTRAK

Kompetensi pedagogis dan profesional guru sangat menentukan dalam hal ini. Guru diharapkan mampu menganalisa tujuan dan isi materi, serta mampu mengorganisir materi sehingga efisien, efektif dan mudah bagi siswa. Konsep Aritmatika Sosial sebagai jaringan konsep apabila disajikan secara analitis akan menyulitkan siswa dalam memahami konsep secara utuh, sehingga siswa mengalami kesulitan ketika menganalisa keterkaitan antar konsep. Pembelajaran global yang memandang sesuatu secara menyeluruh, utuh dan tidak parsial, merupakan gaya belajar yang sejalan dengan pembelajaran matematika sebagai jaringan konsep. Sebagai bagian dari upaya optimalisasi longterm memory, pembelajaran global memerlukan bantuan mind mapping. Mind Mapping sangat membantu siswa dalam visualisasi dan penyandian konsep Aritmatika Sosial sebagai jaringan konsep secara utuh. Sebagaimana proses pengulangan sebagai bagian dari longterm memory system dalam pembelajaran, seyogyanya mind mapping disajikan setiap saat sepanjang pembahasan jaringan konsep matematika tertentu dibahas.

Kata kunci : Global Learning, Jaringan Konsep, Mind Mapping

PENGEMBANGAN MODUL STRUKTUR ATOM, SISTEM PERIODIK, DAN IKATAN KIMIA BERBASIS LEARNING CYCLE (LC) UNTUK SMA/MA KELAS XI SEMESTER 1 DALAM MENUNJANG PEMBELAJARAN DENGAN METODE LEARNING CYCLE

Aman Santoso

Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang

ABSTRAK

Perubahan paradigma behavioristik menjadi konstrukti­vis­tik berpengaruh pada perbaikan kurikulum. Kurikulum yang di­pakai saat ini adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang menekankan penggunaan pembelajaran kons­truk­tivistik. Salah satu model pembe­lajar­an konstruktivistik adalah learning cycle 5 Fase (LC 5-E). Tujuan penelitian ini adalah untuk menghasilkan modul Struktur Atom, Sistem Periodik, dan Ikatan Kimia model LC 5-E serta menguji tingkat kelaya­kan­nya. Prosedur pengembangan yang digunakan mengacu pada 10 langkah penelitian dan pengembangan menurut Gall dan Borg. Akan tetapi, karena keterbatasan waktu dan biaya, maka peneliti­an dan pengembangan ini dibatasi sampai langkah ketiga. Langkah-langkah pengembangan modul ini adalah: penelitian dan pengumpulan data, perencanaan pengembangan produk, dan pengembangan produk awal. Instrumen pengumpulan data be­rupa angket dengan skala Likert dan lembar saran. Data yang di­per­oleh berupa penilaian dan tanggapan dari validator yang di­gunakan untuk menentukan kelayakan atau validitas modul yang dikembangkan. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis nilai rata-rata.

Hasil penelitian pengembangan ini: (1) Modul Struktur Atom, Sistem periodik, dan Ikatan Kimia model learning cycle 5-E terdiri dari beberapa komponen yaitu, cover, kata pengantar, petunjuk penggunaan modul, daftar isi, daftar gambar, daftar tabel, kompetensi dasar, indikator pencapaian hasil belajar, kegiatan belajar siswa (Kegiatan belajar 1 sampai 6), soal pendalaman, umpan balik, kunci jawaban, dan daftar pustaka. Tiap kegiatan belajar terdiri dari 5 fase. (2) Hasil validasi secara keseluruhan menunjukkan nilai rata-rata sebesar 3,47 dengan kriteria valid, hal ini menunjukkan bahwa modul yang dikembangkan sudah sesuai dan layak digunakan sebagai salah satu alternatif bahan ajar di SMA/MA. Saran-saran yang dapat diberikan dari penelitian ini adalah Perlu adanya pengembangan modul dengan materi lain atau metode baru untuk mendukung pembelajaran konstruktivistik sehingga dapat memperkaya sumber belajar siswa.

Kata kunci: Pengembangan modul, struktur atom, learning cycle 5-E,

PENGEMBANGAN MODUL LAJU REAKSI MODEL LEARNING CYCLE 5-E UNTUK SMA/MA KELAS XI SEMESTER 1 SEBAGAI PENUNJANG KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN

Aman Santoso

Sumari

Triana Yustianingsih

Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang

ABSTRAK

Pemberlakuan KTSP menekankan penggunaan pembelajaran konstruktivistik, salah satu model pembelajaran konstruktivistik adalah Learning Cycle 5 Fase (LC 5-E). Sejauh ini belum ada bahan ajar untuk materi Laju Reaksi yang dikembangkan menggunakan model LC 5-E untuk mendukung kegiatan pembelajaran LC 5-E. Oleh karena itu, pada penelitian ini dikembangkan modul pembelajaran untuk materi Laju Reaksi model LC 5-E. Tujuan penelitian ini adalah untuk menghasilkan modul Laju Reaksi model LC 5-E serta menguji tingkat kelayakannya.

Ada beberapa tahapan pada pengembangan modul ini, yaitu mengkaji kurikulum, menentukan materi, menyusun modul, melakukan validasi, menganalisis data, melakukan revisi, dan memproduksi modul. Desain validasi pada pengembangan modul ini hanya sampai pada validasi isi saja. Validator terdiri dari 2 dosen Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang dan 3 guru SMA/MA. Ketiga SMA/MA tersebut telah menerapkan KTSP. Instrumen pengumpulan data berupa angket dan teknik analisis data menggunakan analisis rata-rata.

Hasil pengembangan dari penelitian ini adalah: (1) Modul pembelajaran yang terdiri dari beberapa komponen yaitu, cover, kata pengantar, petunjuk penggunaan modul, daftar isi, daftar gambar, kompetensi dasar, indikator pencapaian hasil belajar, kegiatan belajar siswa (kegiatan belajar 1 sampai kegiatan belajar 5), soal pendalaman, umpan balik, kunci jawaban, dan daftar pustaka. Hasil validasi menunjukkan bahwa bentuk modul yang dikembangkan sudah sesuai dengan model LC 5-E dengan nilai rata-rata untuk penilaian tiap fase-fase dalam LC 5-E sebesar 3,36 yang menunjukkan kriteria valid, (2) Hasil validasi secara keseluruhan menunjukkan nilai rata-rata sebesar 3,53 dengan kriteria valid, hal tersebut menunjukkan bahwa modul yang dikembangkan sudah sesuai dan layak digunakan sebagai salah satu alternatif bahan ajar di SMA/MA. Saran yang dapat diberikan adalah modul laju reaksi yang dikembangkan tidak hanya divalidasi isi saja tetapi hendaknya diujicobakan di lapangan agar diketahui efektivitasnya untuk mendukung kegiatan pembelajaran.

Kata kunci: modul, laju reaksi, learning cycle 5-E, KTSP

METODE PROYEK PEMBUATAN ALAT SEDERHANA

BERBASIS LESSON STUDY PADA MATERI PELAJARAN GERAK PARABOLA UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS XI.IPA-3 SMAN 2 LUMAJANG

Anang Dwi Ujianto

SMA Negeri 2 Lumajang

ABSTRAK

Penelitian dengan judul Metode Proyek Pembuatan Alat Sederhana Berbasis Lesson Study pada Materi Pelajaran Gerak Parabola untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas XI.IPA-3 SMA Negeri 2 lumajang talah dilakukan mulai bulan Agustus sampai dengan Oktober 2008. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan strategi pembelajaran metode proyek, meningkatkan kualitas pembelajaran agar menjadi lebih bermakna, pembelajaran lebih inovatif, meningkatkan efektifitas pencapaian KD, dan meningkatkan kualitas KBM agar menjadi lebih menarik. Subjek penelitian adalah seluruh siswa kelas XI.IPA-3 SMA Negeri 2 Lumajang. Strategi pembelajaran yang digunakan adalah metode berbasis lesson study. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran dengan metode proyek berbasis lesson study mampu meningkatkan penguasaan konsep gerak parabola, minat siswa berdasarkan hasil wawancara bertambah baik, respon siswa dalam mengikuti pembelajaran baik, aktivitas siswa dalam pembelajaran dan kegiatan diskusi secara keseluruhan baik, dapat menghasilkan produk yang bernilai serta memberikan pengalaman belajar yang komplek di kelas XI.IPA-3 SMA Negeri 2 Lumajang. Sedangkan hasil penelitian berdasarkan data kuantitatif yakni melalui evaluasi produk dan portofolio dapat dikatakan berhasil dan sangat baik. Saran: Pembelajaran dengan metode proyek berbasis lesson study dapat dipergunakan oleh guru matapelajaran fisika serta yang lainnya sebagai alternatif dalam proses pembelajaran dan dapat diperluas untuk bahasan-bahasan lainnya.

Kata kunci: pembelajaran metode proyek, konsep gerak parabola

PENINGKATAN AKTIVITAS BELAJAR RANAH AFEKTIF SISWA SMA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN INVESTIGASI KELOMPOK

Aninda Ari Susanti

Dr. Hj. Sri Endah Indriwati, M.Pd

ABSTRAK

Pada penelitian ini, untuk mencapai kompetensi siswa diberi tindakan berupa model pembelajaran investigasi kelompok, dimana siswa diberi beberapa macam subtopik yang berbeda dalam suatu wilayah topik yang umum kemudian siswa menemukan permasalahan-permasalahan mengenai masing-masing subtopik yang dipelajari. Setelah menemukan permasalahan kemudian siswa secara kooperatif menyelesaikan masalah yang ditemukan dengan mengeksplorasi sumber-sumber belajar baik yang ada di dalam maupun di luar kelas dan melakukan penyelidikan/investigasi di luar kelas. Selama proses pembelajaran siswa diminta membuat jurnal harian dan refleksi diri, mempresentasikan hasil investigasi dan membuat laporan tertulis. Melalui tindakan ini diharapkan dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa pada ranah afektif. Peningkatan aktivitas belajar diukur dari munculnya aktivitas belajar afektif selama proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan model pembelajaran Group Investigation (GI) untuk meningkatkan aktivitas belajar afektif siswa. Pada penelitian ini digunakan aktivitas belajar ranah afektif sebagai asesmen kinerja untuk menilai aktivitas belajar siswa terkait dengan ranah afektif yang muncul selama proses pembelajaran. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam 2 siklus tindakan. Subjek penelitian yang digunakan pada penelitian ini yaitu siswa kelas X-1 semester genap tahun ajaran 2008-2009 SMA Negeri 3 Malang yang berjumlah 33 siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Group Investigation (GI) dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa dari siklus I ke siklus II baik ditinjau dari tiap tingkatan ranah afektif maupun secara klasikal.

Kata kunci: aktivitas belajar afektif, investigasi kelompok

SIKAP ANTUSIASME GURU

DALAM KEGIATAN LESSON STUDY

Aning

Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang

ABSTRAK

Di Indonesia, studi pembelajaran (lesson study) pertama kali diperkenalkan oleh para tenaga ahli Japan International Cooperation Agency (JICA) dalam rangkaian kegiatan follow-up program dari Indonesian Mathematics and Science Teaching Education Project (IMSTEP) pada akhir tahun 2004. Pengembangan lesson study di MGMP dan di beberapa sekolah rintisan di Bandung, Yogyakarta, dan Malang pada tahun 2004-2006 mulai menampakkan hasil dan dipresentasikan di depan jajaran pimpinan Balitbang Depdiknas dan juga Direktorat Jenderal PMPTK pada awal tahun 2006. Selanjutnya Direktorat Jenderal PMPTK merancang kerjasama dengan JICA untuk melaksanakan suatu program peminaan guru melalui studi pembelajaran (lesson study) dalam bentuk Program Strengthening In-Service Teacher Training of Mathematics and Science Education at Junior Secondary Level (SISTTEMS) yang mulai dilaksanakan pada bulan mei 2006 dan direncanakan sampai dengan Oktober 2008 yang dilaksanakan di tiga daerah rintisan salah satunya di Kabupaten Pasuruan Jawa Timur.

Setelah Program SISTTEMS berakhir, dilanjutkan dengan Program for Enhancing Quality of Junior Secondary Education yang direncanakan sampai tahun 2012, selain itu Program Pengembangan Profesionalitas Pendidik dan Tenaga Kependidikan Melalui Implementasi Lesson Study di Kota dan Kabupaten Pasuruan yang merupakan program kerjasama Sampoerna Foundation – Teacher Institute.

Dari serangkaian program pelaksanaan lesson study di kabupaten Pasuruan, penulis hanya mengikuti kegiatan pendampingan sebagai dosen pendamping kurang lebih sebanyak lima kali pendampingan pada tahun 2009. Tentunya dengan kegiatan pendampingan yang tidak begitu banyak dan tidak begitu rutin yang penulis ikuti tak banyak yang dapat penulis amati, namun ada hal yang dalam setiap kegiatan pendampingan tak pernah luput dari pengamatan penulis yaitu sikap antusiasme para guru dalam kegiatan lesson study. Berdasarkan data pengamatan penulis selama kegiatan pendampingan rupanya antusiasme para guru dalam kegiatan lesson study baik dalam kegiatan plan (merencanakan), do (melaksanakan), dan see (merefleksi) mengalami penurunan. Hal ini terlihat dari keaktifan mereka misalnya pada saat plan mereka sebagian besar enggan mengungkapkan gagasan-gagasan dalam membuat rencana pembelajaran dan cenderung memasrahkan pada guru model, pada saat do pun dalam melakukan observasi sebagian besar memilih ngrumpi dengan sesama observer, baru jika didekati oleh dosen pendamping mereka memperlihatkan keseriusannya dalam mengamati, pada saat see pun jika tidak didesak oleh moderator untuk menyampaikan hasil pengamatan sebagian besar memilih menjadi pendengar setia. Dari hasil sharing dengan dosen-dosen yang sudah lebih banyak jam terbangnya dalam kegiatan pendampingan sebagian besar juga mendapati hal yang sama yakni menurunnnya sikap antusiasme para guru dalam kegiatan lesson study. Menurut hasil wawancara penulis dengan beberapa guru, hasil diskusi penulis dengan teman-teman dosen pendamping, penulis menduga bahwa menurunnya sikap antusiasme para guru dalam kegiatan lesson study disebabkan antara lain karena mereka sudah jenuh dengan kegiatan rutinitas plan, do, see yang sudah sekian lama mereka ikuti, belum memiliki kesadaran akan manfaat apa yang dapat diperoleh dari kegiatan lesson study, beban meninggalkan kewajiban mengajar pada saat mereka mengikuti lesson study, biaya transport yang memberatkan, uang lelah yang kurang, topik diskusi yang monoton.

Usaha untuk mengubah sikap umumnya selalu berpusat pada bagaimana cara memanipulasi atau pengendalian situasi dan lingkungan untuk menghasilkan perubahan sikap yang diinginkan (Azwar, 18995). Untuk membangkitkan kembali sikap antusiasme para guru dalam kegiatan lesson study antara lain dalam setiap kegiatan pendampingan dosen pendamping sebagai motivator, selalu menanamkan apa makna dan manfaat yang dapat kita ambil dari kegiatan lesson study sehingga para guru tidak hanya memandang kegiatan lesson study sebagai rutinitas yang harus dijalani saja, penyediaan uang lelah bagi para guru.

STUDI KEBERHASILAN SISWA SMPN I BEJI PASURUAN DALAM PEMBELAJARAN PADA KEGIATAN OPEN CLASS LESSON STUDY

Bayu Sigit Witjaksono

Siti Zubaidah

SMPN 1 Beji Pasuruan

Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang

ABSTRAK

Pengalaman penulis selama mengikuti program lesson study JICA Sisttems dirasakan banyak sekali keuntungannya terutama bagi peningkatan kompetensi dan profesionalisme pembelajaran; pengayaan model, metode, atau strategi dan media pembelajaran; dan lebih terbuka dalam menerima masukan tentang pembelajaran dari guru lain. Namun demikian, apakah aktifitas tersebut dibarengi dengan peningkatan hasil belajar siswa? Tulisan ini terkait dengan upaya mengetahui hal tersebut, melalui dua tahap pembelajaran di SMP Negeri I Beji, Kabupaten Pasuruan, dengan subyek pembelajaran siswa kelas VII-E. Hasil pembelajaran menunjukkan bahwa keberhasilan guru dalam melakukan proses pembelajaran pada kegiatan open class lesson study bukan berarti menunjukkan keberhasilan siswa dalam belajar. Ketidakberhasilan siswa dalam pembelajaran pada kegiatan open class lesson study diakibatkan oleh kehadiran observer dalam kelas menjadikan siswa berada pada keadaan “zona tidak nyaman dalam belajar”. Bagi siswa kelas VII-E SMP Negeri 1 Beji kehadiran observer merupakan hambatan untuk dapat membangkitkan motivasi instriksik dalam diri siswa, oleh karena itu perlu dicarikan solusinya.

Kata kunci: lesson study, hasil belajar

PENINGKATAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR SAINS BIOLOGI KELAS VIIC SMPN 2 SUKOREJO KABUPATEN PASURUAN MELALUI PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF MODEL TPS DAN JIGSAW

Cik ‘Ani

Indah Setyaningsih

Ibrohim

SMPN 2 Sukorejo Kabupaten Pasuruan

Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang

ABSTRAK

Berdasarkan hasil observasi selama kegiatan pembelajaran, mulai bulan Juli sampai Desember 2006, diketahui bahwa pada umumnya siswa memiliki motivasi belajar yang rendah. Dalam kegiatan pembelajaran siswa tampak kurang bersemangat, hanya sedikit siswa yang mau bertanya bila ada hal yang tidak dimengerti, serta sering gaduh dan ramai pada saat pambelajaran berlangsung. Dari hasil Ulangan Umum Bersama semester ganjil Tahun Pelajaran 2006/2007 diketahui bahwa rata-rata nilai klasikal sebesar 5,15 dari 34 siswa tang ada. Dalam rangka meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa telah dilakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana pembelajaran kooperatif TPS dan JIGSAW dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar sains biologi siswa kelas VII C di SMPN 2 Sukorejo Kabupaten Pasuruan.

Penelitian ini merupakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan dalam empat siklus. Masing-masing siklus terdiri dari empat tahap yaitu; perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Penelitian ini dilakukan di Kelas VIIC SMPN 2 Sukorejo Kabupaten Pasuruan, yang dilaksanakan mulai Bulan Januari sampai Mei 2007. Instrumen yang digunakan dalam penelitian inimeliputi; Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kerja siswa (LKS), soal tes, lembar observasi motivasi belajar, angket untuk mengetahui respon siswa terhadap pembelajaran yang diterapkan.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, diketahui bahwa penerapan penbelajaran Kooperatif TPS dan JIGSAW dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar Sains Biologi siswa kelas VIIC SMPN 2 Sukorejo Kabupaten Pasuruan. Motivasi belajar siswa mengalami peningkatan dalam setiap siklus, yakni 22,5% pada siklus I menjadi 28,5 % pada suklus II, menjadi 76,7 % pada siklus III, dan terakhir pada siklus IV meningkat lagi menjadi 88,2 %. Hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan dari rerata 5,15 sebelum siklus I menjadi 6,13 pada siklus I, menjadi 7,27 pada siklus II, menjadi 7,94 pada siklus III, dan terakhir pada siklus IV mengalami peningkatan lagi menjadi 8,18.Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan agar para guru sering menggunakan penerapan pembelajaran kooperatif untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa.

Kata kunci : Motivasi belajar, Hasil belajar , Pembelajaran Kooperatif TPS dan JIGSAW

LESSON STUDY DALAM PELAKSANAAN PENELITIAN

SKRIPSI MAHASISWA DI MAN 3 MALANG

Darsono Sigit

Hayuni Retno Wulandari

Nazriati

Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahuhi keber­hasilan pelaksanaan lesson study siklus I,II,III,IV.pada kegiatan penelitian skripsi mahasiswa.

Penelitian kwalitatif ini, pelaksanaannya dilakukan pada bulan Mei-Agustus 2009 di MAN 3 Malang, Jl. Bandung No.7 Malang. Subyek penelitian adalah Fera Indriyati mahasiswa Program Studi Pendidikan Kimia Jurusan Kimia FMIPA UM. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan isian angket dan dilanjutkan dengan wawancara mendalam. Analisis data dilakukan dengan cara kwalitatif.

Hasil penelitian menjelaskan bahwa: 1). Keberhasilan pelaksanaan lesson study siklus I pada kegiatan penelitian skripsi mahasiswa: Pada tahap perencanaan (plan) guru model (mahasiswa) berkolaborasi melakukan pengkajian terhadap: kurikulum (KTSP), Standar Kompetensi (SK), Kompetensi Dasar dan penentukan indicator, menetapkan metode dan media pembelajaran. Hasilnya berupa rencana proses pembelajaran (RPP) dan dilengkapi dengan lembar kegiatan siswa (LKS). Implementasi ( do ) siklus I dilakukan guru model pada kelas diuji kemampuan awalnya. Siswa telah dibagi menjadi 7 kelompok heterogen dengan masing-masing kelompok terdiri dari 4-5 siswa. Dalam kegiatan inti, siswa mulai melakukan kegiatan berkelompok, yaitu berdiskusi menyelesaikan soal. Selama siswa mengerjakan tugas kelompok, guru model berkeliling kelompok untuk memantau keberhasilan belajar masing-masing siswa. Pada kegiatan akhir guru model meminta siswa untuk menyimpulkan pelajaran hari ini, dan mengingatkan siswa untuk belajar persiapan melanjutkan pertemuan berikutnya. Guru observer (3 mahasiswa) melakukan tugasnya untuk mengamati kegiatan belajar siswa selama proses pembelajar diantaranya interaksi siswa- guru, interaksi siswa-siswa, interaksi siswa – bahan ajar. Hasil observasi : Pada awal kegiatan siswa sedikit pasif untuk menjawab pertanyaan dari guru, tetapi pada saat diskusi siswa mulai aktif . Refleksi telah dilaksanakan setelah pembelajaran usai (4 Juli 2009), dengan tahapan : satu dari observer dipilih sebagai moderator dan satu dari observer lainnya dipilih sebagai notulen, nara sumber adalah guru kelas.Temuan : Pada awal kegiatan pembuka, siswa cenderung pasif . tetapi pada saat diskusi siswa mulai aktif. Permasalahan: Siswa belum memahami materi sebelumnya sebagai dasar untuk pelajaran berikutnya. Solosi siswa dipersiapkan untuk mempelajari bahan ajar sebelumnya dan membaca bahan ajar yang akan disampaikan guru. Guru kelas menekankan perlu peningkatan interkasi antara guru dan siswa dalam proses belajar mengajar.

2). Keberhasilan pelaksanaan lesson study siklus II pada kegiatan penelitian skripsi mahasiswa : Pada tahap perencanaan guru model para guru melakukan pengkajian ulang seperi pada siklus I. Pelaksanaan implementasi (do) terdiri dari 1 mahasiswa sebagai guru model dan 3 mahasiswa sebagai observer. Kegiatan awal pembelajaran ditekankan pada memotivasi siswa dengan cara mengingatkan siswa tentang diskusi Struktur atom dari pertemuan sebelumnya dan memberikan beberapa contoh soal untuk dijawab bersama-sama. Kegiatan inti dilakukan penekanan pada peningkatan interkasi guru dengan siswa dengan cara guru lebih memantau pada kesulitan belajar siswa. Selama kegiatan diskusi berlangsung guru juga meminta siswa untuk menuliskan hasil diskusi. Setelah diskusi selesai, siswa diminta mengumpulkan lembar jawaban. Selanjutnya dilakukan diskusi terbuka, yaitu dengan mempresentasikan lembar jawaban tiap kelompok. Setelah presentasi kelas, guru memberikan penguatan. Setelah kemudian guru memberikan kuis untuk mengukur tingkat pemahaman siswa. Dari hasil kuis tersebut, dapat diketahui tingkat pemahaman tiap individu dalam kelompok dan mengetahui kelompok mana yang nilainya paling baik karena nilai kelompok dipengaruhi oleh skor peningkatan nilai kuis. Kegiatan akhir pembelajaran ,guru bersama siswa menyimpulkan materi yang baru dipelajari. Selanjutnya guru memotivasi siswa agar siswa belajar dirumah terlebih dahulu untuk materi pelajaran berikutnya. Tahap refleksi segera dilaksanakan setelah pembelajaran selesai dilaksankan (31 Juli 2009) . Tahap refleksi adalah tahap dimana guru model melaporkan kegiatan pembelajaran yang baru berlangsung apakah kegiatan pembelajaran tersebut sudah sesuai dengan plan yang telah dibuat atau tidak, serta hasil pengamatan para observer selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Data observasi: Beberapa siswa tidak aktif dalam kegiatan diskusi. Permasalahan: Siswa tersebut kurang mendapatkan pengawasan guru. Solusi: selama diskusi guru sebaiknya mengelilingi tiap kelompok secara rata untuk memantau kegiatan diskusi, dan memberikan pengarahan yang lebih pada siswa yang tidak aktif. Data observasi: Masih ada beberapa siswa yang berbicara sendiri dan mengganggu teman sekelompoknya. Permasalahan: ada perbedaain cara kebiasaan belajar siswa. Solusi: sebaiknya guru memberikan tindakan pengarahan kepada siswa agar siswa lebih menghargai pembelajaran yang sedang dilakukan dan membuat suasana pembelajaran lebih menarik sehingga dapat mengikuti dan memperhatikan. Data observasi: Pada saat salah satu kelompok mempresentasikan jawaban, beberapa siswa tidak memperhatikan. Permasalahan: siswa terpecah perhatiannya. Solusi: sebaiknya guru meminta semua anggota kelompok lain melakukan penilaian terhadap jawaban yang dipresentasikan. Masukan dari guru kelas: Siswa yang kurang aktif dalam proses diskusi oleh salah satu observer diartikan karena kurangnya pemahaman siswa tentang materi. Perlu diadakan penilaian dari siswa saat proses presentasi dilakukan, sehingga semua siswa memperhatikan presentasi. Ketegasan guru model perlu ditingkatkan, sehingga siswa-siswa lebih menghargai proses pembelajaran yang dilakukan dan tidak mengganggu proses diskusi. Manajemen waktu dalam proses pembelajaran harus diperhatikan, sehingga kesempatan siswa untuk melakukan presentasi jawabaan dan penguatan dari guru model menjadi lebih terkontrol.

3). Keberhasilan pelaksanaan lesson study siklus III pada kegiatan penelitian skripsi mahasiswa: Pada tahap perencanaan para guru (dalam hal ini guru praktikan kimia) secara kolaboratif melakukan pengkajian kembali seperti siklus II. Pelaksanaan implementasi terdiri dari 1 mahasiswa sebagai guru model dan 3 mahasiswa sebagai observer. Kegiatan awal pembelajaran ditekankan pada memotivasi siswa dengan cara mengingatkan siswa tentang materi sebelumnya yang berkaitan tentang partikel sub atomik. Dalam kegiatan inti, selama siswa mengerjakan tugas kelompok, guru berkeliling kelas untuk memantau kegiatan masing-masing siswa. Selama kegiatan diskusi berlangsung guru juga meminta siswa untuk menuliskan hasil diskusi. Setelah diskusi selesai, siswa diminta mengumpulkan lembar jawaban. Selanjutnya dilakukan diskusi terbuka, yaitu dengan mempresentasikan lembar jawaban tiap kelompok. Setelah presentasi kelas, guru memberikan penguatan. Setelah kemudian guru memberikan kuis untuk mengukur tingkat pemahaman siswa. Dari hasil kuis tersebut, dapat diketahui tingkat pemahaman tiap individu dalam kelompok dan mengetahui kelompok mana yang nilainya paling baik karena nilai kelompok dipengaruhi oleh skor peningkatan nilai kuis. Kegiatan akhir, guru bersama siswa menyimpulkan materi yang baru dipelajari. Selanjutnya guru memotivasi siswa agar siswa belajar dirumah terlebih dahulu untuk materi pelajaran berikutnya. Guru observer melakukan tugasnya untuk mengamati tingkah laku siswa selama proses pembelajaran berlangsung, diantaranya interaksi guru-siswa, interaksi siswa-siswa, interkasi siswa dan bahan ajar. Tahap refleksi segera dilaksanakan setelah pembelajaran selesai dilaksankan (7 Agustus 2009). Tahap refleksi adalah tahap dimana guru model melaporkan kegiatan pembelajaran yang baru Data observasi: Beberapa siswa tidak aktif dalam kegiatan diskusi. Permaslahan: Konsentrasi siswa mulaia terpecah. Solosi : selama diskusi guru lebih lagi mengelilingi tiap kelompok secara rata untuk memantau kegiatan diskusi, dan memberikan pengarahan yang lebih pada siswa yang tidak aktif. Data observasi: Masih ada beberapa siswa yang berbicara sendiri dan mengganggu teman sekelompoknya. Permasalahan : kebiasaan belajar siswa yang belum difahami guru. Solosi : sebaiknya guru memberikan tindakan/perlakukan yang sesuai dengan kebiasaan belajar siswa kepada siswa agar siswa lebih menghargai pembelajaran yang sedang dilakukan. Masukan dari guru kelas: Siswa yang kurang aktif dalam proses diskusi oleh salah satu observer diartikan karena merasa cukup memahami materi yang didiskusikan, terbukti dari nilai kuis yang tinggi..Siswa yang berbicara sendiri diartikan karena kurangnya perhatian guru pada kelompok yang bersangkutan, sehingga siswa merasa bosan dengan materi yang kurang dipahaminya.

4). Keberhasilan pelaksanaan lesson study siklus IV.pada kegiatan penelitian skripsi mahasiswa: Pada tahap perencanaan para guru (dalam hal ini mahasiswa) secara kolaboratif melakukan pengkajian ulang seperti siklus III. Pelaksanaan implementasi terdiri dari 1 mahasiswa sebagai guru model dan 3 mahasiswa sebagai observer. Kegiatan awal pembelajaran , penekannannya adalah memotivasi siswa dengan cara mengingatkan siswa tentang materi sebelumnya, tentang notasi atom. Dalam kegiatan inti, siswa mulai melakukan kegiatan berkelompok, yaitu berdiskusi memahami LKS dan menyelesaikan soal. Selama siswa mengerjakan tugas kelompok, guru berkeliling kelas untuk memantau kegiatan masing-masing siswa. Selama kegiatan diskusi berlangsung guru juga meminta siswa untuk menuliskan hasil diskusi. Setelah diskusi selesai, siswa diminta mengumpulkan lembar jawaban. Selanjutnya dilakukan diskusi terbuka, yaitu dengan mempresentasikan lembar jawaban tiap kelompok. Setelah presentasi kelas, guru memberikan penguatan. Setelah kemudian guru memberikan kuis untuk mengukur tingkat pemahaman siswa. Dari hasil kuis tersebut, dapat diketahui tingkat pemahaman tiap individu dalam kelompok. Kegiatan akhir, guru bersama siswa menyimpulkan materi yang baru dipelajari. Selanjutnya guru memotivasi siswa agar siswa belajar dirumah untuk menghadapi ulangan pada pertemuan berikutnya. Guru observer (mahasiswa) melakukan tugasnya untuk mengamati tingkah laku siswa selama proses pembelajaran berlangsung, diantaranya interaksi guru-siswa, interaksi siswa-siswa, interkasi siswa – bahan ajar. Tahap refleksi segera dilaksanakan setelah pembelajaran selesai dilaksanakan (11 Agustus 2009). Tahap refleksi adalah tahap dimana guru model melaporkan kegiatan pembelajaran yang baru berlangsung apakah kegiatan pembelajaran tersebut sudah sesuai dengan plan yang telah dibuat atau tidak, serta hasil pengamatan para observer selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Data Observasi: Beberapa siswa tidak aktif dalam kegiatan diskusi. Permasalahan: siswa mulai jenuh untuk mengikuti pelajaran. Solusi: selama diskusi guru mengelilingi tiap kelompok secara rata untuk memantau kegiatan diskusi, dan memberikan pengarahan yang lebih pada siswa yang tidak aktif, membantu permasalahan yang dihadapi dalam proses diskusi. Data observasi: Beberapa siswa tidak menyelesaikan tugas dalam kelompoknya. Permasalahan: kontrol dan penilaian kerja kelompok dari guru kurang. Solusi: perlu ada suatu penilaian dalam kelompok, sehingga memicu siswa ntuk bekerja lebih baik dalam menyelesaikan tanggung jawab dalam kelompoknya. Masukan dari guru kelas: Siswa yang kurang aktif dalam diskusi, maupun siswa yang tidak mampu menyelesaikan tugas dalam kelompoknya diartikan oleh observer karena kurangnya pemahaman siswa terhadap materi yang sedang dipelajari. Maka perlu dicarikan variasi model mengajar yang bergantian sehingga lebih menarik siswa untuk belajar dan tidak membosankan siswa.

Kata kunci: lesson study penelitian skripsi

ALTERNATIF MODEL LAPORAN PELAKSANAAN DO-SEE LESSON STUDY PELITA-JICA BAGI DOSEN PENDAMPING

Darsono Sigit

Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang

ABSTRAK

Tujuan dari penulisan alternatif model laporan lesson study ini adalah: Tersedia bermacam alternatif model laporan bagi dosen pendamping yang sesuai dengan kondisi daerah asal sekolah. Model laporan pendampingan bagi dosen ini dapat dimuat dalam buletin, majalah JICA.

Berbekal pengalaman penulis sebagai dosen pendam­ping yang telah menuliskan beberapa laporan pendampingan sesuai dengan permintaan JICA dan beberapa tulisan pengalaman pendampingan do-see yang dianjurkan oleh Pembantu Dekan I FMIPA UM (Bpk.Drs.H.Soetopo.M.Si). Maka penulis menyu­sun suatu alternatif model Laporan dosen pendamping lesson study (do-see) yang memuat: data kuantitatif dan kualitatif lengkap disertai foto dukumentasi setiap kegiatan, yang terdiri dari : implementasi pembelajaran, observasi, refleksi. Penulisan lapor­an pendampingan ini disesuaikan dengan keperluan penerbitan buletin, majalah JICA.

Altenatif model laporan pendampingan do-see lesson study oleh dosen pendamping telah tersusun sebagai berikut: Judul: LAPORAN PENDAMPINGAN PELAKSANAAN DO-SEE LESSON STUDY PELITA-JICA HOME BASE SMPN1 BANGIL PASURUAN 10 OKTOBER 2009. Sub Judul 1: DO LESSON STUDY. Implementasi Pembelajaran (Do) memuat tanggal dan tempat pelaksanaan, nama guru model, nama guru observer, Kegiatn guru; kegiatan siswa. Menejemen waktu, foto dukumen kegiatan guru model. Sub Judul 2. OBSERVASI, memuat: Nama dan jumalh guru observer, pembgian tugas observer, rambu-rambu observasi. Gambaran situasi siswa saat mengikuti pelajaran, foto dukumen guru melakukan observasi. Sub Judul 3. REFLEKSI (SEE). Refleksi memuat: Waktu dilaksanakan refleksi, peserta refleksi, guru fasilitator, guru notulen, dosen pendamping. Pengalaman guru model; data-data temuan observasi, sebab-sebab terjadinya data tersebut, dan solusi penyelesaian permasalahan. Pengalaman-pengalaman yang berharga bagi guru. Saran dan masukan dari dosen pedamping. Penulisan laporan pendampingan oleh dosen, diakhiri dengan menuliskan nama tempat kota pembuatan laporan, tanggal dan nama terang dosen pendamping .

Kata kunci : alternatif model; laporan do-see lesson study; dosen pendamping

UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA DALAM KOMUNIKASI MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK-PAIR-SHARE (TPS)

Denny Novario

Matematika FMIPA UM; e-mail: novariodenny@yahoo.com

ABSTRAK

Prestasi belajar matematika mengkhawatirkan bahkan mungkin lebih rendah bila dibandingkan dengan mata pelajaran lainnya. Beberapa pelajar juga berpikir bahwa matematika pelajaran yang membosankan, karena penuh rumus dan miskin nilai moral. Kebanyakan pelajar tidak merasa senang ketika belajar matematika. Beberapa pelajar tidak menyukai matematika karena matematika penuh dengan hitungan dan miskin komunikasi. Komunikasi matematika merupakan kemampuan mengemukakan ide matematika dari suatu teks, baik dalam bentuk lisan maupun tulisan dengan bahasanya sendiri. Komunikasi matematika memiliki peran: (1) kekuatan sentral bagi siswa dalam merumuskan konsep dan strategi matematika; (2) modal keberhasilan bagi siswa terhadap pendekatan dan penyelesaian dalam eksplorasi dan investigasi matematika; (3) wadah bagi siswa dalam berkomunikasi dengan temannya untuk memperoleh informasi, membagi pikiran dan penemuan, curah pendapat, menilai dan mempertajam ide untuk meyakinkan yang lain. Kemampuan berkomunikasi menjadi salah satu syarat yang memegang peranan penting karena membantu dalam proses penyusunan pikiran, menghubungkan gagasan dengan gagasan lain sehingga dapat mengisi hal-hal yang kurang dalam seluruh jaringan gagasan siswa. Salah satu metode yang dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam komunikasi matematika yaitu Think-Pair-Share (TPS) merupakan suatu strategi diskusi yang memperkenalkan ide “waktu berpikir atau waktu tunggu” yang menjadi faktor penting untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam merespon suatu pertanyaan. Dengan rincian tindakan sebagai berikut: (1) Pada tahap Think, siswa diminta untuk memikirkan jawaban dari lembar Kerja Siswa yang dibacakan oleh guru, (2) Pada tahap Pair, siswa diminta untuk mendiskusikan jawaban dari Lembar Kerja Siswa tersebut dengan teman sebangkunya, dan (3) Pada tahap Share, guru memanggil satu kelompok secara acak untuk mempresentasikan hasil diskusinya didepan kelas, selanjutnya guru juga meminta jawaban atau tanggapan dari beberapa kelompok lainnya.

Kata kunci: komunikasi, komunikasi matematika, Think-Pair-Share (TPS)

LESSON STUDY UNTUK MENINGKATKAN PROSES DAN KETERCAPAIAN TUJUAN PEMBELAJARAN

Dwi Cahyosetiyono, S.Pd

Gatot Suyono

SMA Negeri 1 Grati; e-mail: cahyosetiyono_dwi@yahoo.com

SMA Negeri 4 Pasuruan; e-mail: gatotsyn@yahoo.co.id

ABSTRAK

Lesson Study merupakan salah satu upaya untuk meningkat­kan proses dan ketercapaian tujuan pembelajaran yang dilaksanakan secara kolaboratif dan berkelanjutan oleh sekelompok guru. Tujuan utama Lesson Study yaitu untuk : (1) Meningkatnya pengetahuan tentang materi ajar; (2) meningkatnya pengetahuan tentang pembelajaran; (3) meningkatnya kemampuan mengobservasi aktifitas belajar; (4)semakin kuatnya hubungan kolegalitas;(5)meningkatnya kualitas rencana pembelajaran. Manfaat yang yang dapat diambil Lesson Study, diantaranya: (1)meningkatnya keprofesionalan guru; (2) meningkatkan mutu pembelajaran di kelas. Lesson Study dapat dilakukan melalui dua tipe yaitu berbasis sekolah dan berbasis MGMP. Lesson Study dilakukan berdasarkan tahapan-tahapan secara siklik, yang terdiri dari: (1) perencanaan (plan); (b) pelaksanaan (do); refleksi (see). Dengan melakukan tahapan-tahapan secara siklik di pertemuan kesatu yang telah direfleksi dan di revisi oleh sekelompok guru, kemudian dilakukan lagi tahapan-tahapan Lesson Study yang menggunakan hasil revisi di pertemuan kesatu menghasilkan suatu pembelajaran yang Aktif, Kreatif, Enjoy dan Menyenangkan (PAKEM). Yang berakibat tujuan pembelajaran tercapai dengan baik.

Kata kunci : lesson study, PAKEM, tujuan pembelajaran

KAJIAN PELAKSANAAN LESSON STUDY BERBASIS SEKOLAH (LSBS) DI SMA NEGERI 1 GRATI

Dwi Cahyosetiyono, S.Pd

Drs. Timbul Sudradjat

SMA N 1 Grati – Pasuruan

ABSTRAK

Lesson study merupakan model peningkatan profesionalisme guru yang mula-mula dikembangkan di Negara Jepang. Mengingat pentingnya lesson study maka model ini perlu disebarluaskan ke guru-guru di lembaga-lembaga sekolah seperti SMA/SMK sehingga profesionlisme mereka semakin meningkat.

Pengkajian dilakukan dengan mengamati hasil laporan notulis dan hasil observasi para observer, dengan mencatat hal-hal yang relevan dengan konsep-konsep pelaksanaan lesson study. Dari data tersebut dianalisis secara kualiltatif seberapa banyak data yang sesuai dengan rambu-rambu pelaksanaan lesson study.

Secara umum lesson study di SMA Negeri 1 Grati telah dilakukan dengan baik dan sesuai harapan dalam arti sebagian besar para peserta telah bertindak dengan benar dalam pelaksanaan lesson study. Serta sudah banyak metode-metode yang telah diterapkan dalam pembelajaran di kelas, namun dengan berlanjutnya program ini di SMAN 1 Grati akan semakin banyak lagi metode/model pembelajaran yang digunakan.

Namun masih ada beberapa hal yang masih harus dibenahi secara bertahap, seperti (1) masih ada para pengamat yang konsentrasi pada sabagian kelompok, yang seharusnya sudah mengarah pada individu siswa, (2) masih ada sebagian kecil observer yang mengamati guru model yang seharusnya pengamatan ke individu siswa, (3) sebagaian guru masih kurang berpengalaman menjadi observer yang baik dan perlu jam terbang cukup, sehingga dengan berlanjutnya program LSBS di SMA Negeri 1 Grati maka akan menjadikan guru-guru lebih profesional.

TEMUAN PERMASALAHAN DAN ALTERNATIF SOLUSINYA PADA PEMBELAJARAN HUKUM COULOMB MELALUI IMPLEMENTASI LESSON STUDY

DI SMA NEGERI I BANGIL

Dwi Irma Martini, S.Pd

Sutarman

SMA Negeri I Bangil

Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang

ABSTRAK

Berdasarkan hasil observasi pembelajaran pada kegiatan lesson study di SMA Negeri Bangil pada materi hukum Coulomb ditemukan beberapa masalah yang dialami siswa. Pertama, siswa tidak membaca lembar kerja siswa (LKS) sebelum melakukan percobaan sehingga salah langkah. Hal ini disebabkan dihadapan siswa telah tersedia alat, sehingga siswa ingin dengan cepat melakukan percobaan. Solusinya, anak diminta membaca LKS dengan cermat sebelum melakukan percobaan sehingga langkah percobaan dilakukan dengan benar. Kedua, cara siswa menggosok-gosok penggaris plastik kurang tekanan sehingga ketika ujung penggaris di tempelkan ke kepala elektroskop keping elektroskop tidak menyimpang. Solusinya guru memberikan contoh cara menggosok penggaris dengan kertas tisu yang benar. Ketiga, berdasarkan percobaan siswa masih belum menangkap konsep bahwa antara dua muatan yang senama saling tolak-menolak dan antara muatan tak sejenis tarik-menarik. Solusinya, percobaan diarahkan agar siswa menemukan adanya dua benda yang tolak-menolak dan dua benda yang tarik-menarik. Keempat, siswa terganggu konsentrasinya ketika ada suara keras lewat speaker pengumuman yang dipasang di setiap ruangan kelas. Solusinya, sebaiknya pengumuman tidak melalui speaker yang mengganggu siswa konsentrasi.

Kata kunci : hukum coulomb, lesson study

PENERAPAN CONSTRUCTIVISM APROACH MELALUI

KEGIATAN LESSON STUDY PADA MATERI OPTIK

DI SMP NEGERI 23 SURABAYA

Dwikoranto

Fisika FMIPA UNESA, E-mail: dwi_bsc.saja@yahoo.co.id

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengelolaan pembelajaran dengan penerapan pendekatan konstruktivisme melalui kegiatan lesson study, mendeskipsikan prestasi belajar siswa (kognitif, afektif, dan psikomotor) selama pembelajaran dengan penerapan pendekatan konstruktivisme melalui kegiatan lesson study, mendeskripsikan respon dan aktifitas siswa selama kegiatan belajar mengajar dengan Objek penelitian siswa kelas III. Jenis penelitian deskriptif pra eksperimental One Shot Case Study dengan menerapkan tahapan lesson study yaitu plan, do, see pada pelaksanaannya. Setelah diadakan Observasi dilanjutkan dengan pembetukan tim lesson study kemudian dilanjutkan dengan penyusunan instrumen dan perangkat penelitian. Setelah instrumen dan perangkat tersebut dinyatakan layak untuk digunakan maka dilanjudkan dengan kegiatan pembelajaran. Dari analisis data diperoleh bahwa kemampuan guru dalam pengelolaan pembelajaran kontruktivisme melalui kegiatan lesson study termasuk dalam kategori baik, walaupun terjadi peningkatan dan penurun pada setiap pertemuan. Hal ini terlihat dari hasil rata-rata pengamatan pada do I sebesar 2,82 (kategori baik) yang meningkat menjadi 3,00 (kategori baik) pada do II kemudian menurun kembali menjadi 2,65 (kategori baik) pada do III. Rata-rata prestasi yang dicapai selama pembelajaran dengan penerapan pendekatan konstruktivisme melalui kegiatan lesson study oleh siswa pada do pertama 61,58; 73,89; 66,39 masing-masing untuk ranah kognitif, afektif dan psikomotor, pada do kedua 72,76; 77,92; 74,86 masing-masing untuk ranah kognitif, afektif dan psicomotor, pada do ketiga 59,74; 83,44; 66,81 masing-masing untuk ranah kognitif, afektif dan psikomotor. Dengan pencapaian KKM pada do pertama pencapaian KKM 39,47%; 86,84%; 10,53% masing-masing untuk ranah kognitif, afektif dan psikomotor, pada do ke dua pencapaian KKM 86,11%; 97,22%; 100% masing-masing untuk ranah kognitif, afektif dan psikomotor, dan pada do ke tiga pencapaian KKM 64,86%; 91,89%, 40,54%. Siswa merespon baik kegiatan belajar mengajar dengan pendekatan konstruktivisme melalui kegiatan lesson study, dengan hasil angket pada do pertama 7,89% siswa menyatakan suka sekali, 71,05% siswa menyatakan suka, pada do ke dua 19,44% siswa menyatakan suka sekali, 72,23% siswa menyatakan suka pada do ke tiga 5,26% siswa menyatakan suka sekali, 78,95% siswa menyatakan suka,

Kata kunci: Construktivism Aproach, Lesson Study

KEMAMPUAN GURU SMP DAN SMA PASURUAN DALAM MEREFLEKSI IMPLEMENTASI LESSON STUDY BERDASARKAN REFORMASI PEMBELAJARAN DAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN

Endang Suarsini

Eko Sri Sulasmi

Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang

ABSTRAK

Implementasi Lesson Study (LS) di SMP Pasuruan sudah berlangsung selama tiga tahun, sementara di SMA Pasuruan baru satu tahun. Refleksi merupakan salah satu kegiatan yang penting dalam implementasi LS. Melalui kegiatan refleksi dapat diperoleh gambaran tentang: bagaimana rewiew guru model dalam melaksanakan pembelajaran, ungkapan pendapat seluruh peserta/observer mengenai pembelajaran yang baru dilaksanakan, sudut pandang peserta/observer dalam merefleksi hasil pengamatan pembelajaran, permasalahan yang ditemukan selama pengamatan pembelajaran beserta solusinya (termasuk RPP dan perangkat pembelajaran), serta penerapan inovasi pembelajaran. Observasi terhadap kegiatan refleksi LS bertujuan untuk mengetahui peningkatan kemampuan guru SMP dan SMA Pasuruan dalam merefleksi LS. Observasi dilakukan selama pendampingan LS di Pasuruan sejak tahun pelajaran 2006/2997 untuk SMP dan sejak tahun pelajaran 2007/2008 untuk SMA.

Temuan dari observasi menunjukkan bahwa pada semester awal di tahun pertama guru SMP dalam merefleksi LS belum sepenuhnya mengikuti rambu-rambu refleksi LS, dalam hal ini belum semua guru peserta/observer berani menyampaikan pendapat/komentar tentang temuan dalam pembelajaran yang diamati, kecuali dipaksa berbicara. Sudut pandang pembicaraan dalam refleksi cenderung terfokus pada guru mengajar, RPP/LKS, dan materi bukan bagaimana siswa belajar dan kesulitan apa yang dihadapi siswa dalam belajar dan bagaimana solusinya. Namun, sejalan dengan tingkat keseringan guru dalam mengikuti LS kemampuan guru SMP dalam merefleksi LS meningkat, dalam hal ini sudut pandang pembicaraan dalam refleksi cenderung terfokus pada bagaimana siswa belajar dan kesulitan apa yang dihadapi siswa dalam belajar dan bagaimana solusinya dan bukan bagaimana guru mengajar. Adapun temuan mengenai kemampuan guru SMA dalam merefleksi LS masih belum setarap dengan guru SMP, yakni belum sepenuhnya mengikuti rambu-rambu refleksi LS, dalam hal ini belum semua guru peserta/observer dalam menyampaikan pendapat/komentar tentang temuan dalam pembelajaran yang diamati,

terfokus pada bagaimana siswa belajar dan kesulitan apa yang dihadapi siswa dalam belajar dan bagaimana solusinya tetapi cenderung terfokus pada guru mengajar, RPP/LKS, dan materi. Baik guru SMP maupun guru SMA dalam mengim-plementasikan LS sudah menerapkan berbagai inovasi pembelajaran sesuai dengan reformasi pembelajaran dan teknologi pendidikan.

Kata kunci: kemampuan guru SMP dan SMA, refleksi LS, reformasi pembelajaran dan teknologi pendidikan.

PELAKSANAAN LESSON STUDY

DI JURUSAN MATEMATIKA FMIPA UM

Erry Hidayanto

Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang

ABSTRAK

Lesson study merupakan model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar. Untuk mengenalkan sekaligus mempraktekkan apa itu Lesson Study dan bagaimana pelaksanaan Lesson Study, di Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang, sebagai bagian dari Institusi Universitas Negeri Malang (UM), juga melaksanakan kegiatan Lesson Study. Tulisan ini memaparkan kegiatan Lesson Study yang telah dilaksanakan di Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Selain paparan kegiatan Lesson Study, penulis sampaikan juga hal-hal yang terkait, permasalahan yang ada dan harapan yang bisa diusulkan untuk kegiatan Lesson Study lebih lanjut.

Kata kunci: Lesson Study, Matematika, KBK.

PEMAHAMAN KONSEP GENETIKA DENGAN PERMAINAN KARTU ALFABET GENETIKA DALAM MENCIPTAKAN SUASANA PEMBELAJARAN MENYENANGKAN DI KELAS XII-IPA 2 SEMESTER I TAHUN PEMBELAJARAN 2008/2009

SMA LABORATORIUM UM

Evi Fatmawati

SMA Laboratorium UM

ABSTRAK

Permainan kartu alfabet genetika merupakan suatu metode pembelajaran dengan aturan yang telah ditetapkan oleh guru. Tujuan dari permainan kartu alphabet genetika adalah mempermudah siswa memahami konsep-konsep genetika dan menciptakan suasana yang menyenangkan dalam pembelajaran konsep genetika. Permainan kartu alphabet genetika mempunyai kelebihan mampu meningkatkan minat, perhatian, dan motivasi siswa dalam belajar serta dapat megembangkan sikap sains, kemampuan menyelesaikan ketidaktentuan, penguasaan terhadap fakta, ketrampilan, konsep, dan prinsip-prinsip sains. Tapi permainan kartu alphabet genetika juga mempunyai kelemahan yaitu menuntut imajinasi siswa dan guru,menuntut hubungan informal antara guru dan siswa harus fleksibel,kadangkala membutuhkan waktu lamadan membutuhkan dana. Permainan kartu alphabet genetika yang dilakukan di kelas XII-IPA 2 mampu menciptakan suasana yang kondusif dan menyenangkan dalam mempelajari konsep-konsep genetika.

Kata kunci : kartu alphabet, genetika, SMA LAB UM

PENGARUH LESSON STUDY TERHADAP KETRAMPILAN DALAM MELAKSANAKAN STRATEGI PEMBELAJARAN YANG MENARIK PADA BIDANG STUDI PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN (EXSPERIENCE)

Gianto

SMA Laboratorium UM

ABSTRAK

Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembetukan warga Negara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warganegara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945. Melihat latar belakang ,mata pelajaran pendidikan kewarga negaraan yang memfokuskan pada pembentukan watak dan kepribadian warganegara yang selama ini hanya berpusat pada siswa dan buku paket materi, serta tugas-tugas pembelajaran. Untuk itu perlu studi pembelajaran yang melibatkan semua potensi psikologis siswa yaitu Lesson study. Agar proses belajar siswa dapat berlangsung produktif, efektif, dan efisien perlu dikembangkan model-model pembelajaran inovatif yang akan merangsang dan akan mengaktifkan semua perangkat belajar siswa, yaitu semua sensori eksternal dan struktur kognitif yang telah dimiliki. Sensori eksternal berfungsi sebagai penerima informasi baru yang harus dipelajari, sementara struktur kognitif adalah perangkat belajar non fisik yang akan memproses informasi yang diterima agar menjadi bermakna. Selanjutnya, makna yang dikembangkan dari informasi yang diperoleh lewat perangkat sensorik akan memperkaya struktur kognitif dan meningkat kapasitas belajar siswa.

Masalah yang timbul di dalam proses pembelajaran tidak boleh dibiarkan karena tidak akan terselesaikan dengan sendirinya, justru semakin lama akan menjadi semakin kompleks dan semakin luas dimensinya. Beberapa model pembelajaran inovatif yang dikembangkan dapat dicobakan sebagai perlakuan di dalam bentuk penelitian tindakan kelas (PTK). Dengan ini guru berupaya menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan cara yang lebih dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan tidak sekedar melalui ”trial and error”. Pengembangan model-model pembelajaran inovatif oleh guru dapat dilakukan adopsi-adaptasi model-model yang ditawarkan dan sudah pernah digunakan oleh guru-guru lain dengan menyesuaikan konteks untuk memperoleh hasil yang optimal. Lesson study adalah suatu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berdasarkan prinsip kolegalitas dan mutual learning. Lesson study dilaksanakan dalam tiga tahapan yaitu plan (merencanakan), do (melaksanakan), dan see (merefleksi) yang berkelanjutan. Jadi LS merupakan cara peningkatan mutu pendidikan yang tidak pernah berakhir (continuous improvement). Interaksi yang terjadi dalam suatu kegiatan lesson study, baik sebagai guru model maupun sebagai observer secara kontruktif menunjang perkembangan pengetahuan pada diri seorang guru.

Dengan melakukan interaksi dalam berbagai tahapan kegiatan memungkinkan terjadinya sharing pengetahuan. Dengan demikian, dapat meningkatkan pengetahuan baik bahan ajar maupun implementasi dari model yang sedang digunakan melalui kegiatan observasi. Beberapa manfaat lesoon study bagi guru adalah: Pertama, guru semakin percaya diri, hal itu terjadi karena semakin banyak observer berarti akan semakin banyak masukan yang didapat. Dampaknya, akan semakin sempurna rencana pembelajaran tersebut. Kedua, mendewasakan profesi guru, adanya saran dan kritik dari teman sejawat akan semakin memperkaya wawasan dan ilmu yang dimiliki. Ketiga, tidak canggung saat diamati, semakin sering bergabung pada kegiatan lesoon study maka guru tersebut akan semakin banyak ilmu, Keempat, tumbuhnya rasa kesejawatan yang tinggi di antara guru. Semakin sering mengikuti kegiatan lesoon study, semakin mendorong guru untuk selalu belajar dan diskusi bersama dalam mewujudkan cita-cita menjadi guru yang profesional, Kelima, memperkaya wawasan model pembelajaran inovatif.

Kata kunci: Lesson study, proses belajar yang produktif, efektif dan ifisien, model pembelajaran inovatif

PENGEMBANGAN LESSON STUDY DI PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH

Hadi Suwono

Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang

ABSTRAK

Tujuan kerjasama Konsorsium Perguruan Tinggi Islam penyelenggara program studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) dengan LAPIS (Learning Assistance Program for Islamic Schools) adalah meningkatkan kapasitas PGMI dalam menghasilkan lulusan calon guru madrasah ibtidaiyah (MI) yang berkualitas. Salah satu program yang diimplementasikan adalah peningkatan kualitas dosen PGMI. Ada empat fokus kegiatan peningkatan kualitas dosen, meliputi pemahaman konteks MI, pengembangan kurikulum, perkuliahan aktif, dan lesson study. Penerapan lesson study bagi dosen-dosen PGMI telah dilaksanakan, tujuannya adalah agar dosen dapat menerapkan lesson study sebagai wahana untuk meningkatkan kualitas perkuliahan aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan secara berkelanjutan. Tujuan jangka panjang pengembangan lesson study di PGMI selain diharapkan dapat meningkatkan kualitas dosen PGMI juga diharapkan dapat meningkatkan kualitas guru-guru MI. Kualitas guru MI diharapkan akan meningkat melalui lulusan yang berkualitas serta penyebarluasan lesson study oleh PGMI kepada guru-guru MI.

PEMBERIAN TUGAS TAK TERSTRUKTUR DENGAN MEMANFAATKAN BAHAN DARI DAUR ULANG KERTAS MENJADI ALAT PERAGA, MELALUI LESSON STUDY UNTUK MENINGKATKAN KREATIFITAS DAN PEMAHAMAN MATERI VIRUS DI KELAS X SMA NEGERI 2 LUMAJANG

Harlis Purwaningsih

ABSTRAK

Government has tried hard to improve the teaching and learning of Biology, with various effort for example; to realize various effort to improve the quality of Biology teachers through various training and upgrading, including the change of curriculum which empowers the students competence.

The instructional product always covers three side, that is teaching plan, contens, and the product implementation on the teaching and learning process. First both sides have enough assured, because it has been managed better by those who have competence. Third side which is the important of all need also the efforts to expose through lesson study.

To realize those mentioned above, this research formulate the following problem: Can Non Structure Task from reuse peaces improve the ability to increase the creativity improvement on understanding about virus, by lesson study on class X-1, Senior High School Two (SMA2) Lumajang?. It is done in class X-1, Senior High School Two (SMA 2) Lumajang containing 13 boys 23 girls and totally 36 students.

The research show that: (1) Non Structure Task from reuse peaces based on cooperative as one of the approach of teaching should be the choice of teachers, because it can improve and motivate the study and achieve the visible respond on the various processes of teaching and learning. (2) Non Structure Task from reuse peaces based on cooperative can increase the skill of the critical thinking of the students that is the skills to compose systematic sentences, well organize and logical. (3) Non Structure Task from reuse peaces based on cooperative can also improve the multi aspect of their study including the cognitive, psychomotor and affective.

From the research there are several suggestion to increase the academic achievement in line with non structure task from reuse peaces based on cooperative based, they are: (1) In line with the issuing of the new curriculum (KTSP), teacher should increase the function as facilitators by implementing several approaches which place the students competence over the multiaspect. (2) It is required to conduct the research by lesson study furthermore to improve the skill of the students and hopefully it can also increase the self reliance, and furthermore it can also increase and improve their academic achievement.

Keywords : lesson study, re use, observer.

PENGUASAAN MATRIKS MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF SISWA KELAS XII BAHASA SMAN 3 KOTA PASURUAN

Harwijeni

ABSTRAK

Permasalahan ini dilatar belakangi permasalahan yang ditemui pada saat mengajar di sekolah, melalui hasil refleksi dan pengamatan pada proses pembelajaran sebelumnya guru dalam mengajar menerapkan secara konvensional dan lebih mengutamakan ketrampilan menjawab dari pada menanamkan pengertian. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe TPS belum pernah diterapkan dalam pengajaran. Oleh karena itu dilakukanlah mengajukan alternatif penyelesaian masalah dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe TPS.

Berdasarkan permasalah tersebut di atas, maka dapat dirumuskan masalah utama sebagai berikut: “Bagaimanakah penguasaan matriks melalui model pembelajaran kooperatif tipe TPS siswa kelas XII bahasa SMAN 3 Pasuruan?” Dengan rincian rumusan masalah : (1)Bagaimanakah motivasi belajar melalui model pembelajaran kooperatif tipe TPS siswa kelas XII Bahasa SMAN 3 kota Pasuruan ? (2) Apakah model pembelajaran kooperatif tipe TPS prestasi belajar siswa kelas XII Bahasa SMAN 3 kota Pasuruan menjadi tuntas?

Selanjutnya data yang diperoleh dari hasil belajar pada saat diskusi kelas dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TPS menunjukkan bahwa penguasaan matriks siswa kelas XII bahasa SMAN 3 kota Pasuruan memperoleh nilai di atas 75 atau melampaui KKM ( Kriteria Ketuntasan Minimal) dengan rata-rata kelas 88,9 .

Dengan demikian guru, khususnya guru matematika dapat menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TPS sebagai salah satu cara meningkatkan prestasi belajar siswa,.

Kata kunci: Penguasaan Matriks , Model pembelajaran kooperatif tipe TPS

IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN LEARNING CYCLE – 5 FASE DALAM MENINGKATKAN PRESTASI DAN KEAKTIFAN BELAJAR KIMIA SISWA KELAS X SMAN 6 MALANG PADA MATERI HIDROKARBON

Hayuni Retno Widarti

Ida Bagus Suryadharma

Ahmad

Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang

ABSTRAK

Metode-metode pembelajaran konvensional seperti ceramah dan tanya jawab kurang menunjukkan hasil yang maksimal, hal ini disebabkan karena penekanan ada pada cara guru menyampaikan pengetahuan kepada siswa bukan dilihat dari sisi siswa sebagai subyek yang belajar. Pendekatan semacam ini kurang efektif karena konsentrasi siswa pada saat ceramah tidak seratus persen dan secara terus menerus diarahkan pada materi pelajaran. Oleh sebab itu, digunakan model-model pembelajaran konstruktivistik, salah satunya adalah Learning Cycle – 5 Fase. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui apakah model pembelajaran Learning Cycle-5 Fase dapat meningkatkan prestasi belajar kimia siswa kelas X SMAN 6 Malang pada materi Hidrokarbon dibandingkan metode ceramah. Penelitian menggunakan rancangan penelitian eksperimental semu. Populasi penelitian adalah siswa kelas X SMAN 6 Malang yang terdiri dari 8 kelas. Sampel penelitian terdiri dari kelas kontrol dan kelas eksperimen yaitu kelas X1 dan X2 yang diambil secara acak. Instrumen dalam penelitian adalah tes evaluasi, lembar observasi. Teknik analisis data yang digunakan untuk mengolah data hasil penelitian meliputi analisis kuantitatif berupa angka (uji prasyarat analisis dan uji t). uji t dikenakan pada data hasil belajar siswa. Hasil penelitian menunjukkan model pembelajaran Learning Cycle – 5 Fase dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dibandingkan dengan metode ceramah. Hal ini terlihat dari nilai rata-rata siswa di kelas eksperimen (84,57) lebih tinggi dibandingkan nilai rata-rata siswa di kelas kontrol (70,80).

Kata kunci: learning cycle-5 fase, hidrokarbon, prestasi belajar, SMA.

PENGGUNAAN GRAPHMATICA SEBAGAI ALAT BANTU DALAM PELAKSANAAN LESSON STUDY

PADA MATERI FUNGSI KUADRAT

STUDI KASUS DI SMAN I KEJAYAN PASURUAN

Hendro Permadi

Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang

ABSTRAK

Pembelajaran dengan lesson study yang akan dilaksanakan seharusnya memilih suatu fokus tertentu tentang keterampilan guru yang ingin ditingkatkan. Ada beberapa fokus yang dapat dipilih untuk peningkatan keterampilan guru tersebut antara lain kemampuan bertanya yang menggiring dan kemampuan memanfaatkan media. Pada makalah ini bermula pada kasus yang terjadi di SMAN I kejayan pada pelaksanaan lesson study dengan materi fungsi kuadrat, dimana pada saat apersepsi guru model telah menyajikan materi dengan menggunakan power point. Penyajian sebenarnya sudah baik tetapi tidak dapat menggiring siswa untuk mengungkapkan pertanyaan. Melalui tulisan ini diharapkan siswa lebih aktif untuk bertanya bila guru model memancing dengan menggunakan media atau software graphmedia dengan mensimulasi fungsi kuadrat yang akan diberikan pada kegiatan inti. Sehingga fokus ketrampilan guru model yang diinginkan yakni kemampuan bertanya yang menggiring dan kemampuan memanfaatkan media dapat lebih ditingkatkan.

Kata kunci : fungsi kuadrat, Graphmatica

PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR DAN HASIL BELAJAR IPA (BIOLOGI) STRATEGI PEMBELAJARAN KOOPERATIF NHT SISWA KELAS IX-I

MTS NEGERI BANGIL

Herlina

Susriyati Mahanal

MTs Bangil

Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang

ABSTRAK

Berdasarkan hasil pengamatan peneliti di kelas IX-1 MTs Negeri Bangil, bahwa motivasi belajar siswa dan hasil belajar IPA (Biologi) masih rendah. Hal ini disebabkan selama ini guru (peneliti) dalam masih mendominasi dalam pembelajaran (teacher-centered instruction). Pembelajaran konstruktivisme dalam hal ini pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together (NHT) ditengarai dapat meningkatkan hasil belajar dan motivasi belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) penerapan pembelajaran kooperatif NHT (Numbered Heads Together) dalam meningkatkan motivasi belajar IPA (Biologi) siswa kelas IX-I MTs Negeri Bangil, 2) penerapan pembelajaran kooperatif NHT (Numbered Heads Together) dalam meningkatkan hasil belajar IPA (Biologi) siswa kelas IX-I MTs Negeri Bangil. Jenis penelitian adalah penelitian kualitatif dengan rancangan penelitian tidakan kelas dari Kemmis dan Taggart (1993) yang terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan (observasi), dan refleksi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) penerapan pembelajaran kooperatif NHT (Numbered Heads Together) dapat meningkatkan motivasi belajar IPA (Biologi) siswa kelas IX-I MTs Negeri Bangil, 2) penerapan pembelajaran kooperatif NHT (Numbered Heads Together) dapat meningkatkan hasil belajar IPA (Biologi) siswa kelas IX-I MTs Negeri Bangil.

Kata kunci: Kooperatif Numbered Heads Together, hasil belajar, motivasi belajar

IMPLEMENTASI DAN MANFAAT LESSON STUDY DALAM PEMBELAJARAN DI SETIAP JENJANG PENDIDIKAN

Husnul Chotimah

SMP Negeri Satu Atap Merjosari-Kota Malang, E-mail: styoen@yahoo.co.id

ABSTRAK

Guru professional mempunyai kompetensi akademik dan kompetensi pro­fessional sebagai suatu tuntutan keutuhan tugas sehari-hari. Kompetensi peda­gogik, professional, kepribadian, dan sosial harus dilihat sebagai suatu keutuhan yang tidak terpisahkan dari kompetensi penguasaan bahan ajar yang terkandung di dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan. Untuk meningkatkan kompetensi-kompetensi tersebut Lesson Study merupakan penyelesaian yang diperlukan.

Karena kegiatan lesson study meliputi perencanaan (plan), pelaksanaan (do), dan refleksi (see), maka setiap guru terlibat secara aktif dalam kegiatan lesson study tersebut. Jika lesson study yang dikembangkan berbasis bidang studi, maka pihak-pihak yang melakukannya adalah para guru bidang studi ataupun guru serumpun bidang studi.

Dalam setiap langkah dari kegiatan lesson study, guru kelas memperoleh kesempatan untuk melakukan identifikasi masalah pembelajaran yang terjadi di dalam kelas, mengkaji pengalaman pembelajaran yang biasa dilakukan, memilih alternatif model pembelajaran yang akan digunakan, meran­cang rencana pembelaajaran, mengkaji kelebihan dan kekurangan alternatif model pembelajaran yang dipilih, melaksanakan pembelajaran, mengobservasi proses pembelajaran, mengi­den­tifikasi hal-hal penting yang terjadi dalam aktivitas belajar peserta didik di kelas, melakukan refleksi secara bersama-sama atas hasil observasi kelas, serta mengambil pelajaran berharga dari setiap proses yang dilakukan untuk kepenting­an peningkatan kualitas proses dan hasil pembelajaran peserta didik.

Dengan lesson study, guru dapat: mengkaji secara cermat cara dan proses belajar serta tingkah laku peserta didik, mengembangkan pembelajaran yang terbaik, memper­dalam pengetahuan mengenai materi pokok yang dibelajarkan, memantapkan tujuan jangka panjang yang akan dicapai, merancang pembelajaran secara kolaboratif, memantapkan tujuan pembelajaran, materi pokok, dan bidang studi, mengembangkan pengetahuan pedagogis dan meningkatkan hasil pembelajaran.

Kata kunci: Lesson study, pembelajaran, jenjang pendidikan

PENINGKATAN PERSEPSI DAN SIKAP GURU BIOLOGI SMP TERHADAP MGMP SAINS DI KABUPATEN PASURUAN SETELAH IMPLEMENTASI LESSON STUDY MELALUI PROGRAM SISTTEMS

Ibrohim

FMIPA Universitas Negeri Malang

ABSTRAK

MGMP merupakan suatu forum atau wadah profesional guru mata pelajaran yang berada pada suatu wilayah. MGMP merupakan organisasi non struktural yang bersifat mandiri, berasaskan kekeluargaan, dan tidak mempunyai hubungan hirarkis dengan lembaga lain. Salah satu tujuan diselenggarakannya MGMP adalah untuk memotivasi guru guna meningkatkan kemampuan dan keterampilan merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran. Namun kenyataannya, pola kegiatan MGMP belum efektif dan partisipasi guru dalam mengikuti kegiatan tersebut relatif masih relatif rendah. Fenomena rendahnya partisipasi guru dalam mengikuti kegiatan MGMP terkait dengan persepsi dan sikap guru terhadap keberadaan dan aktivitas MGMP. Untuk mengetahui persepsi dan sikap guru terhadap MGMP sebelum dan setelah implementasi lesson study dalam kegiatan MGMP Sains di Kabupaten Pasuruan telah dilakukan penelitian kuasi eksperimen.

Penelitian kuasi eksperimen ini antara lain betujuan untuk mengungkapkan pengaruh model implementasi lesson study terhadap peningkatan persepsi dan sikap guru terhadap MGMP. Pengambilan data awal (penyebaran kuesioner) dilakukan pada Bulan September – Oktober 2006 dan pengambilan data akhir dilakukan pada Bulan November – Desember 2007, bersamaan dengan pelaksanaan baseline dan endline survey SISTTEMS (Strengthening In-service Teacher Training of Mathematics and Science Education at Junior Secondary Level). Kuesioner skala persepsi dan sikap guru terhadap MGMP yang digunakan memiliki nilai koefesien reliabilitas Alpha Cronbach = 0,742. Sampel penelitian terdiri dari masing-masing 6 guru biologi dari 3 MGMP wilayah (Purwosari, Beji dan Nguling) yang diberi perlakukan model implementasi lesson study dan 6 guru biologi dari MGMP Sains Kota Pasuruan sebagai kontrol. Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh implementasi lesson study terhadap peningkatan persepsi dan sikap guru terhadap MGMP data hasil kuesioner dianalisis dengan analisis kovarian menggunakan SPSS PC-11,5 for Window.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa skor persepsi dan sikap guru biologi terhadap MGMP Sains relatif tinggi, yakni rata-rata per wilayah antara 72,1% sampai 77,3% saat awal perlakuan, dan kemudian meningkat menjadi 78,9% sampai 86,4%. Dari hasil pengelompokan tingkat persepsi dan sikap diketahui bahwa 79,2% guru termasuk memiliki kategori sedang dan sisanya 20,8% termasuk memiliki persepsi dan sikap yang tinggi. Pada akhir implementasi lesson study jumlah guru yang memiliki persepsi dan sikap yang sedang menurun menjadi 29,2% dan yang memiliki persepsi dan sikap yang tinggi meningkat menjadi 70,8%. Ini artinya setelah implementasi lesson study terjadi peningkatan persepsi dan sikap guru terhadap MGMP. Dari hasil analisis kovarian diketahui bahwa terdapat perbedaan yang sangat signifikan nilai persepsi dan sikap guru antar perlakuan (p = 0,002) lebih kecil dari 0,050. Dalam hal ini ditemukan perbedaan sangat signifikan peningkatan skor persepsi dan sikap guru terhadap MGMP antar perlakuan model implementasi lesson study; dengan kata lain macam-macam model implementasi lesson study berpengaruh terhadap peningkatan persepsi dan sikap guru pada MGMP. Oleh karena itu, untuk meningkatkan persepsi dan sikap guru terhadap MGMP perlu dilakukan perubahan pola kegiatan MGMP, dari pertemuan-pertemuan yang bersifat konvensional menjadi kegiatan lesson study secara rutin.

Kata kunci: MGMP, lesson study, persepsi dan sikap guru

PENINGKATAN AKTIFITAS BELAJAR SISWA MELALUI LESSON STUDY PADA MATERI PENCEMARAN DAN KERUSAKAN LINGKUNGAN DENGAN METODE ANALISIS KRITIS ARTIKEL

Indarijanti

Susriyati Mahanal

SMPN 2 Winongan

Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang

ABSTRAK

Proses pembelajaran di kelas hendaknya berpihak pada siswa, yang memperhatikan karakteristik siswa (student center). Dengan pembelajaran yang berpusat pada siswa diharapkan dapat membentuk siswa yang memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi (kritis dan analitis ) dan kreatif yang ke depan diharapkan menjadi manusia-manusia berhasil dalam kehidupannya Pada tanggal 14 Maret 2009 telah dilaksanakan kegiatan Lesson Study di SMPN 1 Winongan dengan materi pencemaran dan kerusakan lingkungan serta hubungannya dengan aktifitas manusia dengan menggunakan metode pembelajaran Analisis Kritis Artikel (AKAR). Pelaksanaaan pembelajaran (do) di kelas VIIC dengan jumlah siswa sebanyak 34 siswa yang dikelompokkan menjadi 8 kelompok. Kegiatan tersebut dihadiri 9 observer. Instrumen yang digunakan berupa lembar observasi lesson study yang diisi para observer dan hasil refleksi. Dari kegiatan lesson study tersebut diketahui bahwa pembelajaran secara berkelompok dengan metode Analisis Kritis Artikel dapat memotivasi setiap anggota kelompok untuk bekerjasama secara bertanggungjawab mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Hal ini terlihat pada saat kegiatan inti siswa tampak aktif berdiskusi dalam satu kelompok untuk mempelajari, menganalisis serta membuat pertanyaan dari artikel yang mereka bawa. Dengan berdiskusi terbentuk suasana saling belajar dan membelajarkan antar siswa dalam satu kelompok. Namun demikian berdasarkan hasil observasi masih ada beberapa siswa yang kurang aktif mengikuti pembelajaran di kelas. Pelajaran berharga yang diperoleh guru sebagai observer dari kegiatan lesson study ini adalah penambahan wawasan tentang metode pembelajaran Analisis Kritis Artikel yang ternyata tepat digunakan untuk materi kerusakan lingkungan, media pembelajaran yang sederhana, cara guru memberikan motivasi pada siswa, cara mengaktifkan kelompok siswa, melatih siswa berdiskusi, menganalisis, membuat pertanyaan serta menjawab pertanyaan dari artikel yang telah dipelajari, melatih siswa berani mengemukakan pendapat, cara guru memberikan penghargaan pada siswa dan bagaimana peranan guru sebagai seorang fasilitator dalam proses pembelajaran.

Kata kunci : lesson study, aktivitas belajar siswa, kualitas pembelajaran

MENINGKATKAN KEMAMPUAN GURU MATEMATIKA SMP/MTS DI KABUPATEN PASURUAN DALAM MENYUSUN LKS YANG MENGACU PADA

KURIKULUM 2006 MELALUI KEGIATAN LESSON STUDY

Indriati Nurul Hidayah

Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang

ABSTRAK

Berdasarkan Kurikulum 2006 pembelajaran matematika hendaknya dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi (contextual problem) dan pendekatan pemecahan masalah merupakan fokus dalam pembelajarannya. Sedangkan untuk meningkatkan keefektifan pembelajaran, sekolah diharapkan menyiapkan media pembelajarannya. Lembar Kerja Siswa merupakan salah satu media yang dapat diberikan pada siswa.

Guru dapat mendesain sendiri LKS yang mengacu pada kurikulum 2006 . Guru dapat bekerja sama dengan teman sejawat atau pakar. Kegiatan Lesson Study merupakan salah satu kegiatan yang tepat untuk saling berkolaborasi antara guru dalam membuat LKS.

Tujuan penelitian ini adalah (1). Membuat skenario atau langkah-langkah tahap Lesson Study untuk meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun LKS yang beracuan kurikulum 2006 melalui kegiatan Lesson Study di Pasuruan. (2). Mengetahui kesesuaian LKS yang disusun guru pada kegiatan Lesson Study di Pasuruan dengan LKS yang mengacu pada kurikulum 2006.

Untuk meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun LKS yang beracuan kurikulum 2006, dibuatlah rancangan/ skenario pada masing-masing tahap Lesson Study (plan, do, see). Dari kegiatan Lesson Study selama 1 semester diperoleh 6 LKS, namun karena 2 pasang LKS mengambil topik yang sama, maka yang dibahas pada penelitian ini 4 LKS. Dari 4 LKS yang diamati ternyata 2 LKS sudah mengangkat masalah kontekstual di LKSnya, tapi 2 LKS yang lain belum. Dua LKS itu masih berupa latihan soal yang rutin. Dari keempat LKS belum ada yang mengangkat soal yang berupa pemecahan masalah dalam LKS. Hal ini dikarenakan guru belum terbiasa dan merasa kesulitan dalam menyusun soal yang berupa pemecahan masalah.

Kata kunci: LKS mengacu kurikulum 2006, Lesson Study

BELAJAR DARI PENGALAMAN LESSON STUDY MATEMATIKA DI PASURUAN

Ipung Yuwono

FMIPA Universitas Negeri Malang

ABSTRAK

Pengalaman Lesson Study Matematika setelah berjalan selama hampir 4 tahun, mengindikasikan bahwa hampir semua guru sangat tergantung pada buku teks pelajaran yang belum cukup baik sajiannya. Buku teks hanya menjadi pengkabaran informasi, yang tidak cukup dalam memfasilitasi belajar siswa dalam membangun pemahaman. Durasi waktu yang digunakan dalam pembelajaran matematika untuk siswa Indonesia tergolong sangat tinggi, namun hasilnya belum memuaskan. Lesson Study yang dilaksanakan semakin baik, diharapkan dapat menyemaikan pembelajaran matematika yang bermakna. Untuk itu, perlu penyamaan persepsi diantara dosen pendamping tentang isu pembelajaran mutakhir, pembelajaran kontekstual, pengembangan bahan ajar yang memperhatikan urutan logis dan psikologis sajian materi serta, dasar-dasar asesmen dalam pembelajaran.

Kata kunci : lesson study, matematika

PENERAPAN LESSON STUDY UNTUK MENINGKATKAN

KUALITAS PEMBELAJARAN BIOLOGI

SISWA KELAS VII A SMPN 2 WONOREJO

KABUPATEN PASURUAN

Izatul Laela

Sri Rahayu Lestari

SMPN 2 Wonorejo Kab. Pasuruan, email: dyah_hope@yahoo.co.id

Biologi, FMIPA UM, email: sri.rahayu.lestari@bio.um.ac.id

ABSTRAK

Kualitas pembelajaran yang dilakukan di SMPN2 Wonorejo masih rendah, oleh karenanya guru yang mengikuti Lesson Study berbasis MGMP selalu berusaha meningkatkan kualitas pembelajaran dengan berbagai RPP yang direncanakan bersama. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran siswa kelas VII A di SMPN 2 Wonorejo dengan menerapkan Lesson Study. Penelitian ini menggabungkan Lesson Study dan Penelitian Tindakan Kelas. Subyek penelitian siswa kelas VIIA berjumlah 43 siswa. Data kualitas pembelajaran berupa aktivitas diskusi kelompok dan presentasi lisan, sedangkan data hasil belajar adalah tes setelah 3 kali pertemuan (disebut ter akhir siklus. Hasil penelitian menunjukkan terjadi peningkatan kualitas dan hasil belajar siswa kelas VIIA SMPN 2 Wonorejo.

Kata kunci: Lesson Study, kualitas pembelajaran

PASANG SURUT MOTIVASI GURU-GURU

DALAM MENGIKUTI KEGIATAN LESSON STUDY (LS)

DI HOME BASE KEJAYAN KABUPATAN PASURUAN

Izatul Laela

Sri Endah Indriwati

SMPN 2 Wonorejo Kab. Pasuruan, email: dyah_hope@yahoo.co.id

Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang

ABSTRAK

Peningkatan mutu pendidikan di kabupaten Pasuruan dilaksanakan melalui Lesson Study (LS) dengan berbasis MGMP (bidang studi). LS berbasis MGMP di Home Base Kejayan telah dilakukan selama lebih kurang 3 tahun. Selama pelaksanaan kegiatan tersebut motivasi guru-guru peserta MGMP mengalami peningkatan dan penurunan. Faktor-faktor yang menjadi latar belakang peningkatan motivasi diantaranya adalah kontribusi dosen pendamping, siswa yang sangat kooperatif, adanya kejelasan pembiayaan, dukungan dari kepala sekolah, serta peningkatan kualitas dan kelengkapan portofolio untuk program sertifikasi guru. Sedangkan faktor-faktor yang menjadi latar belakang menurunnya motivasi guru diantaranya adalah pergantian fasilitator, dosen pendamping yang berganti-ganti, ketidakjelasan pembiayaan, serta alasan-alasan yang bersifat pribadi lainnya.

Kata kunci: motivasi, pasang surut

PROGRAM LESSON STUDY BERBASIS SEKOLAH

DI SMP NEGERI 2 BANGIL

H. Johnno Effendie, S.Pd, M.Si

Drs. H. M. Firdaus Effedi

Supriyadi, S.Pd

SMP Negeri 2 Bangil

ABSTRAK

Dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan, pada tahun 2005 pemerintah dan DPR RI telah mengesahkan undang-undang RI no. 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen. Undang-undang tersebut menuntut penyesuaian penyelenggaraan pendidikan dan pembinaan guru agar menjadi guru professional. Adapun untuk bisa diakui sebagai guru profesional, seorang guru harus memiliki 4 kompetensi yaitu, kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional dan kompetensi sosial.

Guna memenuhi tuntutan tersebut, maka di SMP Negeri 2 Bangil memilih Lesson study untuk dapat meningkatkan profesional guru dan meningkatkan kualitas belajar siswa, mengapa harus melalui lesson study ?

Lesson study merupakan salah satu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun learning community. (Ibrohim,2008: makalah disajikan pada Workshop LSBS di SMPN 2 Bangil),

LSBS ini bertujuan untuk meningkatkan profesional guru SMPN 2 Bangil dan meningkatkan kualitas pembelajaran di SMP Negeri 2 Bangil dan memberi pelayanan terbaik untuk anak didik dan masyarakat melalui kegiatan open lesson dan dilanjutkan dengan refleksi.

Manfaat Lesson Study; antara lain, Bagi Guru : Terciptanya saling belajar antar guru yang lebih baik (sharing knowledge), guna meningkatkan kualitas pembelajaran, yang meliputi pemanfaatan media, penerapan model/strategi pembelajar, dll, bagi siswa; Meningkatkan motivasi siswa untuk belajar dan Melatih siswa untuk aktif bertanya, atau mengemukakan ide-ide kreatifnya dalam pembelajaran.

Walaupun demikian masih ada kendala-kendala yang dihadapi antara lain:

a. Sekitar 20% guru masih enggan mengikuti kegiatan LS, walaupun sudah menjadi program sekolah.

b. Masih ada anggapan bahwa LS adalah penampilan pembelajaran sesaat, sehingga ketika tidak ada kegiatan openclass, guru kembali mengajar seperti semula

c. Dari siswa, kendalanya adalah masih ada siswa yang kurang aktif / termotivasi walaupun sudah diberi pengarahan dan dorongan.

d. Keterbatasan dana sekolah berkaitan dengan pengembangan program LSBS, mengingat penarikan sumbangan dari siswa mengalami hambatan.

Tetapi Kami yakin ada jalan untuk mengatasi kendala-kendala diatas, semua demi kemajuan Pendidikan di SMP2 Bangil khususnya dan nantinya akan ikut ambil bagian untuk kemajuan Pendidikan di Kabupaten Pasuruan.

Kata kunci : lesson study, basis sekolah

NGUNDHUH WOHING PAKARTI

PERSPEKTIF LESSON STUDY DALAM KACAMATA GURU MULOK BAHASA JAWA

Dra. Karti Tuhu Utami

SMP Negeri 1 Bangil

ABSTRAK

LS sebagai suatu pendekatan, teknik, atau metode telah dipilih dan diterapkan di Jepang dan AS. LS merupakan suatu cara efektif yang dapat meningkatkan kualitas mengajar guru dan aktivitas belajar siswa. Selain itu, LS yang didesain dengan baik akan menghasilkan guru yang profesional dan inovatif.

Sehubungan hal itu, di sekolah penulis SMPN 1 Bangil dengan bimbingan fasilitator/guru-guru MIPA memikirkan & mencoba menerapkan LS untuk semua mapel yang dijadwalkan 2 minggu sekali di tiap Sabtu pk.11.30 WIB s.d selesai.

Ngundhuh Wohing Pakarti, apa yang bisa diambil dari penerapan LS tsb?  Dari Segi Guru: plan, do, see. Plan, perencanaan menjadi 5S (sistematis, serius, santai, selesai, senyum). Do, pelaksanaan pembelajaran menjadi 3T (terbuka, terkontrol, terdeteksi). See, kegiatan refleksi merupakan ajang guru model untuk 3D (aktualisasi diri, introspeksi diri, percaya diri).

Dari Segi Siswa: keaktifan, minat, dan motivasi belajar meningkat.

Dari Segi Sekolah: membantu KS dalam supervisi/kunjungan kelas, membantu guru dalam menyusun perencanaan pembelajaran, meningkatkan profesionalisme guru, meningkatkan kegiatan belajar siswa,  dan meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah.

Kata kunci: Ngundhuh Wohing Pakarti, Lesson Study, Guru Bahasa Jawa

UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF THINK PAIR SHARE (TPS) DI KELAS VIII SMP NEGERI PURWOSARI 2 PASURUAN

Khoiro Luaelik

Siti Mukaromah

Sri Endah Indriwati

SMPN 2 Purwosari

SMP PGRI Purwosari

Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang

ABSTRAK

Amanah Permendiknas RI No. 41 tahun 2007 tentang standar proses menyatakan bahwa pembelajaran seyo­gya­nya di­lakukan secara interaktif, inspiratif, menyenang­kan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Hal ini berbeda dengan kenyataan yang peneliti temu­kan, bahwa berdasar pengamatan diperoleh informasi bahwa motivasi dan hasil belajar sebagian besar siswa SMP Negeri 2 Purwosari masih rendah, proses pembelajaran Biologi belum terpusat pada siswa (Student centered). Hal itu karena kelas masih menggunakan metode ceramah (Teacher centered), atau membahas Lembar Kerja Siswa (LKS) sehingga siswa tidak terlalu aktif dalam pembelajaran dan kurang menimbulkan motivasi dalam diri siswa untuk belajar Biologi. Hal tersebut berdampak pada hasil belajar siswa yang menunjukkan bahwa ketuntasan belajar siswa baik secara individu maupun klasikal rendah.

Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan strategi pembelajar­an yang dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Strategi pembelajaran yang diterapkan dalam penelitian ini adalah pembelajaran kooperatif model Think Pair Share (TPS). Pembelajaran ini memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit, memberikan siswa waktu lebih banyak untuk berpikir, menjawab, dan saling membantu sama lain. Saat pertanyaan diajukan ke seluruh siswa, setiap siswa memiliki kesempatan yang sama untuk memikirkan jawaban dari pertanyaan sebelum dilaporkan kepada kelompoknya.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan motivasi dan hasil belajar Biologi siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Purwosari melalui penerapan pembelajaran kooperatif model TPS. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari tiga siklus. Penelitian dilakukan di SMPN 2 Purwosari pada bulan Januari sampai Maret 2009. Data penelitian berupa motivasi belajar siswa diperoleh melalui observasi pada setiap siklus, sedangkan data hasil belajar siswa diperoleh melalui tes pada setiap akhir siklus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi belajar siswa mengalami peningkatan, dan hasil belajar siswa juga menunjukkan peningkatan.

Kata kunci: Kooperatif TPS, motivasi, hasil belajar

PENGARUH PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA

Khoirul Faizin

SMPN 2 Winongan Kab. Pasuruan

ABSTRACT

The purposes of this research are to test: (1) whether the students who were taught by using jigsaw type got better achievement in mathematics than those who were taught using conventional model, (2) whether the students who had high learning motivation got better achievement than the students who had average learning motivation, and whether the students who had average learning motivation got better achievement than the students who had low learning motivation, (3) the significance of interaction effect between learning model and learning motivation toward the achievement in mathematics.The research method applied is eksperimental method with factorial design 2×3. This research subject is the student of class VIII of SMPN 2 Winongan and SMPN 1 Lumbang Pasuruan Regency. In the process of the experiment, the experimental group was given mathematics lesson using jigsaw cooperative learning model while the control group was using conventional model. Both groups were given a learning motivation enquette and a pretest previously. After the experiment was conducted, both groups were given achievement test of mathematics. Then, the data was analyzed using two ways Anava then continued with Tukey test. The result of data analysis showed that: (1) the students who were taught by using jigsaw type got better achievement in mathematics than those who were taught using conventional model, (2) the students who had high learning motivation got better achievement than the students who had average learning motivation, and the students who had average learning motivation got better achievement than the students who had low learning motivation, (3) there is interaction effect between learning model and learning motivation toward the achievement in mathematics. As the conclusion, teachers, especially mathematics teachers can apply this jigsaw cooperative learning model as one alternative to increase student’s achievement. Moreover, teachers are expected to increase their student’s learning motivation.

Keywords : jigsaw cooperative learning model, learning motivation, mathematics achievement

PENGEMBANGAN KOMPETENSI GURU IPA

MELALUI LESSON STUDY: STUDI KASUS

Lia Yuliati

Jurusan Fisika FMIPA UM; Email: liayuliati_um@yahoo.com

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kompetensi guru IPA SMP melaksanakan pembelajaran IPA di sekolah. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus dengan menggunakan metode deskriptif. Penelitian dilaksanakan pada 8 guru IPA yang meliputi 6 guru peserta program sertifikasi jalur pendidikan IPA yang sedang mengikuti kegiatan Pemantapan Kemampuan Mengajar (PKM) di Universitas Negeri Malang dan 2 guru dari sekolah mitra UM. Instrumen penelitian yang digunakan adalah angket, prosedur wawancara, dan lembar observasi Lesson Study. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi guru IPA mengalami peningkatan. Peningkatan tersebut terjadi pada kemampuan guru merencanakan pembelajaran 76%, kemampuan melaksanakan pembelajaran 68%, dan kemampuan mengevaluasi pembelajaran 60%. Guru mengalami kemajuan yang cukup baik dalam pemahamannya terhadap model-model pembelajaran, baik secara teori maupun implementasinya.

Kata kunci: kompetensi guru IPA, lesson study

PENINGKATAN KUALITAS PELAKSANAAN PEMBELAJARAN DENGAN RPP HASIL REVIEW

(PENGALAMAN MENJADI GURU MODEL PELATIHAN FASILITATOR)

Luluk Nur Alfiyah

Sri Rahayu Lestari

SMPN 1 Pandaan,Email: luluk.spanda@yahoo.co.id,

Biologi, FMIPA-UM, Email:sri.rahayu.lestari@bio.um.ac.id

ABSTRAK

Kegiatan Lesson study berbasis sekolah (LSBS) telah dilakukan di SMPN 1 Pandaan. Tiga tahap utama dalam Lesson Study yang dilakukan adalah (1)Perencanaan (Plan),(2) Pelaksanaan (Do), dan (3) Melihat kembali/Refleksi (See). Ketiga tahapan itu dilakukan berulang ulang dan terus menerus sehingga merupakan siklus yang tak pernah berakhir dengan harapan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Kegiatan penunjang yang dilakukan untuk mendukung peningkatan kualitas juga dilakukan melalui pelatihan fasilitator MGMP – JICA. Pada semester ganjil 2009 diadakan pelatihan fasilitator bekerja sama dengan JICA dan UM telah melakukan perubahan tahap yaitu (1) Perencanaan(Plan 1), (2) Pelaksanaan (Do 1), (3) Melihat kembali/Refleksi (See 1), Perencanaan Revisi RPP (Plan 2), Pelaksanaan revisi RPP (Do 2), Melihat kembali/Refleksi (See 2). Penulis pada pelatihan fasilitator pertama yang diadakan 5-6 Mei 2009 menjadi guru model dengan materi fotosintesis dengan menerapkan revisi RPP. Hasil RPP pertama ketika open class siswa masih bingung antara hasil praktikum dengan teori yang didapat karena RPP ini bertujuan untuk membuktikan hasil fotosintesis. Hasil open class setelah RPP direvisi siswa lebih memahami keberhasilan dan kegagalan hasil praktikum fotosintesis dengan analisis faktor-faktor yang mempengaruhi fotosintesi karena revisi RPP ini lebih menekankan pada segi menemukan bukan membuktikan suatu percobaan. Dengan demikian terjadi peningkatan kualitas pelaksanaan pembelajaran apabila RPP hasil plan pertama direvisi dan diperbaiki untuk kegiatan pembelajaran berikutnya.

KAJIAN TENTANG HASIL BELAJAR SISWA KELAS XI SMA NEGERI 7 MALANG YANG DIBELAJARKAN DENGAN METODE INKUIRI TERBIMBING PADA MATERI POKOK HIDROLISIS GARAM

Drs. Mahmudi, M.Si

Drs. I Wayan Dasna, M.Si, M.Ed., Ph.D

Siti Norlaelatuzzuhro

Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang

ABSTRAK

Pembelajaran kimia menurut KTSP menggunakan prinsip-prinsip dasar pendekatan konstruktivistik yang menekankan pada proses mengkonstruk dan mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap ilmiah. Penelitian bertujuan untuk mendeskripsikan perbedaan hasil belajar siswa yang dibelajarkan dengan metode inkuiri terbimbing dan metode konvensional. Penelitian menggunakan rancangan penelitian eksperimental semu. Variabel terikat dalam penelitian adalah hasil belajar siswa, variabel bebasnya adalah metode pembelajaran yaitu metode inkuiri terbimbing dan konvensional, sedangkan variabel kontrolnya adalah waktu pembelajaran dan materi yang diajarkan. Subyek penelitian adalah siswa kelas XI IA-1 dengan jumlah 37 siswa sebagai kelas eksperimen dan kelas XI IA-2 dengan jumlah 37 siswa sebagai kelas kontrol SMA Negeri 7 Malang. Instrumen yang digunakan dalam penelitian antara lain: RPP, LKS, tes, angket,. Keterlaksanaan proses pembelajaran dianalisis secara deskriptif kuantitati menggunakan teknik persentase, sedangkan data hasil belajar dianalisis secara kuantitatif menggunakan uji-t dengan ? = 0,05 dan uji prasyarat analisis. Reliabilitas tes hasil belajar = 0,032 untuk soal obyektif dan 0,882 untuk soal subyektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan hasil belajar, kerja ilmiah, dan sikap ilmiah siswa yang dibelajarkan dengan metode inkuiri terbimbing dan metode konvensional. Hasil uji-t hasil belajar diperoleh nilai thitung = 16,7 (> ttabel = 1,99), Berdasar uji statistik diketahui bahwa kelas eksperimen mempunyai hasil belajar, yang berbeda secara signifikan dengan kelas kontrol.

Kata kunci: inkuiri terbimbing, hasil belajar, kerja ilmiah, sikap ilmiah

PENERAPAN MODEL JIGSAW PADA MATERI PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN: PENGALAMAN OPEN CLASS LESSON STUDY

DI SMP NEGERI 2 GEMPOL

Masniyah

Lilis Suryani

Siti Zubaidah

SMPN 2 Gempol Pasuruan

Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang

ABSTRAK

Pembelajaran IPA-Biologi dengan model jigsaw telah dilaksanakan pada saat open class lesson study di SMP Negeri 2 Gempol Pasuruan dengan materi Pertumbuhan dan Perkembangan. Sebelum open class, telah dilaksanakan kegiatan plan untuk merancang perangkat pembelajaran. Setelah open class yang dihadiri para observer dari guru peserta lesson study dan dosen pembimbing dari UM, dilakukan refleksi. Hasil refleksi setelah pembelajaran menunjukkan bahwa model pembelajaran kooperatif jigsaw dapat meningkatkan keaktifan siswa. Diketahui pula bahwa ketuntasan belajar siswa melalui post-test juga cukup tinggi setelah menggunakan model pembelajaran kooperatif jigsaw dengan nilai 80 – 100, hanya seorang siswa yang perlu remidi karena mendapat nilai 50. Lesson study juga telah dirasakan membawa manfaat bagi guru dan siswa.

Kata kunci: model jigsaw, lesson study,post-test

PENGALAMAN MENGIKUTI LESSON STUDY

DI HOME BASE KEJAYAN

Mintono

SMPN 1 Wonorejo Pasuruan

ABSTRAK

Lesson study dalam Bahasa Indonesia diartikan studi pembelajaran. Melalui studi pembelajaran para guru berkolaborasi melakukan pengkajian bagaimana merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran di kelas nyata dan melakukan diskusi refleksi untuk mendapat umpan balik dalam rangka meningkatkan pembelajaran berikutnya. Tulisan ini memaparkan pengalaman penulis ketika mengikuti kegiatan Lesson Study di home base Kejayan Pasuruan. Permasalahan-permasalahan yang terjadi pada Lesson Study di Home Base Kejayan, faktor-faktor pendukung yang terjadi pada Lesson Study di Home Base Kejayan, serta manfaat yang penulis rasakan dari kegiatan Lesson Study. Pada akhir tulisan juga penulis tuliskan harapan dan saran tentang Lesson Study.

Kata kunci: Lesson Study, pembelajaran, Kejayan.

PEMANFAATAN TUTOR DAN KONSELOR SEBAYA UNTUK MENINGKATKAN AKTIFITAS DAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS VIIIE SMPN 2 GARTI TAHUN PELAJARAN 2008/2009

Muchammad Muchlis, S.Pd

Jalali, S.Pd

SMPN 2 Grati

ABSTRAK

Aktifitas belajar siswa dapat dilihat dari seberapa banyak siswa bertanya, menjawab pertanyaan, dan mengemukakan ide. Dengan memanfaatkan tutor sebaya ternyata aktifitas tersebut dapat meningkat dari tidak biasa bertanya (hampir 0 aktifitas) menjadi 5 kali aktifitas (bertanya, menjawab, dan mengemukakan) tiap siswa per pertemuan. Demikian pula konselor sebaya dapat digunakan cara yang efektif untuk mengetahui dan menyusun rencana awal tindak lanjut siswa yang bermasalah dalam belajar secara pribadi. Pemanfaatan tutor dan konselor sebaya ternyata juga dapat meningkatkan hasil belajar siswa sebesar 160% (dari rata-rata kelas 29,3 menjadi 81).

Kata kunci : turor, konselor sebaya

BERBAGAI MASALAH YANG MUNCUL DAN SOLUSINYA DALAM PELAKSANAAN LESSON STUDY

OLEH GURU-GURU SMP PADA PEMBELAJARAN IPA

DI KABUPATEN PASURUAN

Drs. Mudjihartono

Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang

ABSTRAK

Kegiatan Lesson Study oleh guru-guru SMP yang tergabung dalam MGMP IPA Kabupaten Pasuruan sudah berlangsung hampir 3 tahun, namun dalam pelaksanaannya masih sering kita temukan masalah-masalah yang muncul yang bisa menghambat jalannya proses pembelajaran siswa dan menjauhkan dari tercapainya tujuan pembelajaran, serta dapat mengganggu pelaksanaan program Lesson Study itu sendiri.

Dalam dua tahun pelaksanaan Lesson Study di Kabupaten Pasuruan, penulis yang saat itu bertindak sebagai pendamping guru-guru IPA SMP yang sedang melaksanakan kegiatan Lesson Study, menemukan beberapa permasalahan sebagai berikut: (1) Langkah-langkah kegiatan pembelajaran yang tertulis di LKS yang disusun guru model dkk, masih ada beberapa yang tidak/kurang mengarah pada tujuan pembelajaran yang telah ditentukan, sehingga dapat menimbulkan miskonsepsi pada diri siswa, (2) Langkah-langkah kegiatan pembelajaran yang tertulis di LKS yang disusun oleh guru model dkk, tidak/ kurang memberi petunjuk tentang cara pengamatan/pengukuran yang tepat dan benar, sehingga dapat menimbulkan kesalahan prosedural/prinsip dan akkibatnya data yang dioeroleh tidak valid, (3) Masih sering terjadinya ketidaktepatan waktu antara alokasi waktu pelaksanaan dengan alokasi waktu yang direncanakan dalam RPP, (4) Di SMP-SMP Swasta masih banyak yang tidak/kurang memiliki peralatan untuk Percobaan IPA yang memadai, (5) Masih adanya beberapa Kepala Sekolah yang kurang mendukung pelaksanaan program kegiatan Lesson Study.

Setelah melalui berbagai pembahasan dalam forum Refleksi dengan guru-guru SMP kelompok MGMP IPA materi Fisika di berbagai tempat kegiatan dan analisis pendamping/ penulis, diperoleh kesimpulan-kesimpulan sebagai berikut. (1). Dalam menyusun langkah-langkah kegiatan dalam LKS, agar tidak menimbulkan miskonsepsi pada siswa, maka hen- daknya sebelum LKS tersebut digunakan untuk siswa, terlebih dulu dimintakan kritik dan saran dari guru lain yang bidang studinya sama. Selain itu sebelum digunakan oleh siswa, LKS tersebut perlu dicoba dulu oleh gurunya sendiri, (2) Dalam menyusun langkah-langkah kegiatan dalam LKS IPA, hendak­nya memuat cara pengamatan/pengukuran yang tepat dan benar, agar tidak terjadi kesalahan pengamatan/ pengukuran yang fatal sehingga data yang diperoleh bisa valid. Selain itu bisa juga sebelum melakukan kegiatan percobaan IPA, perlu diadakan dulu latihan pengamatan/ pengukuran menggunakan alat-alat IPA yang tepat dan benar, (3)Agar ketidaktepatan rencana alokasi waktu dalam RPP dengan pelaksanaannya di kelas, maka disarankan pada saat menyusun kegiatan dalam RPP/LKS percobaan IPA tidak perlu membelajarkan banyak konsep, mungkin sedikit saja konsep yang perlu dipelajari siswa, sehingga waktu percobaan cukup longgar, ada waktu sisa untuk pemantapan konsep pada siswa dan tidak ada penguasaan konsep yang tertunda di lain hari, (4) Agar SMP-SMP Swasta yang kebanyakan tidak/kurang memiliki peralatan untuk percobaan IPA yang memdai, untuk jangka panjang pengadaan dana perlu diprogramkan secara rutin setiap tahun, sehingga lama-kelamaan akan menjadi lengkap dengan jumlah yang memadai. Sedangkan untuk jangka pen- dek bisa diadakan kerjasama dengan SMP Negeri yang peralatan IPA-nya cukup lengkap, (5) Peranan Kepala Sekolah dalam mendukung kegiatan Lesson Study sangat diperlukan.

Oleh karna itu agar semua Kepala Sekolah dapat mendukung kegiatan Lesson Study, maka perlu diadakan pemantapan tentang wawasan pentingnya Lesson Study bagi Kasek-Kasek yang kurang mendukung jalannya kegiatan Lesson Study.

Kata kunci : masalah yang muncul, Solusi, dan Lesson Study

No comments yet

WORKSHOP PENGEMBANGAN PPL BERBASIS LESSON STUDY

FMIPA Universitas Negeri Malang mulai tanggal 19 sampai dengan 30 April 2009 menyelenggarakan Workshop Pengembangan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) berbasis Lesson Study.
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan/kualitas mengajar guru yang pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa
Workshop ini diikuti oleh 675 peserta terdiri dari 436 mahasiswa yang akan melaksanakan PPL di sekolah, 144 Guru Pamong, dan 95 Dosen Pembimbing Lapangan. Pelaksanaan kegiatan selama 3 minggu di kampus, dan selebihnya dilaksanakan di sekolah-sekolah yang tersebar di Malang, Kediri, dan Blitar.

Lesson study merupakan suatu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun learning community.

Menurut Drs. Ibrohim, M.Si, secara konseptual lesson study mudah dipahami. Artinya seorang guru yang ingin belajar lesson studi sebagai suatu system membangun kemampuan guru secara berkelanjutan atau continous Proffesional Development (CPD) harus belajar dan melakukan secara sungguh-sungguh dan terus menerus. Lesson studi sebenarnya merupakan suatu cara mengubah budaya kerja guru. Dari guru atau dosen yang umumnya bersifat tertutup dalam melakukan tugas pembelejaran kini harus mau selalu terbuka dan melakukan sharing secara kolaboratif dengan kolegianya.

******

BEBERAPA KEGIATAN DOSEN FMIPA

1. Berdasar surat Senior Principal Assistant Registrar Admissions and Record Section Universiti Malaya – Kuala Lumpur Malaysia, Dr. Makbul Muksar, S.Pd, M.Si, dosen Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang (UM), mulai tanggal 29 Januari sampai dengan 27 Maret 2009 mengikuti research study di faculty of Education University of Malaya – Kuala Lumpur Malaysia. Keikutsertaan dosen FMIPA ini diharapkan dapat mengambil manfaat untuk pengembangan khususnya di FMIPA UM.

2. Delapan dosen FMIPA UM, masing-masing Prof. H. Suhadi Ibnu, M.A., Ph.D; Drs. I Wayan Dasna, M.Si, M.Ed., Ph.D; Dr. Toto Nusantara, M.Si; Drs. Tjang Daniel Chandra, M.Si., Ph.D; Drs. Arif Hidayat, M.Si., Ph.D; Dr. Markus Diantoro, M.Si; Dr. Mohamad Amin, S.Pd, M.Si; dan Dr. Fatchur Rohman, M.Si, pada tanggal 19 s.d 21 Januari 2009 melaksanakan kegiatan pendampingan pengembangan sekolah unggulan Yayasan Pendidikan Cendana di Pekanbaru Riau. Kegiatan ini merupakan realisasi program kerjasama antara Universitas Negeri Malang dengan Yayasan Pendidikan Cendana di Pekanbaru Riau dalam pengembangan sekolah unggulan ini.

3. Rektor Universitas Negeri Malang menugaskan dosen FMIPA, masing-masing Dr. Lia Yuliati, M.Pd; Drs. Dwi Hariyoto; dan Drs. Dwiyono Hari Utomo, M.S., M.Pd, sebagai fasilitator dalam kegiatan Training of Trainer (TOT) Paket Pelatihan Mata Pelajaran IPA Sekolah Dasar (SD)/ Madrasah Ibtidaiyah (MI), yang dilakasanakan pada tanggal 19 s.d 23 Januari 2009 di Hotel Purnama Kota Batu Malang. Program ini merupakan realisasi kerjasama antara Universitas Negeri Malang dengan Koordinator Provinsi DBE 2 Jawa Timur

*****

33 MAHASISWA FMIPA MENDAFTAR PROGRAM GELAR GANDA

Pada semester Genap 2008/2009, sebanyak 33 mahasiswa FMIPA UM, masing-masing 1 orang dari Jurusan Matematika, 24 orang dari Jurusan Fisika, 5 orang dari Jurusan Kimia, dan 3 orang dari Jurusan Biologi, berminat dan mendaftar sebagai mahasiswa pengambil program Gelar Ganda di FMIPA UM.

Program Gelar Ganda diselenggarakan dengan maksud memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memiliki dua bidang keahlian, yaitu bidang kependidikan dan non-kependidikan dalam bidang studi/bidang ilmu yang sama.
Adapun besar kredit tambahan yang harus ditempuh sekurang-kurangnya 36 sks dan sebanyak-banyaknya 55 sks, dengan lama studi maksimal 17 semester terhitung mulai terdaftar sebagai mahasiswa UM bagi masukan SLTA. Sebagai persyaratan lainnya adalah mahasiswa peserta program ini adalah mahasiswa UM masukan SLTA yang lulus sekurang-kurangnya 110 sks dengan IPK > 2,50.

No comments yet

KUNJUNGAN IMPLEMENTASI METODE PEMBELAJARAN SAINS

FMIPA Universitas Negeri Malang bekerjasama dengan Faculty of Education, Okayama University, Japan, pada tanggal 23 Desember 2008 mengadakan kegiatan pembelajaran sains di SMPN 1 Malang.

Kegiatan ini merupakan Exchange Program in Environmental Education yang telah dilaksanakan sejak tahun 2006. Salah satu bentuk kegiatan ini adalah melakukan pembelajaran sains di sekolah.

Tim yang berkunjung ke SMPN 1 Malang ini terdiri dari 6 orang guru dari Okayama Prefecture, 4 orang mahasiswa Postgraduate Okayama University yang dipimpin Prof Masakazu Kita. Dari Universitas Negeri Malang diwakili oleh Dra. Sri Rahayu, M.Ed, dan Drs. Prayitno, M.Pd.

Topik yang diajarkan meliputi: (1) Membuat alat sederhana untuk mengukur konsentrasi larutan, (2) Membuat alat pembanglkit listrik, dan (3) Menguji konsentrasi larutan sabun.

CERAMAH KURIKULUM PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP

Dr. Agr. Moh. Amin, M.Si, dosen Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang, pada tanggal 10 Desember 2008 ditugaskan Lembaga Penelitian Universitas Negeri Malang untuk memberikan ceramah tentang Kurikulum Pendidikan Lingkungan Hidup Papua di Sasana Krida, Kantor Gubernur Dok II, Jayapura.

Ceramah ini dilaksanakan dalam rangka sosialisasi implementasi kurikulum muatan local (Mulok) Pendidikan Lingkungan Hidup Papua.

FMIPA DALAM EMPAT TAHUN TERAKHIR MELULUSKAN 2199 ORANG

Terhitung mulai Semester Gasal 2004/2005 sampai dengan Semester Genap 2007/2008 ( tiga tahun terakhir), FMIPA Universitas Negeri Malang telah meluluskan 2199 orang.

Terhitung mulai Semester Gasal 2004/2005 sampai dengan Semester Genap 2007/2008 ( tiga tahun terakhir), FMIPA Universitas Negeri Malang telah meluluskan 2199 orang.

Secara rinci, sebagai berikut:

Tahun Akademik         Kependidikan           Murni          Jumlah
2004/2005                                                              Mahasiswa

Semester Gasal                  118                     83              2822

Semester Genap                   54                     30

Semestr Pendek                  191                  100

Tahun Akademik 2005/2006

Semester Gasal                     81                    78                2857

Semester Genap                    99                    27

Semestr Pendek                  182                    84

Tahun Akademik 2006/2007

Semester Gasal                      92                   80                2990

Semester Genap                     80                   34

Semestr Pendek                    171                  96

Tahun Akademik 2006/2007

Semester Gasal                     123                  65               3193

Semester Genap                      62                  26

Semestr Pendek                    167                  75

Top of page / Subscribe to new Entries (RSS)